Dua Abad Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jadi Tonggak Penguatan Tradisi dan Transformasi Pesantren

Ribuan santri, alumni, dan masyarakat dari berbagai daerah memadati acara Pengajian Umum Puncak 2 Abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

26 Oct 2025 - 12:15
Dua Abad Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jadi Tonggak Penguatan Tradisi dan Transformasi Pesantren
Sejumlah tokoh agama dan tokoh nasional yang hadir pada acara perayaan 2 Abad PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Perayaan penuh hikmah sejarah panjang Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Sabtu malam (25/10/2025) di Halaman Gedung Serbaguna Hasbullah Said dihadiri lautan manusia. Ribuan santri, alumni, dan masyarakat dari berbagai daerah memadati acara Pengajian Umum Puncak 2 Abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Momentum sakral ini tak sekadar perayaan usia, tetapi juga napak tilas peradaban pesantren yang telah mengarungi dua abad. Dengan tema “Mewariskan Daya Juang, Berkhidmah Membangun Peradaban”, suasana terasa haru dan khidmat. Lampu panggung berpadu dengan lantunan salawat, menciptakan atmosfer yang syahdu dan berwibawa.

Acara bersejarah ini dihadiri deretan tokoh penting nasional, seperti Wakil Presiden RI 2019–2024 Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Menko Bidang Pangan RI Dr. H. Zulkifli Hasan, Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak, serta Pengasuh PP Amanatul Ummah Mojokerto Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim. Kehadiran mereka memberi warna dan energi tersendiri bagi ribuan hadirin.

Dari Pesantren Kampung Menjadi Cahaya Peradaban

Berdiri sejak 1825, PP Bahrul Ulum telah melewati tiga zaman. Dari pesantren sederhana di kampung Tambakberas, ia menjelma menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Dua abad bukan sekadar angka, melainkan bukti warisan perjuangan para kiai yang membangun peradaban dengan keyakinan, akhlak, dan ilmu.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Bahrul Ulum Tambakberas, Wafiyul Ahdi, menegaskan bahwa peringatan dua abad ini bukan sekadar seremoni. “Ini adalah momentum untuk menunjukkan kontribusi santri bagi pembangunan bangsa,” ujar Gus Wafi dalam pesan diterima, Ahad (26/10/2025). 

Pria yang akrab disapa Gus Wafi itu menambahkan, lulusan pesantren bukan hanya mampu mengaji, tetapi juga bisa tampil di berbagai lini untuk menjawab tantangan zaman modern. Memasuki abad ke-3, PPBU telah melakukan berbagai langkah transformasi agar tetap relevan, termasuk penguatan kualitas pendidikan berbasis teknologi.

“Kami menyiapkan sistem pendidikan yang mumpuni untuk menjawab tantangan era artificial intelligence (AI). Santri harus adaptif, inovatif, dan siap bersaing,” tegasnya.

Suasana nostalgia terasa malam itu. Para santri muda duduk berdesakan dengan buku catatan, berharap memperoleh hikmah dari para tokoh. Sementara alumni yang telah puluhan tahun meninggalkan pesantren kembali hadir, seakan dipanggil oleh kenangan masa lalu.

Puncak peringatan 2 Abad PPBU ini bukanlah akhir, melainkan awal babak baru. Abad ketiga menanti dengan tantangan besar: digitalisasi, AI, globalisasi, dan tuntutan lahirnya generasi muslim yang cerdas, moderat, serta berdaya saing global. Tema “Mewariskan Daya Juang” terasa menancap kuat, menyampaikan pesan tersirat bahwa perjuangan para kiai tak boleh putus di tangan generasi penerus.

Pesantren Sebagai "Pabrik Kiai" dan Tokoh Bangsa

Wakil Presiden RI 2019–2024, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, menyatakan kegembiraannya dapat menghadiri malam istimewa tersebut. “Dua Abad Bahrul Ulum menjadi pabrik kiai yang terus memproduksi kiai. Sudah berapa banyak kiai yang dihadirkan selama dua abad? Itu investasi yang luar biasa,” ujarnya di hadapan ribuan hadirin.

Menurutnya, jika pondok pesantren hancur, maka "pabrik kiai" akan berhenti. Ia juga menyoroti sosok visioner KH. Wahab Hasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, yang memiliki visi besar dalam membangun pesantren.

“Tidak hanya memproduksi kiai, pesantren telah bertransformasi dan melahirkan banyak tokoh bangsa. Tambakberas telah melahirkan banyak profesor, politisi, dan bahkan presiden, karena Gus Dur juga pernah nyantri di Tambakberas,” ujarnya.

Malam itu, bukan hanya doa yang naik ke langit Tambakberas. Harapan, janji, dan cita-cita turut terbang bersama gema salawat, agar Bahrul Ulum terus menjadi mercusuar ilmu, akhlak, dan peradaban Islam Nusantara. (*)

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow