Festa 2025: LAC dan Wisma Jerman Menyapa 2025 Lewat Pameran Lukisan Anak
Pameran LAC Festa Exhibition 2025 tidak hanya menjadi media pembelajaran bagi anak-anak, melainkan juga menjadi media untuk meningkatkan apresiasi seni pada anak.
SURABAYA, SJP - Pameran seni, terutama yang melibatkan anak-anak, menjadi sebuah pengalaman yang mampu meningkatkan apresiasi seseorang terhadap keunikan setiap karya. Dalam ruang kecil penuh warna, mimpi dan kreativitas anak-anak menghadirkan sebuah dunia yang tak terhingga.
Pada awal 2025 ini, Lotus Art Courses Festa Exhibition hadir sebagai penanda tahun baru dengan semangat baru. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Lotus Art Courses (LAC) yang berkolaborasi dengan Wisma Jerman Surabaya.
Bertempat di Ruang Halle Wisma Jerman, pameran ini menghadirkan 44 karya peserta yang berusia mulai 4 hingga 16 tahun. Beragam kreativitas anak-anak diluapkan tanpa batas tema, menciptakan kanvas-kanvas yang memancarkan kebebasan berekspresi.
Menurut I Putu Mahendra, pendiri sekaligus guru di Lotus Art Courses, pameran ini adalah bentuk apresiasi dan pembelajaran bagi anak-anak. Baginya, pameran tidak hanya melatih keberanian, melainkan juga mampu meningkatkan apresiasi seni pada anak.
"Di tahun genap kemarin kita sudah tutup dengan Final Exhibition, dan di tahun ganjil ini kita sengaja adakan pameran lagi untuk anak-anak LAC yang baru daftar di Januari 2025," ungkap Putu, Selasa (21/1/2025).
"Nantinya, ini akan jadi program rutin agar semua anak bisa merasakan pengalaman berpameran. Ini juga untuk membangun rasa percaya diri mereka, karena karya mereka dilihat dan diapresiasi oleh orang di luar keluarga dan guru," imbuhnya.
Putu menambahkan, bahwa pameran yang diadakan kali ini memang ditujukan untuk mengenalkan budaya baru kepada peserta maupun pengunjung, yakni karya seni tidak hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga bisa diapresiasi secara kolektif.
Semangat tersebut terlihat dalam setiap detail pemeran. Putu menjelaskan bahwa ukuran kanvas seragam 50x50 cm dipilih untuk menciptakan harmoni dalam pameran. Namun, teknik dan medium dibiarkan bebas agar peserta dapat mengeksplorasi kreativitas mereka sepenuhnya.
"Jadi kita juga adakan kegiatan lain seperti lomba dan melukis On The Spot (OTS) bersama, nanti pemenang akan membawa piala berbahan kayu berbentuk bunga teratai yang dirancang khusus, melambangkan logo, juga filosofi Lotus Art Courses," ucap Putu.
Sementara itu, Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber, yang menjadi tuan rumah pameran, turut memberikan apresiasinya. Dirinya sangat mengapresiasi LAC karena memiliki semangat budaya yang sama dengan semangat Wisma Jerman.
"Salah satu lukisan yang menarik perhatian saya adalah gambar rumah jamur, yang mengingatkan saya pada dunia dongeng," ujarnya.
"Saya sangat terkesan dengan karya-karya yang dipamerkan. Meskipun tidak ada tema khusus, kebebasan ini justru melahirkan karya yang penuh imajinasi," tandas Mike.
Bagi peserta, pameran ini menjadi pengalaman yang sangat berarti. Reynold, seorang anak berusia 11 tahun, membagikan cerita tentang karyanya yang ia kreasikan selama 3 hari.
"Aku gambar Pokémon sama dinosaurus, karena suka nonton kartunnya,” ujarnya dengan antusias.
Reynold yang juga sudah pernah meraih prestasi di kejuaraan internasional, mengaku senang bisa ikut serta dalam pameran ini dan ingin mengulanginya di masa depan.
"Aku gambar yang lain dan ingin ikut pameran seperti ini lagi," ucap Reynold dengan lugu.
Pameran ini membuktikan bahwa seni bukan hanya soal hasil, tetapi juga proses. Anak-anak yang berani menampilkan karyanya di depan umum telah belajar lebih dari sekadar menggambar; mereka belajar tentang keberanian, apresiasi, dan ekspresi diri.
Dengan filosofi seperti bunga teratai yang terus tumbuh di atas air, Lotus Art Courses Festa Exhibition 2025 tidak hanya membuka tahun baru, tetapi juga membuka jalan bagi generasi muda untuk terus berkarya dan menghargai seni. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

