Di Tengah Isu Paparan Paham Radikal Remaja, SMAN 9 Surabaya Rayakan HUT ke-60 dengan Ruang Ekspresi Positif

Di tengah temuan 11 remaja Jawa Timur terpapar neo-Nazi, SMAN 9 Surabaya merayakan HUT ke-60 dengan panggung kreativitas siswa sebagai benteng dari paparan paham radikal digital.

14 Jan 2026 - 17:41
Di Tengah Isu Paparan Paham Radikal Remaja, SMAN 9 Surabaya Rayakan HUT ke-60 dengan Ruang Ekspresi Positif
Siswa SMA Negeri 9 Surabaya menampilkan Tari Gandrung dalam rangkaian HUT ke-60 sekolah (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Di tengah kekhawatiran meningkatnya paparan paham radikal pada remaja akibat derasnya arus teknologi dan media digital, SMA Negeri 9 Surabaya memilih merespons dengan cara berbeda. 

Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 sekolah tersebut dijadikan ruang ekspresi positif bagi siswa songomania, sekaligus penguatan karakter agar pelajar tidak mudah terjerumus pada ideologi ekstrem.

Paparan Radikalisme Remaja Jadi Alarm

Isu radikalisme pada anak dan remaja belakangan menjadi sorotan serius. Aparat keamanan melalui Densus 88 Antiteror Polri dan BNPT mencatat sedikitnya 60 anak di Indonesia terpapar paham ekstrem, termasuk muatan neo-Nazi, melalui ruang digital dan komunitas daring. 

Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sekitar 11 anak teridentifikasi per Januari 2026, menempatkannya di posisi ketiga secara nasional setelah DKI Jakarta (15 anak) dan Jawa Barat (12 anak). 

Paparan tersebut umumnya tidak terjadi melalui jalur konvensional, melainkan lewat media sosial, gim daring, dan forum digital yang kerap dibungkus dengan narasi estetika, kebebasan berekspresi, atau komunitas eksklusif. 

Kondisi tersebut mendorong sekolah-sekolah untuk tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga menyediakan ruang aktualisasi diri yang sehat bagi siswa.

HUT Sekolah Jadi Momentum Berekspresi

Merespons situasi itu, SMA Negeri 9 Surabaya menggelar perayaan HUT ke-60 dengan mengusung tema koboi dengan tujuan agar siswa lebih berani berekspresi.

Kepala SMA Negeri 9 Surabaya, Tri Kurniawati, menegaskan bahwa perayaan HUT kali ini sepenuhnya dirancang sebagai panggung bagi siswa untuk menampilkan bakat dan minat mereka, mulai dari seni, olahraga, hingga akademik dan non-akademik.

"Untuk kegiatan hari ini, seluruh kemampuan anak-anak, bakat dan minatnya ditampilkan. Jadi ini benar-benar dari kita dan untuk kita," ujar Tri, Rabu (14/1/2026).

Ia menjelaskan, konsep yang diangkat dalam HUT ke-60 itu sepenuhnya hasil rancangan siswa. Pihak sekolah dengan sengaja memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk berkreasi dan berinovasi, agar energi dan emosi mereka tersalurkan secara positif.

"Kami memberikan kebebasan anak-anak untuk berekspresi, berkreasi, dan berinovasi. Dari tema koboi itu, ternyata bisa diambil nilai-nilai positif seperti keberanian, kebersamaan, dan kesuksesan," katanya.

Menurutnya, meski mengangkat budaya global, sekolah tetap melakukan penyaringan nilai. Yang ditonjolkan bukan simbol, melainkan semangat perjuangan dan kerja keras untuk meraih masa depan.

Sekolah Sadar Ancaman Radikalisme Digital

Pendamping kegiatan sekaligus pemerhati pendidikan, Syaiful Bachri atau Kak Iful yang merupakan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya secara terbuka mengaitkan kegiatan HUT SMAN 9 dengan isu radikalisme yang kini menyasar remaja.

"Sekarang banyak isu anak-anak terpapar radikalisme, bahkan ada muatan neo-Nazi yang masuk. Kemarin tercatat sekitar 60 anak secara nasional, dan di Jawa Timur ada 11," ungkapnya.

Ia menilai, kegiatan positif seperti HUT sekolah menjadi salah satu cara efektif untuk mengantisipasi paparan tersebut. Dengan memfasilitasi potensi dasar siswa, sekolah dapat memperkuat ketahanan mental dan sosial remaja di tengah derasnya teknologi.

"Ini cara SMA Negeri 9 mengantisipasi. Dengan teknologi yang terus berkembang, kita tetap memacu potensi dasar anak-anak lewat kegiatan positif," ucapnya.

Tema Koboi dari Perspektif Siswa

Ketua OSIS SMAN 9 Surabaya, Cinta Kirana Faradela, menjelaskan bahwa pemilihan tema koboi bukan tanpa alasan. Tema tersebut dinilai merepresentasikan nilai yang selama ini melekat pada SMAN 9 Surabaya.

"Tema koboi identik dengan kebersamaan, keberanian, dan perjuangan. Tiga nilai itu juga yang kami lihat ada di diri siswa-siswi SMA Negeri 9 Surabaya," kata Cinta.

Ia menyebutkan, perayaan HUT ke-60 itu melibatkan seluruh warga sekolah. Panitia berasal dari OSIS dan MPK kelas 10 dan 11, sementara siswa kelas 12 yang kini fokus ujian tetap turut berpartisipasi memeriahkan dan menikmati acara.

"Ini menjadi perubahan dan keistimewaan di ulang tahun ke-60. Harapannya, SMA Negeri 9 semakin berkembang dan melahirkan siswa berprestasi, baik akademik maupun non-akademik," ujarnya.

Kolaborasi Siswa dan Guru Perkuat Kebersamaan

Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMAN 9 Surabaya, Angie Ramadhani, menambahkan bahwa perayaan HUT juga diisi dengan berbagai bentuk kolaborasi lintas elemen sekolah, termasuk penjualan merchandise hasil ide siswa.

"Untuk HUT kali ini, kami juga menjual merchandise seperti mug, stiker, gantungan kunci, dan lanyard. Semua desain dan ide dari OSIS MPK," jelas Angie.

Tak hanya siswa, para guru juga turut terlibat aktif, mulai dari menari hingga membentuk band sebagai penutup acara. Hal tersebut dinilai positif karena menunjukkan bahwa guru juga aktif berperan.

"Tidak ada kesulitan mengajak guru. Mereka juga ingin memeriahkan ulang tahun SMA. Jadi benar-benar semua warga Songo terlibat," katanya.

Di tengah kekhawatiran terhadap paparan paham radikal pada remaja Jawa Timur, perayaan HUT ke-60 SMAN 9 Surabaya menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi benteng awal melalui pendekatan kultural dan kreatif.

Dengan memberi ruang aktualisasi, membangun kebersamaan, dan memperkuat karakter, SMAN 9 Surabaya berupaya memastikan siswa tidak mencari identitas dan pengakuan di ruang digital yang berisiko, melainkan tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang sehat, inklusif, dan berdaya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow