BPBD Bondowoso Tangani Longsor Awal Tahun, Warga Botolinggo Krisis Air
Dua kejadian longsor mewarnai awal 2026 di Bondowoso. Selain menutup akses jalan desa, longsor juga merusak broncap dan pipanisasi air bersih di Kecamatan Botolinggo.
BONDOWOSO, SJP – Rangkaian bencana tanah longsor mewarnai akhir tahun 2025 di Kabupaten Bondowoso. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso mencatat sedikitnya dua kejadian longsor yang terjadi di wilayah Kecamatan Pakem dan Kecamatan Botolinggo pada akhir Desember 2025, dengan dampak berbeda di masing-masing lokasi.
Kejadian pertama berlangsung di Dusun Deluwang Barat, Desa Kupang, Kecamatan Pakem. Longsor terjadi pada Rabu (31/12/2025) sekitar pukul 18.13 WIB, setelah hujan dengan intensitas sedang mengguyur wilayah tersebut cukup lama.
"Material longsor sempat menutup akses jalan desa dan menghambat aktivitas warga," kata Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, melalui pesan tertulisnya, pada Kamis (1/1/2026).
BPBD Bondowoso menerima laporan kejadian tersebut melalui pesan WhatsApp dan langsung menurunkan tim ke lokasi.
“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” demikian keterangan dalam rilis resmi yang disampaikan oleh Plt Kalaksa BPBD Bondowoso.
Tim Pusdalops dan TRC BPBD bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat setempat melakukan asesmen sekaligus pembersihan material longsor.
"Hingga Kamis (1/1/2026) siang, kondisi di lokasi dilaporkan sudah tertangani dan akses jalan kembali normal," kata pria yang karib disapa Kris ini.
Sementara itu, longsor juga berdampak serius pada infrastruktur air bersih di wilayah Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo. Peristiwa ini bermula pada Minggu (28/12/2025), ketika warga mengalami krisis air bersih.
"Hasil penelusuran yang kami lakukan bersama pemerintah desa pada 31 Desember 2025 mengungkap adanya longsor yang merusak bak penampung air (broncap) dan jaringan pipa sumber air," jelas Kris.
Dirinya menjelaskan, kerusakan terjadi pada broncap berukuran 14x6 meter yang merupakan pembangunan tahun 2009 dari pemerintah pusat. Selain itu, pipa sepanjang ratusan meter yang menyalurkan air dari sumber ke warga juga mengalami kerusakan.
"Akibatnya, sedikitnya enam dusun terdampak dan ratusan kepala keluarga kesulitan mendapatkan air bersih," ungkapnya.
Kristianto Putro Prasojo, menjelaskan, pihaknya telah melakukan asesmen di lokasi meski menghadapi kendala medan yang cukup berat. Pasalnya, lokasi longsor hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih enam kilometer.
"Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Bondowoso menyiapkan dropping logistik, peralatan, serta satu unit tandon air berkapasitas 1.200 liter ke Desa Klekean. Selain itu, BPBD juga merencanakan dropping air bersih untuk kebutuhan warga dalam jangka waktu sekitar satu bulan sambil menunggu penanganan permanen," ujarnya.
Selain itu, BPBD Bondowoso juga akan mengusulkan penetapan status tanggap darurat bencana serta pengajuan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung perbaikan infrastruktur broncap dan jaringan pipa yang rusak. Di sisi lain, warga bersama pemerintah desa dan unsur Forkopimcam telah melakukan kerja bakti membersihkan area longsor dan menyelamatkan pipa yang masih bisa digunakan.
"Untuk sementara, warga terdampak memenuhi kebutuhan air bersih dengan menadah air hujan dan mengambil air dari sumur yang berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman. Adapun untuk kebutuhan mandi dan mencuci, warga memanfaatkan sungai terdekat," tukasnya.
BPBD Bondowoso mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, mengingat intensitas hujan masih cukup tinggi di awal tahun 2026.
"Pemerintah daerah juga meminta warga segera melapor apabila menemukan tanda-tanda longsor atau bencana lain di lingkungan sekitar," pungkasnya. (**)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

