Daftar Wisata Religi di Madura yang Selalu Ramai Setiap Lebaran

Selain wisata alamnya, Madura memiliki sejumlah destinasi wisata religi yang tidak pernah sepi pengunjung. Terutama ketika momentum lebaran

01 Apr 2025 - 12:03
Daftar Wisata Religi di Madura yang Selalu Ramai Setiap Lebaran
Kompleks pemakaman Syaikhona Kholil di Masrtajasah, Kabupaten Bangkalan, Madura. (Foto: Istimewa)

SUARAJATIMPOST.COMMadura merupakan sebuah pulau di Provinsi Jawa Timur. Masyarakat suku Madura dikenal dengan pribadi yang tegas dan kuat spiritualnya. Sehingga tidak heran bila Madura dikenal religius.

Pulau Madura ini sangat terkenal dengan tradisi karapan sapi dan beragam kuliner yang bisa menggoyang lidah. Seperti sate Madura yang khas, bebek songkem, rujak petis Madura, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya terkenal dengan wisata kulinernya, ternyata Madura memiliki sejumlah destinasi wisata religi yang tidak pernah sepi oleh pengunjung. Bahkan di momentum lebaran, wisata religi di Madura selalu membeludak.

Salah satu kearifan lokal yang masih dijaga warga Madura yaitu berziarah ke makam-makam keramat atau bersejarah. Umumnya, makam-makam ini adalah makam para wali Allah. Yakni ulama dan kiai yang berperan menyebarkan agama Islam.

Berikut ini rangkuman beberapa tempat wisata religi di Madura yang dihimpun dari berbagai sumber:

Makam Syaikhona Kholil

Raden Kiai Haji Kholil sangat terkenal di kalangan umat Muslim di Jawa Timur. Terutama bagi masyarakat Madura dan warga Nahdliyyin (NU). Ulama yang familier dengan panggilan Syaikhona Kholil itu merupakan guru dari pendiri NU, yaitu KH Hasyim Asy’ari.

Makamnya berada di kawasan Martajasah, Kabupaten Bangkalan. Kini makamnya menjadi salah satu destinasi wisata religi paling populer di Madura. Makamnya berada di dalam Masjid Mubarok Murtajasah Bangkalan.

Selain bisa berziarah ke makam Syaikhona Kholil, wisatawan dapat melihat keindahan Masjid Mubarok Murtajasah. Di kawasan tersebut terdapat banyak pelaku usaha kecil yang menjual aneka oleh-oleh dan makanan khas Bangkalan.

Batu Ampar

Wisata religi Madura berikutnya adalah Batu Ampar. Yakni kompleks pemakanan para ulama yang berada di Dusun Batu Ampar, Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

Terdapat enam wali Allah yang dimakamkan di kompleks ini. Tokoh ulama penyebar agama Islam tersebut yaitu Syekh Abdul Manan (Bujuk Kosambi), Syekh Syamsudin (Bujuk Lattong), Syekh Basyaniyah (Bujuk Tumpeng), Syekh Damanhuri, Syekh Moh. Romli dan Syekh Husen.

Nama Batu Ampar berasal dari bahasa Madura. Kata “Bato” yang berarti batu dan kata “Ampar” berarti hamparan. Artinya yaitu hamparan batu. Batu yang dimaksud adalah batu tepat pertapaan ulama wali Allah di wilayah tersebut.

Wisata religi ini banyak dikunjungi peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah. Tidak hanya berziarah, pengunjung juga bisa menemukan berbagai macam oleh-oleh khas Madura. Mulai dari aneka keripik, terasi, hingga petis Madura.

Aeng Mata Ebuh (Air Mata Ibu)

Wisata religi Madura lainnya yaitu Aeng Mata Ebuh. Tempat wisata ini terletak di Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Tidak terlalu jauh dari makam Syaikhona Kholil. Terdapat kisah yang menyedihkan dari terbentuknya Aeng Mata Ebuh ini.

Dikisahkan, Cakraningrat I yang merupakan raja Madura kala itu, lebih sering menghabiskan waktunya di Mataram. Sehingga membuat istrinya, Syarifah Ambani, merasa sedih dan melakukan pertapaan di sebuah bukit di Desa Buduran, Kecamatan Arosbya.

Di tempat itu, Syarifah Ambani memohon dan berdoa agar keturunannya hingga tujuh turunan ditakdirkan menjadi penguasa pemerintahan di Madura. Ketika sedang bertapa, Allah mempertemukannya dengan Nabi Hidir.

Kepada Syarifah Ambani, Nabi Hidir kemudian menyampaikan bahwa semua permohonannya akan dikabulkan oleh Allah. Mendengar kabar baik itu, Syarifah pun sangat senang dan kembali pulang ke rumahnya.

Ketika suaminya kembali dari Mataram, Syarifah Ambani pun menceritakan mengenai kisah pertapaannya di sebuah bukit di Desa Buduran. Namun sayangnya, Cakraningkart I justru marah setelah mendengar kisah istrinya.

Cakraningkart I marah lantaran istrinya hanya berdoa agar dijadikan penguasa pemerintahan Madura sampai tujuh turunan saja. Hal itu membuat Syarifah Ambani merasa bersalah dan menangis dari pagi hingga malam tanpa henti.

Tidak disangka, amarah Cakraningkart I membuat hati istrinya begitu terluka hingga tidak henti-hentinya menangis. Air mata Syarifah Ambani terus mengalir hingga membanjiri kawasan setempat. Kemudian menjadi sumber mata air Aeng Mata Ebuh.

Makam Asta Tinggi

Tidak hanya makam dari tokoh ulama saja dimuliakan di Madura, namun makam dari para raja serta keluarganya juga tidak luput dari kunjungan wisatawan. Hal ini dikarenakan masyarakat Madura begitu terpukau dengan kharisma para pemimpinnya.

Salah satunya yaitu Makam Asta Tinggi. Makam ini terletak di bukit Kebon Agung Sumenep. Tempat ini menjadi indah karena penataan makam hingga pintu gerbangnya yang begitu artistik. Secara etimologis, “asta tinggi” berarti makam yang tinggi.

Setiap harinya, kompleks wisata ini ramai dikunjungi oleh pengunjung. Apalagi saat hari besar Islam. Namun, wisatawan yang hendak mengunjungi tempat wisata religi Madura ini, diwajibkan untuk melepaskan alas kaki.

Makam Sultan R. Abdul Kadirun

Makam Sultan R. Abdul Kadirun berada di Jalan Sultan Abdul Kadirun, Kabupaten Bangkalan. Situs makam keramat ini menjadi salah satu tempat wisata religi Madura yang wajib dikunjungi.

Selain menjadi wisata religi andalan dari Kabupaten Bangkalan, makam ini juga berada di lokasi yang sangat strategis. Karena berada tepat di jantung kota Bangkalan. Lokasinya tepat berhadapan dengan Alun-Alun Kabupaten Bangkalan dan taman bunga.

Lokasinya juga dekat dengan pusat perbelanjaan. Jika di malam hari, suasana dari makam Sultan Abdul Kadirun dan kompleks masjid agungnya seakan-akan ikut terlarut dalam sinar warna-warni lampu perkotaan.

Masjid Agung Sumenep

Masjid Agung Sumenep merupakan salah satu masjid yang terletak di Kabupaten Sumenep. Arsitektur masjid ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Madura, Jawa, Eropa, dan Tiongkok.

Mulai dari pintu gerbang utamanya, terlihat corak arsitekturnya yang sangat khas dengan nuansa kebudayaan Tiongkok. Masjid ini sudah berdiri sejak 1779. Lokasinya sangat mudah dijangkau karena berada di seberang alun-alun Kabupaten Sumenep. (**)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow