Beras Medium Langka, SPHP Jadi Incaran Warga Bondowoso
Bulog Bondowoso menyalurkan 9 ton beras SPHP harga Rp57 ribu per sak melalui GPM hingga 23 kecamatan, sinergi Pemkab, TNI, Polri, guna membantu masyarakat di tengah kelangkaan beras medium dan mahalnya harga premium.
BONDOWOSO, SJP – Menghilangnya peredaran beras medium di beberapa wilayah di Kabupaten Bondowoso, membuat warga dengan ekonomi menengah ke bawah, harus membeli beras kualitas premium.
Tentunya, harga beras premium sangat mencekik ekonomi masyarakat kurang mampu. Di mana, harga eceran per kilogramnya tembus di harga Rp16 ribu. Sedangkan untuk per 5 kilogram harganya mencapai Rp75 ribu hingga Rp80 ribu.
Kejadian ini diketahui sudah berlangsung sejak 2 pekan terakhir, usai ramai ditemukannya beras oplosan dan sempat viral di media sosial. Beras kualitas medium pun ditarik oleh pabrikan dan seakan lenyap di pasaran.
Sebagai solusi dalam menghadapi fenomena itu, Perum Bulog Bondowoso menyalurkan 9 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam rangka program pangan murah yang melibatkan sinergi Pemkab, TNI, dan Polri.
Penyaluran ini ditargetkan menjangkau seluruh kecamatan di Kabupaten Bondowoso hingga pertengahan September 2025, dengan diawali melalui gerakan pangan murah (GPM) yang digelar di paseban Alun-alun Raden Bagus Assra Ki Ronggo, pada Kamis (14/8/2025).
Kepala Cabang Bulog Bondowoso Hesty Retno Kusumastuti, menjelaskan, 9 ton beras tersebut dibagi menjadi tiga lini sektor, yakni Pemkab melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag), Polres Bondowoso dan Kodim 0822.
“Ini adalah launching untuk sinergi Pemkab, TNI dan Polri, yang nantinya akan berkelanjutan di masing-masing kecamatan di seluruh Kabupaten Bondowoso,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).
Menurutnya, distribusi dimulai 14 Agustus hingga 12 September 2025, dengan sistem keliling. Beras yang disalurkan merupakan beras Bulog kualitas medium yang harga per kilogramnya Rp11.400 atau Rp57 ribu per sak dengan berat 5 kilogram.
“Dari 23 kecamatan, insyaallah semua akan terjangkau,” tambahnya.
Selain itu, Bulog Bondowoso menggelar dua lini kegiatan, yaitu gerakan pangan murah (GPM) dan penyaluran beras melalui toko atau outlet binaan Pemkab.
“Jadi, selain di pasar, juga tersedia di outlet atau kios pangan pemerintah,” jelasnya.
Untuk target, secara nasional penyaluran beras SPHP mencapai 1,3 juta. Khusus Bondowoso sebanyak 10.000, terbagi antara Bondowoso dan Situbondo.
“Insyaallah dari sini sekitar 5 ribu ton. Posisi per hari ini sudah sekira 142 ton. Masih jauh, tetapi target itu dihitung sejak Juli hingga Desember, bukan target satu bulan,” paparnya.
Ia menegaskan, beras SPHP hanya diperuntukkan bagi masyarakat konsumen akhir sesuai petunjuk teknis.
“Beras SPHP ini sesuai juknis diperuntukkan bagi masyarakat konsumen akhir, bukan untuk diborong. Pembelian diupayakan maksimal dua sak per orang supaya merata,” tandasnya.
Salah seorang pembeli, Tutik warga Desa Pancoran merasa GPM ini sangat membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah, di saat kondisi beras medium yang langka dan harga beras premium melambung.
“Beras medium merek lain per sak dengan kemasan isi 5 kilogram yang harganya di bawah Rp70 ribu, kini sulit ditemukan. Sedangkan di toko dan pasaran, yang ada hanya beras kualitas premium dengan harga paling murah Rp75 ribu per 5 kilogramnya,” ungkapnya. (*)
Editor : Ali Wafa
What's Your Reaction?

