Edukasi Seksualitas Dini di SDN Sawunggaling I, Upaya Bunda PAUD Surabaya Jaga Kota Ramah Anak

Pendidikan seksualitas sejak dini di SDN Sawunggaling I menjadi bukti nyata Surabaya menjaga predikat Kota Ramah Anak, lewat pencegahan dan perlindungan anak dari kejahatan seksual.

10 Sep 2025 - 16:44
Edukasi Seksualitas Dini di SDN Sawunggaling I, Upaya Bunda PAUD Surabaya Jaga Kota Ramah Anak
Bunda PAUD Kecamatan Wonokromo memberikan edukasi seksualitas dini kepada siswa kelas 1 SDN Sawunggaling I dengan cara yang ramah dan menyenangkan (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Pendidikan seksualitas sejak dini kerap dianggap tabu oleh sebagian orang tua, namun kenyataannya menjadi bekal penting bagi anak-anak untuk melindungi diri dari potensi kejahatan seksual. 

Sebagai salah satu kota dengan predikat Kota Ramah Anak, Surabaya terus memperkuat perlindungan terhadap anak melalui kolaborasi antara sekolah, orang tua, hingga Bunda PAUD di tingkat kecamatan dan kelurahan.

Hal itulah yang mendasari kegiatan edukasi seksualitas yang digelar di SDN Sawunggaling I Surabaya oleh bunda PAUD Kecamatan Wonokromo dan bunda PAUD Kelurahan Sawunggaling dengn menggandeng Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya.

Bunda PAUD Kecamatan Wonokromo, Maria Agustim Yuristina, menjelaskan kegiatan bahwa kegiatan tersebut fokus pada pengenalan batas tubuh anak dan cara melindungi diri. Kegiatan itu menyasar siswa kelas 1 dengan rentang usia 6 hingga 7 tahun yang mana memasuki transisi ke masa SD.

"Tujuannya adalah mengenalkan pemahaman seksualitas sejak dini. Anak-anak harus tahu bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan mana yang tidak boleh disentuh," ujar Maria, Rabu (10/9/2025).

"Kami juga melatih mereka bagaimana cara meminta tolong, misalnya berteriak, ketika menghadapi hal-hal yang membahayakan," imbuhnya.

Maria menambahkan, anak-anak yang bersekolah di SDN Sawunggaling I merupakan mereka yang tinggal di kawasan Joyoboyo dan Bumiarjo, yang sebagian besar berasal dari keluarga menengah ke bawah dan perlu mendapatkan perhatian khusus.

"Kami dari Pokja Bunda PAUD Kecamatan mendukung tenaga pengajar di SDN Sawunggaling I maupun sekolah sekitar lainnya agar lebih yakin mendampingi anak-anak masa transisi dari TK ke SD. Mereka butuh figur kuat yang bisa membimbing," terangnya.

Sementara itu, Kepala SDN Sawunggaling I, Mochamad Taukit, menyebut kegiatan yang digelar oleh bunda PAUD tingkat Kecamatan dan Kelurahan itu sebagai langkah penting sekaligus baru bagi anak-anak.

"Ini pembekalan yang luar biasa, karena anak-anak harus memahami bagaimana cara mencegah agar tidak menjadi korban kejahatan seksual," terang Taukit.

Dirinya juga membeberkan bahwa selama ini, SDN Sawunggaling I Surabaya juga melakukan pencegahan lewat parenting bersama orang tua, sosialisasi, pemasangan poster, hingga melalui pembelajaran sehari-hari agar lingkungan sekolah tetap aman dari segala bentuk kekerasan.

"Kalau soal bullying, di SDN Sawunggaling tidak ada. Kami berusaha mencegah sejak awal. Jadi bisa dikatakan stop bullying di sekolah kami," tegasnya.

Dari sisi Bunda PAUD Kelurahan Sawunggaling, Rizka Fadillah, menyampaikan bahwa pendekatan dalam upaya perlindungan anak di wilayahnya hingga menyentuh keluarga secara langsung.

"Selama ini kami juga melakukan edukasi door-to-door, datang ke rumah anak-anak yang rentan. Kami mengedukasi orang tua sekaligus anaknya. Kolaborasi dilakukan bersama sekolah, DP3A, dan pihak sosial," katanya.

Rizka menambahkan, pihaknya juga memfasilitasi anak-anak dengan kegiatan positif di lingkungan masyarakat. Bahkan, Balai RW 5 di kelurahan Sawunggaling meral digunakan sebagai tempat bermain anak saat libur sekolah.

"Di Balai RW 5, kami sering adakan dolanan bareng dan sinau bareng saat libur sekolah. Dengan begitu anak-anak tidak mencari aktivitas yang negatif. Alhamdulillah, semangat mereka luar biasa," ungkapnya.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Surabaya, Syaiful Bachri, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa predikat Kota Ramah Anak harus benar-benar diwujudkan dengan kerja nyata. 

Menurutnya, status itu tidak bisa hanya sekadar label, melainkan harus dibuktikan melalui keterbukaan dalam menangani laporan dan upaya pencegahan kekerasan terhadap anak.

"Kota Ramah Anak itu harus diperjuangkan, bukan dengan menutup-nutupi kasus, melainkan melalui penanganan laporan yang serius dan konsisten, serta langkah pencegahan yang nyata di lapangan," pesannya.

Kegiatan edukasi seksualitas dini tersebut menjadi salah satu wujud nyata komitmen Surabaya menjaga statusnya sebagai Kota Ramah Anak, dengan memberikan perlindungan menyeluruh kepada generasi muda sejak usia dini. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow