Cuaca Membaik, Jalur Pendakian Gunung Panderman dan Bokong Dibuka Terbatas

Pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Panderman dan Gunung Bokong menunjukkan upaya LMDH Wana Tani menyeimbangkan aktivitas wisata alam dengan aspek keselamatan, namun status dibuka tidak berarti bebas risiko. Kewaspadaan pendaki, kesiapan fisik, serta kepatuhan terhadap imbauan pengelola menjadi kunci utama agar pendakian tetap aman, sementara penutupan jalur Gunung Buthak menegaskan pendekatan kehati-hatian demi mencegah potensi kecelakaan di tengah kondisi alam yang belum sepenuhnya pulih

31 Jan 2026 - 19:11
Cuaca Membaik, Jalur Pendakian Gunung Panderman dan Bokong Dibuka Terbatas
Kawasan jalur Gunung Panderman Kota Batu (dok/Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Setelah hampir dua pekan ditutup akibat cuaca ekstrem, jalur pendakian Gunung Panderman dan Gunung Bokong kembali dibuka oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Tani. Pembukaan jalur tersebut dilakukan setelah melalui evaluasi kondisi cuaca serta pertimbangan aspek keselamatan pendaki.

Meski telah diizinkan kembali sejak Kamis (29/1/2026) pukul 00.00 WIB, LMDH menegaskan, pembukaan jalur dilakukan secara terbatas dengan tetap mengedepankan mitigasi risiko.

Ketua LMDH Wana Tani, Ahmad Syaifudin, Sabtu (31/1/2026) mengatakan, pemantauan cuaca menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan pembukaan jalur pendakian.

“Namun untuk jalur pendakian Gunung Buthak, hingga saat ini masih kami tutup karena membutuhkan waktu pemulihan lebih lanjut. Penutupan ini sebagai langkah pencegahan untuk menghindari risiko kecelakaan akibat kondisi jalur yang belum stabil,” ujarnya.

Selain itu, LMDH mengingatkan para pendaki agar tidak hanya berpatokan pada status jalur yang telah dibuka, tetapi juga benar-benar mempersiapkan kondisi fisik, logistik, serta perlengkapan pendakian secara matang.

Kondisi suhu dingin dan karakter medan di kawasan hutan Kota Batu dinilai masih menjadi tantangan serius bagi keselamatan pendaki. Oleh karena itu, LMDH berharap aktivitas pendakian tetap dapat berlangsung tanpa mengabaikan aspek keamanan, sekaligus menumbuhkan kesadaran pendaki untuk lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan diri dan kelestarian kawasan hutan.

“Kami mengingatkan bahwa potensi bahaya di kawasan hutan dan pegunungan belum sepenuhnya hilang, mengingat cuaca ekstrem masih bisa terjadi secara mendadak. Pendaki yang hendak naik harus memastikan kondisi fisik, logistik, dan perlengkapan dalam keadaan siap untuk menekan risiko yang tidak diinginkan,” tandasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow