Dolly: Dari Bayang-Bayang Lokalisasi ke Kampung Kreatif Digital

Dulu, Dolly gemerlap oleh kehidupan malam. Kini, suaranya bergema lewat podcast, merekam kisah baru tentang kreativitas, digitalisasi UMKM, dan harapan bagi komunitas yang bangkit dari bayang-bayang lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.

13 Feb 2025 - 21:49
Dolly: Dari Bayang-Bayang Lokalisasi ke Kampung Kreatif Digital
Ruang Srawung, studio podcast di eks-lokalisasi Dolly, menjadi simbol transformasi dari gemerlap malam menuju kreativitas digital (Dok. PCU/SJP)

SURABAYA, SJP - Suatu masa, nama Gang Dolly begitu dikenal seantero negeri. Bukan karena prestasi atau inovasi, melainkan karena ia adalah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. 

Deretan rumah bordil, lampu neon berpendar di malam hari, dan lalu-lalang pengunjung dari berbagai kota menjadi pemandangan khasnya. Sejak era 1970-an, Dolly menjadi magnet industri prostitusi yang bergerak dalam bayang-bayang gelap, meski roda ekonomi berputar kencang di sana.

Namun, tak ada yang abadi, termasuk Dolly dalam rupa lamanya. Pada 2014, Pemerintah Kota Surabaya menutup lokalisasi ini dalam upaya memberantas prostitusi dan mengubah wajah kawasan tersebut. 

Penutupan itu menyisakan kebingungan bagi ribuan orang yang selama ini menggantungkan hidupnya pada roda ekonomi lokalisasi, dari pekerja seks hingga pedagang kecil di sekitar. Masa depan Dolly seakan buram.

Sepuluh tahun berselang, cahaya baru perlahan muncul di sudut-sudut bekas lokalisasi ini. Identitas lama mulai terkikis, digantikan dengan semangat baru: kreativitas, kemandirian, dan inovasi. Kini, di jantung kawasan eks-Dolly, berdiri sebuah studio podcast bernama Ruang Srawung, yang menjadi simbol perubahan zaman.

Dari Ruang Kosong Menjadi Ruang Bersuara

Di lantai dua Balai RW 12 Kelurahan Putat Jaya, ruangan yang dulu hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan barang kini telah berubah total. Dengan mikrofon profesional, pencahayaan yang memadai, dan ruang khusus siaran langsung, Ruang Srawung menjadi fasilitas digital modern yang dikelola oleh Karang Taruna setempat.

Studio ini hadir berkat inisiatif dari mahasiswa Petra Christian University (PCU) melalui program Urban Community Outreach Program (COP) Surabaya 2025 yang berlangsung sejak awal Januari hingga Februari. Program ini bukan sekadar proyek pembangunan fisik, tetapi juga pelatihan keterampilan digital bagi warga sekitar, terutama anak muda.

“Podcast adalah media yang sangat relevan di era digital saat ini. Dengan podcast, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi mereka tanpa batasan ruang dan waktu, membangun jaringan yang lebih luas, serta memperkenalkan komunitas mereka kepada dunia luar,” ujar Astri Yogatama, selaku Dosen Pendamping Lapangan (DPL) program ini, Kamis (13/2/2025).

Selain membangun studio, para mahasiswa juga menggelar pelatihan personal branding, strategi pemasaran digital, hingga keterampilan public speaking. Semua ini disiapkan agar generasi muda Putat Jaya tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga kreator dalam dunia digital.

Menyulap Stigma Menjadi Peluang

Transformasi Dolly bukan perkara mudah. Stigma sebagai bekas lokalisasi masih melekat, dan bagi sebagian orang, menghapus jejak masa lalu bukan hal yang bisa dilakukan dalam semalam. Namun, Ruang Srawung berupaya membalikkan narasi itu.

“Dulu, orang mengenal Dolly sebagai tempat prostitusi. Sekarang, kami ingin dikenal sebagai komunitas kreatif dan inovatif,” ujar Cahyo Andrianto, Ketua RW 12 Kelurahan Putat Jaya.

Lebih dari sekadar ruang berbicara, podcast ini juga berfungsi sebagai media promosi bagi pelaku usaha kecil menengah (UMKM) di kawasan Dolly. Salah satu program unggulannya adalah sesi review produk lokal, di mana warga dapat memperkenalkan produk mereka ke audiens yang lebih luas.

“Nantinya, podcast ini akan membahas strategi bisnis lokal, peluang usaha, serta sesi berbagi pengalaman dari pelaku UMKM dan tokoh masyarakat. Harapannya, lewat podcast ini bisa mendatangkan pelanggan yang lebih banyak,” tambah Cahyo.

Digitalisasi Ekonomi Warga Eks-Dolly

Langkah Karang Taruna RW 12 ini menunjukkan bahwa transformasi kawasan tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga perubahan pola pikir dan cara beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Bagi warga eks-Dolly yang dulu bergantung pada ekonomi lokalisasi, kehadiran Ruang Srawung adalah jembatan menuju era baru. Digitalisasi kini menjadi alat pemberdayaan ekonomi, di mana UMKM bisa memanfaatkan podcast sebagai media pemasaran yang lebih luas dan efektif.

Lebih dari itu, Ruang Srawung juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengasah keterampilan berbicara, membangun kepercayaan diri, dan memperluas jaringan. Mereka tidak lagi tumbuh di lingkungan yang pasif menerima stigma, melainkan lingkungan yang aktif membangun identitas baru.

Dolly: Kisah Baru yang Sedang Ditulis

Hadirnya studio podcast ini hanyalah satu bab dari kisah baru yang sedang ditulis di Dolly. Ia menjadi bukti bahwa transformasi tidak selalu harus dengan pembangunan gedung-gedung megah, tetapi bisa dimulai dari ruang-ruang kecil yang memiliki makna besar.

Dulu, suara yang mendominasi Dolly adalah gemuruh kehidupan malam. Kini, suara itu berubah menjadi diskusi, edukasi, dan promosi kreativitas. Dengan setiap episode yang direkam dan disiarkan, warga Dolly membuktikan bahwa mereka telah melangkah maju, meninggalkan bayang-bayang masa lalu, dan menatap masa depan dengan penuh harapan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow