Cerita Pokmaswas Rembeng Raya Pantai Mutiara Trenggalek yang Menjaga Laut dengan Hati
Terumbu karang yang pulih tak hanya menghidupkan laut, tapi juga membuka peluang baru. Kini Pantai Mutiara mulai dikenal sebagai spot diving dan snorkeling.
TRENGGALEK, SJP - Pantai Mutiara, Trenggalek, tak selalu seindah sekarang. Di balik airnya yang jernih dan ikan-ikan yang kembali hilir mudik, tersimpan cerita panjang tentang kerusakan, penyesalan, lalu tekad untuk memperbaiki.
Kacuk Wibisono, Ketua Pokmaswas Rembeng Raya, masih ingat betul bagaimana kondisi pesisir Pantai Bangkokan hingga Pantai Mutiara 2 pada era 1990an. Saat itu, terumbu karang membentang penuh dan sehat.
“Dulu itu bagus semua, Mas. Karang full, ikan banyak,” kenangnya, Senin (26/1/2026).
Namun memasuki akhir 1990an, semuanya berubah. Aktivitas pencarian lobster dengan jaring bidil, ditambah cara tangkap ikan tradisional yang keliru menggunakan pecok atau cangkul kecil saat air surut perlahan menghancurkan karang. Ironisnya, pelaku kerusakan itu adalah warga sendiri.
“Kita nyangkuli karang buat ambil ikan kecil yang nyelip di sela-sela. Niatnya untuk makan, tapi dampaknya besar,” ujar Kacuk.
Bergerak dari naluri dan rasa bersalah, Kacuk bersama beberapa rekannya, mulai melakukan konervasi. Butuh waktu bertahun-tahun sampai kesadaran itu benar-benar tumbuh. Sekitar 2009, Kacuk dan beberapa temannya mulai bergerak secara mandiri. Tanpa bantuan pemerintah, tanpa panduan resmi.
“Waktu itu relawan saja, otodidak. Kita enggak tahu jalannya,” katanya.
Baru pada 2016, lewat pendampingan dari Universitas Brawijaya dan Dinas Perikanan, mereka diarahkan membentuk kelompok resmi. Lahirlah Pokmaswas Rembeng Raya, yang hingga kini menjadi garda terdepan konservasi terumbu karang di Pantai Mutiara. Yang menarik, motivasi mereka bukan sekadar soal ekonomi.
“Ini dari hati. Naluri saja. Kalau kita berbakti sama alam, pasti ada imbal baliknya,” kata Kacuk.
Apalagi dampak kerusakan karang terasa langsung oleh nelayan pinggiran. Ikan-ikan karang seperti kerapu, kakap merah, barakuda, hingga ekor kuning makin sulit didapat. Laut yang rusak berarti dapur yang terancam.
Transplantasi terumbu karang pertama dilakukan pada 2016. Awalnya sederhana, terumbu buatan berbentuk stupa dan kubus. Seiring waktu, inovasi berkembang. Kini ada empat model transplantasi, mulai dari stupa, kubus, rak besi untuk kebun bibit, hingga biotek cinta, teknologi lokal hasil kreativitas warga sendiri.
“Kebun bibit itu penting. Jadi kalau mau tanam, kita enggak ambil dari alam lagi,” jelas Kacuk.
Terbaru, mereka juga mengembangkan Ecofish House, rumah ikan ramah lingkungan berbahan bambu.
Hasilnya perlahan terlihat. Ikan-ikan yang sempat hilang mulai kembali. Anemon dan ikan nemo sudah muncul. Ikan unik seperti punduk kuwalang yang berenang dengan kepala di bawah, lionfish merah, kerapu lumpur, kerapu macan, hingga ikan tapak bermata sebelah ikut meramaikan karang.
“Alhamdulillah, yang dulu hilang sekarang sudah masuk lagi,” ujarnya.
Terumbu karang yang pulih tak hanya menghidupkan laut, tapi juga membuka peluang baru. Kini Pantai Mutiara mulai dikenal sebagai lokasi wisata minat khusus spot diving dan snorkeling.
Dengan tarif Rp100 ribu per orang, wisatawan sudah mendapatkan perlengkapan, dokumentasi kamera, hingga perahu wisata. Satu sesi berlangsung sekitar satu jam, ditutup dengan istirahat santai di rumah Kacuk.
“Murah banget dibanding tempat lain,” kata Kacuk.
Dalam kondisi cuaca normal, kunjungan bisa mencapai sekitar 60 orang per bulan, mayoritas datang saat akhir pekan. Namun keselamatan tetap jadi prioritas. Saat cuaca buruk, aktivitas wisata langsung dihentikan.
Kini anggota Pokmaswas Rembeng Raya bertambah. Dari yang awalnya hanya 11 orang di tahun 2026 ini menjadi 22 orang. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, seperti LMI dan Pelindo. Meski begitu, Kacuk berharap dukungan tak berhenti di situ.
“Yang paling penting keberlanjutan. Support pemerintah, donatur, dan yang terakhir kesadaran masyarakat,” katanya.
Di kedalaman 2 hingga 10 meter, terumbu karang Pantai Mutiara kini kembali hidup. Sebagian alami di perairan dangkal, sebagian hasil rehabilitasi di kedalaman yang dulu rusak. Cerita Pantai Mutiara bukan sekadar soal karang. Ini tentang manusia yang pernah salah, lalu memilih belajar, memperbaiki, dan menjaga. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

