Belajar Potong Rambut di Balik Jeruji, Nofian Menata Hidup di Lapas Tulungagung

Di balik jeruji Lapas Tulungagung, Nofian belajar memangkas rambut. Gunting di tangannya kini membentuk harapan baru, menyiapkan diri menyambut kebebasan dengan harapan dan usaha baru.

08 Aug 2025 - 17:34
Belajar Potong Rambut di Balik Jeruji, Nofian Menata Hidup di Lapas Tulungagung
Warga binaan mempraktikkan teknik potong rambut di barbershop kecil Lapas Kelas IIB Tulungagung sebagai bagian program pembinaan kemandirian. (Foto: Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP — Sebuah ruangan berukuran 2,5 x 4 meter di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tulungagung terlihat ramai. Di sana, gunting rambut beradu dengan gelak tawa warga binaan yang tengah belajar.

Nofian Lutfi, salah satu warga binaan, terlihat terampil mengarahkan gunting. Sesekali dia mengamati hasil potongannya lewat cermin besar yang menempel di dinding ruangan tersebut.

Tak banyak yang menyangka pria yang lihai memangkas itu adalah narapidana kasus pencurian. Dulu hidupnya dipenuhi keputusan keliru. kini dia mencoba menata ulang hidupnya menjadi lebih baik.

Kesempatan ini datang melalui program pembinaan kemandirian yang diadakan oleh Lapas Tulungagung. Dia kini belajar menjadi tukang cukur rambut profesional.

“Saya belajar sekitar dua sampai tiga bulan. Awalnya memang susah. Paling sulit bagian akhir, yaitu perapian. Tapi sekarang saya sudah bisa empat model potongan,” tutur Nofian sambil tersenyum.

Nofian tidak menutupi masa lalunya yang kelam. Pemuda berusia 20-an tahun ini menjalani hukuman karena mencuri di rumah majikannya. 

“Saya masuk sini (penjara) karena ngeblong (mencuri) di rumah majikan. Tapi saya ingin berubah. Nanti kalau bebas, Insyaallah buka barbershop sendiri,” katanya dengan nada penuh harapan. 

Lapas Tulungagung mendatangkan instruktur profesional dari luar untuk membimbing warga binaan secara intensif dengan metode praktik yang terstruktur dan terukur berjadwal secara konsisten. 

Program ini bertujuan menyiapkan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat sebagai individu yang mandiri. Mereka diharapkan dapat menjadi produktif setelah masa hukuman selesai. 

Kepala Lapas (Kalapas) Tulungagung, Ma'ruf Prasetyo Hadiyanto, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut menjadi bagian dari strategi. Pembinaan yang dilakukan Lapas kini bersifat holistik. 

Strategi ini mencakup aspek kepribadian dan kemandirian bagi warga binaan. Mereka diajak untuk memperbaiki diri selama berada di Lapas. 

“Kami ingin pemasyarakatan benar-benar menjadi proses memulihkan hubungan hidup, kehidupan, dan penghidupan bagi warga binaan,” ujarnya.

Selain pelatihan potong rambut, ada pula program lain. Lapas Tulungagung juga mengadakan kegiatan seperti kerajinan marmer dan konveksi. 

Ada juga program pertanian, peternakan kambing, hingga program pondok pesantren dan pramuka. Mereka bekerja sama dengan berbagai instansi. 

Instansi yang terlibat mulai dari Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Balai Latihan Kerja (BLK) Singosari dan pengrajin marmer lokal. 

“Alhamdulillah, sekarang kami punya produk unggulan seperti plakat dan asbak marmer yang dipesan langsung oleh Ditjen (Direktorat Jenderal) Pemasyarakatan,” tambahnya. 

“Kami juga produksi celemek untuk program makan bergizi gratis, dan dalam dua kloter sudah buat 450 piece,” lanjut Ma’ruf. 

Program itu disambut baik oleh warga binaan. Dari total 711 warga binaan, sebanyak 115 orang telah aktif dalam program kemandirian. Sementara lebih dari 200 orang mengikuti pembinaan kepribadian. 

Pendekatan ini dilakukan dengan menyesuaikan minat dan bakat masing-masing narapidana. Lapas memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang. 

“Dengan kemauan yang kuat, kemampuan itu akan menyusul,” ujar Ma'ruf. 

Kini, gunting di tangan Nofian bukan lagi simbol kejahatan, melainkan sebuah alat untuk menata masa depan. Harapan itu mulai menyala di balik dinding beton dan jeruji besi. 

Semua orang, termasuk mereka yang pernah terjatuh ke lembah kriminal, tetap punya kesempatan untuk bangkit dan memperbaiki diri. (*) 

Editor: Ali Wafa 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow