DPC PDI Perjuangan Jombang Buka Ruang Dialog Kebangsaan Lewat Diskusi “Melihat Indonesia”

Forum ini diikuti ratusan kader partai serta perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jombang. Diskusi juga dihadiri Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sadarestuwati, yang mendampingi narasumber utama.

31 Jan 2026 - 22:14
DPC PDI Perjuangan Jombang Buka Ruang Dialog Kebangsaan Lewat Diskusi “Melihat Indonesia”
Forum diskusi DPC PDI Perjuangan bertema tentang Indonesia menghadirkan pembicara mantan Dewasa KPK. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Jombang menyelenggarakan forum diskusi bertajuk ‘Melihat Indonesia’ untuk memperluas ruang dialog kebangsaan, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan yang digelar di aula kantor DPC tersebut menghadirkan tokoh hukum nasional Prof. Dr. Hardjono, mantan Hakim Mahkamah Konstitusi dan Anggota Dewan Pengawas KPK.

Forum ini diikuti ratusan kader partai serta perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jombang. Diskusi juga dihadiri Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sadarestuwati, yang mendampingi narasumber utama. Melalui paparan Prof. Hardjono, peserta diajak mencermati kondisi penegakan hukum, demokrasi, dan tantangan kebangsaan terkini.

Ketua DPC PDI Perjuangan Jombang, Sumrambah, menegaskan forum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menyelaraskan perspektif dalam membaca situasi nasional. 

"Pemikiran kritis dan objektif sangat dibutuhkan agar perjuangan kebangsaan tetap berada pada rel ideologi Pancasila," ujar Politikus yang karib disapa mas Rambah itu. 

Mas Rambah menyoroti pentingnya rekam jejak Prof. Hardjono yang luas, termasuk sebagai mantan Dewan Pengawas KPK dan akademisi FH Universitas Airlangga. 

"Kita tidak bisa melihat Indonesia hari ini dengan kacamata sempit. Fakta harus dibedah secara jujur untuk menentukan langkah strategis ke depan demi terwujudnya keadilan sosial," tegasnya.

Ia menilai perjuangan mewujudkan cita-cita kemerdekaan menghadapi tantangan serius dari kelompok-kelompok yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan. 

"Konsistensi mengamalkan Pancasila adalah kunci menghadapi tekanan global yang kompleks. Ke depan, nasionalis tidak boleh terkotak-kotak. Persatuan adalah syarat utama menjaga Indonesia tetap kokoh," tambah Mas Rambah. 

Dalam pemaparannya, Prof. Hardjono menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa besar yang tidak lahir secara tiba-tiba. 

"Awalnya dimulai dari dialog para 'founding fathers' yang mengkristal menjadi kesadaran kolektif. Pemuda masa itu, yang usianya lebih muda dari generasi sekarang, memikul beban sejarah yang besar," papar Prof Hardjono. 

Ia menyebut inspirasi perjuangan kebangsaan salah satunya adalah Sumpah Pemuda yang mengandung semangat persatuan luar biasa.

"Persoalan di Indonesia bukanlah persoalan suku, agama, atau ras, melainkan persoalan kebangsaan. Kesadaran inilah fondasi utama gerakan nasional," jelasnya.

Prof. Hardjono melanjutkan, perjuangan kebangsaan kemudian berkembang melalui pembentukan organisasi sekitar dua dekade setelah momentum awal. 

"Perjuangan memerlukan struktur, strategi, dan kesadaran kolektif," ujarnya. 

Ia juga menyoroti peran konteks global seperti Perang Dunia II yang membuka ruang bagi Indonesia untuk menyatakan kemerdekaan. 

"Berbeda dengan negara lain yang kemerdekaannya ‘diberikan’, Indonesia merebut kemerdekaan dengan perjuangan sendiri. Inilah kebanggaan nasional yang tidak ternilai," bebernya. 

Mengenai identitas nasional, Prof. Hardjono menyebut bahasa Indonesia sebagai kekuatan pemersatu dari Sabang sampai Merauke. 

"Indonesia dibangun sebagai negara kebangsaan dengan dasar Pancasila yang bukan sekadar teks hafalan, melainkan pedoman hidup bernegara," tegasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa mewujudkan keadilan sosial sebagai tujuan negara masih menghadapi tantangan. 

"Membangun karakter nasional bukan perkara mudah. Hingga kini, kita masih berhadapan dengan tantangan tata kelola pemerintahan, hubungan pusat-daerah, hingga persoalan integrasi wilayah," ujarnya.

Pada sesi interaktif dengan mahasiswa, sejumlah isu strategis seperti integritas lembaga negara, penguatan demokrasi, serta peran aktif masyarakat menjadi topik utama. Prof. Hardjono menutup dialog dengan pesan, 

"Sejarah bukan untuk disakralkan secara seremonial, melainkan untuk dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan berbangsa. Tantangan ke depan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berempati, dan berkeadilan," tandasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow