Suguhkan Makanan Basi, Sikap 'Bebal' Pengelola SPPG di Jombang Ancam Kesehatan Siswa

Kritik atas menu dan makanan basi yang disampaikan guru maupun siswa tak kunjung mendapat perbaikan, justru diabaikan.

24 Jul 2026 - 12:50
Suguhkan Makanan Basi, Sikap 'Bebal' Pengelola SPPG di Jombang Ancam Kesehatan Siswa
Lokasi SPPG tempat pengolahan makanan yang dikeluhkan oleh murid dan guru di Jombang. (Fredi/SJP)

JOMBANG, SJP – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ma'hadul Muta'allimin di Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menuai keluhan dari siswa dan guru. Kritik atas menu dan makanan basi yang disampaikan guru maupun siswa tak kunjung mendapat perbaikan, justru diabaikan.

Salah seorang Penanggung Jawab (Person in Charge/PIC) MBG di salah satu sekolah wilayah Kecamatan Diwek yang enggan disebutkan namanya mengaku menerima banyak laporan dari siswa maupun guru piket terkait kualitas menu makanan. Laporan yang masuk dalam kurun waktu sekitar dua minggu terakhir menemukan kondisi menu lauk yang monoton, yakni daging ayam setiap hari.

"Anak-anak mulai komplain karena selama dua minggu lauknya ayam terus. Banyak yang tidak mau mengambil ompreng, bahkan ada yang hanya mengambil buahnya saja," ujar sumber dalam pesan yang ditulis wartawan, Jumat (24/7/2026).

Pihaknya telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak penyedia. Namun, belum terlihat adanya evaluasi maupun perubahan menu yang signifikan. Bahkan pada Selasa (22/7/2026) kemarin, tumis sayur yang diterima siswa diduga sudah dalam kondisi basi.

"Semuanya basi. Begitu dibuka baunya sudah menyengat dan tidak layak dimakan," ungkapnya.

Sekitar pukul 09.00 WIB, saat ompreng makanan dibuka sebelum didistribusikan kepada siswa, guru piket mencium aroma tidak sedap seperti sudah basi. Melihat hal itu, pihak sekolah mengambil tindakan penghentian pembagian makanan dan melarang seluruh siswa mengonsumsinya.

"Kami langsung stop. Tidak boleh ada yang makan karena baunya sudah tidak karuan. Penampakannya juga sudah seperti terlalu lama dimasak dan tidak layak konsumsi," katanya.

Ia menegaskan, keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada siswa.

"Saya sampai menyampaikan, kalau nanti ada anak yang keracunan atau sakit perut, siapa yang bertanggung jawab?" ujarnya.

Menurut narasumber, setelah kejadian tersebut pihak sekolah berharap ada klarifikasi maupun permintaan maaf secara resmi dari pengelola SPPG. Namun hingga kini, belum ada penyampaian resmi kepada sekolah-sekolah penerima.

Selain persoalan menu dan kualitas makanan, sekolah juga mempertanyakan penghentian distribusi susu dalam program MBG. Sebelumnya susu rutin diberikan setiap hari Kamis. Namun sejak dimulainya semester baru, distribusi susu disebut telah berhenti selama sekitar dua minggu tanpa adanya surat resmi.

"Anak-anak bertanya kenapa sekarang tidak ada susu. Kami juga bingung menjawab karena hanya ada informasi melalui WhatsApp," katanya.

Menurut informasi yang diterima sekolah, penghentian tersebut merupakan kebijakan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Namun hingga kini sekolah mengaku belum menerima surat atau pemberitahuan resmi sebagai dasar penyampaian kepada siswa maupun wali murid.

Narasumber juga mengungkapkan, tingkat makanan yang tidak dikonsumsi siswa cukup tinggi. Pada hari ketika ditemukan dugaan makanan basi, diperkirakan hampir 80 persen makanan tidak dimakan. Sementara pada hari-hari biasa, sekitar separuh siswa disebut enggan menghabiskan makanan karena merasa menu kurang bervariasi dan cita rasanya kurang sesuai.

"Anak-anak sering bilang makanannya tidak ada rasanya dan tidak enak. Menunya juga ayam, wortel, ayam, wortel hampir setiap hari," tuturnya.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi dari rekan-rekannya di sekolah lain, terdapat SPPG lain yang dinilai mampu menyajikan menu lebih beragam.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala SPPG Yayasan Ma'hadul Muta'allimin, Hakul, telah dilakukan. Wartawan mendatangi langsung lokasi SPPG di Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum dapat memberikan keterangan.

Saat didatangi, salah seorang penjaga SPPG menyampaikan bahwa Ketua SPPG sedang mengikuti rapat melalui Zoom bersama Badan Gizi Nasional (BGN) sehingga belum dapat ditemui.

"Mohon maaf, Pak Hakul masih rapat Zoom dengan BGN, belum bisa ditemui. Bisanya besok," ujar penjaga SPPG. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow