Disporabudpar Nganjuk Gelar Boyong Natapraja dari Kota Lama Berbek
NGANJUK, SJP—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk kembali menggelar Boyong Natapraja di tahun 2025 dengan rute Alun-Alun Berbek menuju Pendapa KRT Sosro Koesoemo pada Kamis (12/6/2025).
Boyong Natapraja merupakan peringatan pemindahan ibu kota Kabupaten Berbek ke kota Nganjuk: diawali dari pemindahan dua pusaka, yakni tombak Kiai Jurang Penatas dan payung Kiai Tunggul Nogo dari Pendapa Balai Desa Kacangan menuju Pendapa Alun-Alun Berbek.
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menjelaskan sejarah perjalanan Pemkab Nganjuk atau Boyong Natapraja Berbek ke Nganjuk pada Minggu Wage, 6 Juni 1880.
Pada saat itu bertepatan dengan tanggal 27 Jumadil Akhir, Wawu 1809, Angka Jawa, Wuku Kuningan, masa Karolas, Windu Adi, di wilayah Kabupaten Berbek telah terjadi peristiwa bersejarah yang besar.
Menurut Marhaen, saat itu terjadi perpindahan pejabat (nayakapraja) dan ibu kota Kabupaten Berbek ke Kota Nganjuk.
"Namun proses pemindahan tersebut dilaksanakan sesuai dengan adat Jawa, ini dilakukan demi keselamatan semuanya,” ujarnya.
Marhaen menjelaskan, perpindahan pejabat dan ibu kota Berbek ini, ditemukan dalam dokumen salinan surat laporan Residen Kediri Meyer kepada Gubernur Jenderal pada tanggal 8 Juni 1880, dengan nomor surat 3024a/4205.
“Untuk landasan perintah memindahkan ibu kota Berbek ke Nganjuk Governements besluit van 8 Juni 1875 no. 20. (Surat keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 20 tertanggal 8 Juni 1875) yang diterima Bupati Raden Sumowiloyo,” urainya
Selain itu, kata Marhaen, peristiwa yang populer disebut boyongan, terjadi pada era Bupati Sosrokusumo (III). Saat itu, dia menjabat sebagai Bupati Berbek pada tahun 1878–1901 yang juga putra dari Bupati Berbek Raden Tumenggung Sumowiloyo.
“Artinya, pada 145 tahun lalu, ibu kota Kabupaten Berbek yang semula bertempat di Kabupaten Berbek berpindah di Kota Nganjuk. Dengan keluarnya undang-undang No. 310 tahun 1928 tertanggal 9 Agustus 1928 No. 1X dan diundangkan pada 21 Agustus 1928 yang berlaku semenjak 1 Januari 1929, nama Kabupaten Berbek yang beribu kota di Nganjuk berubah menjadi Kabupaten Nganjuk,” urainya.
Ditambahkan Marhaen, hal itu ditandai dengan berdirinya Dewan Kabupaten Nganjuk (Regenchapsraad Ngandjoek). Pada tanggal 1 Januari 1929, Kadipaten Berbek lebur menjadi Kabupaten Nganjuk dan beribu kota di Nganjuk hingga sekarang.
Peristiwa boyong nayakapraja dan ibu kota Berbek ke Kota Nganjuk ini dirayakan oleh Pemkab Berbek. Seperti ditemukan dalam dokumen berupa foto peringatan Boyong ke-50, pada tahun 1930.
"Peringatan Boyong ke-50 tahun tersebut dirayakan dengan mengarak replika pendapa Kabupaten Berbek, sejumlah peralatan kantor dan beduk,” bebernya.
Kepala Dinas Porabudpar Kabupaten Nganjuk, Sri Handariningsih mengatakan, Boyong Natapraja di Alun-Alun Berbek ke Nganjuk tahun 2025 ini dilaksanakan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat Nganjuk.
Yang hadir yaitu mulai dari pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah (OPD), pelajar, dan masyarakat. Peringatan diawali dari Kota Lama Berbek menuju Kota Baru Nganjuk.
"Untuk tahun ini, anggaran pada kegiatan ini dibebankan pada DPA Disporabud tahun 2025 dalam kegiatan Boyong Natapraja di Nganjuk," kata Sri Handariningsih.
Selama perjalanan, rombongan bupati dan wakil bupati diiringi oleh puluhan kereta kuda. Kereta kuda itu akan dikendarai oleh kepala OPD hingga tokoh masyarakat Nganjuk.
“Kami akan berangkat menuju ke Pendapa Pemkab Nganjuk bersama rombongan,” tambahnya.
Diketahui, prosesi boyong natapraja dan sedekah bumi berlangsung sangat meriah, penuh khidmat dan sakral dengan menampilkan parade budaya yang memukau, mulai dari pawai budaya, pertunjukan drumband, hingga komunitas seni lokal serta dihadiri pasukan bregada, yang meliputi:
- Bregada Umbul-umbul
- Bregada Prawira Anom
- Bregada Jemparing Langenastra
- Bregada Jayeng Sekar
- Bregada Songsong Buwana
Selain itu, rangkaian prosesi ini, menampilkan peraga pembawa lampu gantung atau ublik, tokoh pembuka lawang, pembawa uborampe dan sesaji, serta pembawa menyan, hio, dan bunga, hingga tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan doa. (ADV)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

