Mahanani Book and Art Festival 2025, Pesta Buku dan Seni untuk Merayakan Literasi
Selama dua hari, 16–17 Mei, festival ini menyuguhkan rangkaian kegiatan yang membangun jembatan antara masyarakat, buku, dan kebudayaan, di bawah tema besar “Bukumu Budayamu”.
KEDIRI, SJP - Dalam semangat memperingati Hari Buku Nasional, Taman Baca Mahanani menghadirkan sebuah perayaan yang memadukan daya baca dan daya cipta: Mahanani Book and Art Festival 2025. Selama dua hari, 16–17 Mei 2025, festival ini menyuguhkan rangkaian kegiatan yang membangun jembatan antara masyarakat, buku, dan kebudayaan, di bawah tema besar “Bukumu Budayamu”.
Festival dibuka dengan diskusi mendalam atas buku Mitos Kecantikan karya Naomi Wolf yang diulas dengan tajam oleh Anif Mafatikhun Nida. Diskusi ini menggugah kesadaran kritis tentang bagaimana tubuh perempuan kerap kali menjadi konstruksi sosial yang sarat beban dan harapan.
Sore harinya, layar dibuka untuk pemutaran film dokumenter 'Ranting Kecil' di Atas Riak, karya Ayu Perwitosari dan tim, yang mengangkat kisah-kisah perempuan migran. Diskusi usai pemutaran dipandu oleh Atiyyatul Izzah, peneliti yang selama ini mendalami dinamika kehidupan pekerja migran perempuan.
Memasuki hari kedua, festival berpindah ke ruang terbuka Taman Sekartaji, menghadirkan acara “Dedongeng lan Dedolanan”—sebuah kolaborasi dengan Kampoeng Dongeng Kediri. Melalui dongeng dan permainan tradisional, anak-anak diajak belajar dengan riang, sambil menyerap nilai-nilai budaya lokal yang lekat dengan keseharian.
Sore itu, semangat literasi dilanjutkan lewat Diskusi Literasi dan Peradaban, yang menghadirkan tokoh-tokoh lintas generasi: Fais Yusuf, Akip Imam, dan Lutfi Zanwar. Mereka merajut benang merah antara sejarah membaca dan peranannya dalam membentuk masyarakat yang beradab.
Malam pun ditutup dengan puncak apresiasi seni—panggung puisi-musik, pameran lukisan dari seniman muda, dan orasi budaya oleh Aris Haidar yang mengusung tema “Literasi dan Seni”. Sebuah malam yang menyatukan kata dan warna, suara dan makna.
Akip Imam, selaku ketua pelaksana, menjelaskan bahwa tema “Bukumu Budayamu” diangkat sebagai pengingat bahwa membaca bukanlah sekadar kegiatan personal, melainkan tindakan budaya.
“Apa yang kita baca menentukan cara kita memandang dunia dan memposisikan diri dalam masyarakat. Membaca adalah proses kebudayaan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menciptakan ruang yang ramah dan membumi untuk semua kalangan.
“Festival ini bukan hanya selebrasi, tapi juga undangan partisipasi. Maka kami merangkai kegiatan yang beragam, dari diskusi hingga dongeng, dari film hingga seni—agar semua bisa terlibat: anak-anak, remaja, hingga orang tua,” tambahnya.
Dengan semangat kolektif dan kepedulian terhadap masa depan literasi, Mahanani Book and Art Festival 2025 menegaskan diri bukan sekadar pesta buku, melainkan gerakan budaya. Di sinilah buku tak hanya dibaca, tapi dihidupi—sebagai bagian utuh dari kebudayaan yang membebaskan. (**)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

