Anggaran Revitalisasi Apel Kota Batu Menyusut, Hanya 5 Poktan Terima Bantuan

Anggaran revitalisasi apel di Kota Batu anjlok tajam. Jika tahun lalu ada 10 poktan penerima bantuan, tahun ini hanya lima poktan. Kondisi ini membuat Pemkot Batu menerapkan skema penggiliran bagi penerima.

08 Aug 2025 - 18:13
Anggaran Revitalisasi Apel Kota Batu Menyusut, Hanya 5 Poktan Terima Bantuan
Kepala Distan-KP Kota Batu Heru Yulianto. (Foto: Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP — Anggaran Bantuan Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) untuk revitalisasi apel di Kota Batu anjlok tajam. Anggaran turun dari Rp607,7 juta pada 2024 menjadi hanya Rp359,5 juta pada 2025. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu, Heru Yulianto, menegaskan hal itu berdampak pada jumlah penerima. Jumlah kelompok tani (poktan) penerima kini menyusut drastis. 

“Jika tahun lalu ada 10 poktan penerima, tahun ini hanya lima poktan yang beruntung mendapat kucuran dana. Penerimanya kami gilir supaya semua kelompok bisa merasakan manfaat secara bergantian,” ujar Heru Yulianto.

Lima Gapoktan penerima tahun ini seluruhnya berada di Kecamatan Bumiaji. Kecamatan ini merupakan sentra utama penghasil apel di Kota Batu. 

Dari Desa Tulungrejo, penerimanya adalah Poktan Tani Arjuna 2 yang menerima Rp65,099 juta. Ada juga Poktan Junggo Makmur 01 dan Poktan Maju Sukses. Masing-masing menerima Rp76,099 juta. 

Sementara itu, dari Desa Bulukerto, penerimanya adalah Poktan Sri Mulyo 02 dan Poktan Sri Makmur. Poktan Sri Mulyo 02 mendapatkan Rp66,083 juta. Poktan Sri Makmur mendapat Rp76,066 juta. 

Penurunan ini akibat efisiensi anggaran. Tahun lalu, daftar penerima jauh lebih panjang dengan sebaran di sejumlah desa. Di antaranya: Tulungrejo, Bulukerto, Sumbergondo, Punten, hingga Bumiaji. 

Saat itu, kata Heru, besaran bantuan yang diterima berkisar antara Rp43,5 juta hingga Rp69,02 juta per kelompok. Dia mengatakan bahwa efisiensi ini akan terus dilakukan. 

“Meski penerima bantuan berkurang, Pemkot Batu tetap menyiapkan dana untuk pembangunan demplot (demonstration plot) budidaya apel,” tandas Heru. 

Dia menjelaskan, lahan percontohan ini digunakan untuk uji coba teknologi. Termasuk penggunaan insektisida hayati. Dengan demikian, kualitas apel di Kota Batu diharapkan tetap terjaga. 

“Hasilnya diharapkan dapat diadopsi kolektif oleh petani,” pungkasnya. (*) 

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow