Bullying Tak Selalu di Sekolah, Ini Perilaku Orang Tua yang Bisa Melukai Mental Anak

anpa disadari, sejumlah perilaku orang tua di rumah dapat menjadi bentuk bullying yang berdampak pada kesehatan mental dan kepercayaan diri anak.

01 Jan 2026 - 18:59
Bullying Tak Selalu di Sekolah, Ini Perilaku Orang Tua yang Bisa Melukai Mental Anak
Ilustrasi bullying yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya (foto : Alodokter/SJP)

SUARAJATIMPOST.COM - Tak sedikit orang tua merasa telah melakukan yang terbaik dalam membesarkan anak. Semua keputusan diambil atas dasar kasih sayang dan niat baik. Namun, tanpa disadari, sejumlah perilaku yang dianggap sepele justru bisa melukai perasaan anak dan berdampak serius pada kesehatan mentalnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk bullying di lingkungan keluarga kerap terjadi secara halus dan tidak disadari. Padahal, rumah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun emosional.

Berikut beberapa perilaku orang tua yang tanpa sadar dapat melukai mental anak:

Memberi julukan negatif atau bercanda soal fisik
Candaan tentang bentuk tubuh atau kekurangan fisik sering dianggap wajar oleh orang tua. Namun bagi anak, kata-kata tersebut bisa menancap kuat dalam ingatan, mengikis rasa percaya diri, bahkan memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri hingga dewasa.

Mengancam atau memaksa anak menuruti kehendak orang tua
Pola asuh yang dibangun dengan ancaman dan paksaan berisiko membuat anak tumbuh dalam ketakutan. Anak bisa kehilangan keberanian untuk berpendapat dan merasa bahwa suaranya tidak pernah didengar.

Mendiamkan anak saat emosinya memuncak
Sikap diam atau mengabaikan anak ketika sedang marah, sedih, atau kecewa dapat menimbulkan perasaan ditolak. Anak bisa merasa sendirian dan tidak memiliki tempat aman untuk mengekspresikan emosi.

Membanding-bandingkan anak dengan orang lain
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain kerap dimaksudkan sebagai motivasi. Namun kenyataannya, hal ini justru dapat menumbuhkan rasa rendah diri, kecemasan, dan kebutuhan akan validasi berlebihan karena anak merasa tak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Melakukan kekerasan fisik
Mencubit, memukul, atau mendorong anak dengan alasan mendisiplinkan tetap termasuk kekerasan. Tindakan ini tak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma emosional yang bisa terbawa hingga anak dewasa.

Apa pun bentuknya, bullying dalam keluarga dapat meninggalkan bekas mendalam pada psikologis anak. Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung, namun bisa memengaruhi kepribadian, hubungan sosial, hingga kesehatan mental di masa depan.

Jika Ayah dan Bunda merasa kewalahan atau mengalami kesulitan dalam mengasuh dan mendidik anak, tak ada salahnya mencari bantuan profesional. Berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga ahli dapat menjadi langkah bijak untuk menciptakan pola asuh yang lebih sehat dan penuh empati. (**)

Editor : Rizqi Ardian
Sumber :
Instagram @alodokter_id

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow