Fenomena Bediding Melanda Jawa Timur, Suhu di Pos Bromo Tembus 5,3°C

Hawa pagi terasa makin menggigit di Jawa Timur; fenomena bediding datang lagi, dengan suhu ekstrem seperti di Bromo yang menyentuh 5,3°C pada puncak musim kemarau tahun ini.

14 Jul 2025 - 21:46
Fenomena Bediding Melanda Jawa Timur, Suhu di Pos Bromo Tembus 5,3°C
Suhu di Gunung Bromo tercatat anjlok hingga 5,3°C pada Juli 2025 akibat fenomena bediding yang melanda Jawa Timur (Freepik)

SURABAYA, SJP - Warga Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir merasakan hawa dingin yang lebih menusuk dari biasanya, terutama saat dini hari hingga pagi. Tidak terkecuali di Kota-kota yang biasanya memiliki suhu hangat hingga panas seperti Kota Surabaya.

Tak sedikit warga menyebut fenomena tersebut sebagai "bediding", yakni istilah lokal untuk menyebut suhu lingkungan yang turun drastis saat musim kemarau. Fenomena itu tak hanya soal rasa dingin di kulit. Di kawasan pegunungan seperti Bromo, suhu bahkan bisa mencapai titik ekstrem.

Berdasarkan data pengamatan otomatis Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), suhu di Pos Bromo pada Juli 2025 tercatat mencapai 5,3 derajat Celsius, itu merupakan suhu terendah sementara di Jawa Timur tersebut untuk tahun ini.

Fenomena Musiman

Bediding bukan hal baru. Kepala Stasiun Klimatologi UPT BMKG Jawa Timur, Anung Suprayitno, menjelaskan bahwa bediding merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi pada musim kemarau, khususnya periode Juni hingga September.

"Bediding adalah siklus yang tiap tahun terjadi. Ini merupakan istilah masyarakat untuk menyebut kondisi suhu yang lebih dingin dibanding biasanya," ucap Anung, Senin (14/7/2025).

"Di tahun 2025 ini, kemarau mengalami kemunduran dari waktu normalnya, jadi di Bulan Juli terasa lebih dingin dan muncul fenomena bediding," imbuhnya.

Fenomena tersebut muncul akibat aktifnya monsun timur dari Australia, yang membawa angin dingin dan kering menuju Indonesia. Minimnya tutupan awan juga menyebabkan panas dari permukaan bumi dengan mudah terlepas ke atmosfer saat malam hari, membuat udara terasa jauh lebih dingin keesokan paginya.

BMKG memprediksi bahwa puncak musim kemarau 2025 di Jatim diperkirakan terjadi pada bulan Agustus, dengan sifat hujan sebagian besar diprediksi atas normal.

Wilayah Selatan Katulistiwa Paling Terasa

Menurut BMKG, seluruh wilayah Indonesia yang berada di selatan katulistiwa, termasuk Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, mengalami dampak bediding. Namun, wilayah yang berada di dataran tinggi atau dekat lereng gunung seperti Bromo, Batu, dan Malang cenderung mencatat suhu yang lebih rendah secara ekstrem.

"Untuk pantauan dan sebaran suhu dingin atau mbediding di Jawa Timur, kami rutin menginformasikannya di kanal web dan media sosial,” tambah Anung.

Dampak pada Kesehatan dan Sektor Produksi

Tak hanya membuat tubuh menggigil, fenomena bediding juga memberi dampak nyata pada kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Suhu dingin dapat memicu penurunan indeks kenyamanan tubuh, memperbesar risiko gangguan pernapasan, serta memperburuk kondisi medis tertentu.

Selain itu, sektor pertanian dan peternakan juga tak luput dari pengaruhnya. Di beberapa wilayah dataran tinggi, suhu ekstrem dapat menimbulkan embun beku (frost) yang merusak tanaman dan membuat hasil panen gagal. Pada peternakan rakyat, penurunan suhu dapat mengakibatkan penyakit hingga kematian ternak akibat stres suhu.

Jadi, kalau belakangan selimut terasa semakin lengket atau malas bangun pagi karena dingin menusuk, kamu tidak sendirian, karena fenomena bediding memang lagi puncaknya. Jadi jangan lupa bawa jaket kalau keluar pagi atau malam, perbanyak minum hangat, dan pastikan tubuh tetap fit sampai udara kembali bersahabat. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow