Defisit Neraca Dagang Jatim Capai USD 746 Juta, Sektor Migas Jadi Biang Kerok di 5 Bulan Pertama 2025
Defisit sektor migas yang mencapai USD 1,81 miliar menyeret total neraca perdagangan ke zona negatif.
SURABAYA, SJP - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat neraca perdagangan Jawa Timur sepanjang Januari hingga Mei 2025 mengalami defisit sebesar USD 746,72 juta.
Angka tersebut muncul akibat nilai impor yang masih lebih tinggi dibanding ekspor selama lima bulan pertama tahun ini.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa defisit itu bukan disebabkan oleh sektor perdagangan utama seperti industri atau pertanian, melainkan karena kinerja perdagangan sektor migas yang terus negatif.
"Defisit neraca perdagangan ini terjadi karena sektor migas masih mengalami minus yang sangat besar. Sektor nonmigas justru masih surplus," ujar Zulkipli, Kamis (17/7/2025).
Tercatat bahwa nilai ekspor Jatim Januari–Mei 2025 mencapai USD 11,24 miliar, meningkat 9,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Ekspor nonmigas menyumbang hampir seluruhnya dengan nilai USD 11 miliar, naik 11,04 persen secara tahunan. Kendati demikian, nilai impor Jatim masih lebih besar, yakni mencapai USD 11,98 miliar.
Zulkipli menjelaskan bahwa kinerja perdagangan nonmigas sebenarnya menunjukkan perkembangan positif.
"Ekspor nonmigas kita unggul, dengan nilai USD 11 miliar lebih tinggi dari impor nonmigas yang hanya USD 9,93 miliar. Ini artinya, kalau tanpa migas, neraca perdagangan kita masih surplus sekitar USD 1,06 miliar," tambahnya.
Sayangnya, defisit sektor migas yang mencapai USD 1,81 miliar menyeret total neraca perdagangan ke zona negatif. Nilai impor migas pada periode Januari–Mei 2025 mencapai USD 2,05 miliar, sementara nilai ekspor migas jauh lebih kecil.
Negara Tujuan dan Komoditas Utama Dagang
Meski sempat ada gejolak perihal tarif pajak barang sepanjang awal tahun 2025, Data BPS juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih menjadi mitra dagang utama Jawa Timur, disusul dengan Tiongkok.
Ekspor nonmigas terbesar menuju Amerika Serikat (USD 1,51 miliar) dan Tiongkok (USD 1,39 miliar), dengan komoditas utama seperti ikan dan kayu ke AS, serta minyak nabati dan tembaga ke Tiongkok.
Di sisi impor, barang dari Tiongkok mendominasi, dengan nilai mencapai USD 3,34 miliar (33,60% dari total impor nonmigas).
"Negara-negara tujuan ekspor kita tumbuh positif. Tapi barang impor dari Tiongkok dan negara pemasok migas masih mendominasi," kata Zulkipli.
BPS menyebut bahwa secara umum kinerja ekspor cukup menjanjikan, khususnya dari sektor industri pengolahan dan pertanian. Namun kinerja sektor migas masih menjadi tantangan besar. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

