Belajar Ketahanan Pangan di Tengah Kota, Santri Bata-Bata Panen Pakcoy di Kampoeng Oase Ondomohen
Panen pakcoy bersama ibu-ibu kota, santri Ponpes Bata-Bata belajar urban farming di jantung Surabaya demi membawa inspirasi hijau pulang ke Madura.
SURABAYA, SJP - Di tengah kota yang terus tumbuh padat, ketersediaan lahan hijau makin terbatas. Urban farming atau pertanian kota menjadi salah satu jawaban untuk menjaga ketahanan pangan dan lingkungan.
Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, praktik tersebut juga membangun kesadaran kolektif soal pentingnya hidup berkelanjutan, termasuk bagi lembaga pendidikan seperti pesantren.
Di Surabaya, contoh konkret dari upaya tersebut datang dari kampung-kampung yang tergabung dalam Kampoeng Oase Suroboyo Group. Salah satunya adalah Kampung Berseri Astra (KBA) Kampoeng Oase Ondomohen yang terletak di jantung Kota Surabaya.
KBA Kampoeng Oase Ondomohen yang digerakkan oleh ibu-ibu setempat itu kini telah menjadi destinasi wisata edukasi oleh banyak pihak, termasuk oleh rombongan dari Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Kabupaten Pamekasan, yang merupakan pondok terbesar di Madura.
Belasan santri itu dipimpin oleh Ismail Abdurrahim. Mereka datang mendampingi tim satuan tugas (satgas) kebersihan pondok yang diketuai oleh Herianto. Ismail menyebut, kunjungannya bukan hanya studi singkat, tapi langkah awal replikasi urban farming di pesantren.
"Alhamdulillah kami sangat bersyukur. Banyak ilmu yang kami peroleh: dari panen pakcoy, maggot, sampai sistem saluran air untuk budidaya ikan," ujar Ismail, Ahad (13/4/2025).
Panen Pakcoy Bersama Ibu-Ibu Kampung
Salah satu pengalaman utama rombongan ini adalah ikut langsung memanen pakcoy, sayuran yang dibudidayakan oleh ibu-ibu setempat. Ismail dan rombongan tak sekadar menonton, tetapi aktif bertanya dan mencatat cara bertani di lahan terbatas.
"Kita sudah belajar banyak seperti pemanfaatan maggot, hidroponik, hingga bisa panen sayur, saat kita balik ke pondok akan kita usulkan kepada pimpinan untuk bisa diterapkan di lingkungan pondok maupun rumah masing-masing," ungkap Ismail.
Sementara itu, Moeshariyani selaku Koordinator Pilar Kesehatan KBA Kampoeng Oase Ondomohen menjelaskan, sayuran yang dipanen bersama rombongan santri Bata-Bata itu adalah pakcoy atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai sawi daging.
"Kalau panen, biasanya kita bikin mie, capcay, atau (dicampur) telur dadar. Kalau ada yang beli, uangnya diputar lagi buat bibit," ujar wanita yang akrab dipanggil Yani itu.
Hasil panen tersebut juga dijual secara online kepada warga sekitar. Dengan sistem tanam siklus tiga bulanan, ibu-ibu di Ondomohen bisa menjaga produksi sambil membangun kemandirian pangan lokal.
Digerakkan oleh Komunitas Perempuan
Yang menarik, seluruh aktivitas di KBA Kampoeng Oase Ondomohen dikelola oleh kelompok kecil ibu rumah tangga. Meski setelah lebaran banyak yang masih kelelahan atau sedang bepergian, mereka tetap menyambut tamu dengan ramah dan semangat berbagi.
"Yang kerja cuma ibu-ibu di sini, beberapa orang saja. Tapi kami berusaha sebaik mungkin agar tamu puas dan dapat ilmu," tutur Yani.
Dari Surabaya ke Madura
Kunjungan itu menjadi ruang saling belajar. Para pengurus dari Pondok Bata-Bata membawa pulang semangat dan praktik bertani kota. Sementara warga Ondomohen mendapatkan validasi dan apresiasi atas kerja kolektif mereka. Selanjutnya, rombongan santri Bata-Bata juga akan mengunjungi Kampoeng Oase Songo yang berada di Surabaya Barat.
Adi Candra, selaku Local Champion KBA Kampoeng Oase Ondomohen, menyebut, pertemuan antara pihaknya dengan santri Mambaul Ulum Bata-Bata sebagai bentuk nyata sinergi antarkomunitas demi mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs).
"Jadi kita berbicara soal ketahanan pangan, target SDG's nomor dua. Kemudian kita berbicara soal SDGs yang ke-11 yaitu kota dan permukiman yang berkelanjutan. Itu penting, karena pondok pesantren ini adalah bagian dari sebuah komunitas yang besar. Karena santri seluruh Indonesia itu belajar di Bata-Bata," ujar Adi.
"Ketika kampung dan pondok yang menggabungkan nilai religius, pendidikan serta sosial bisa saling belajar, terbentuk kemitraan yang memperkuat pembangunan berkelanjutan sesuai target SDG's nomor 17. Ada ketahanan pangan, permukiman berkelanjutan, dan kerja sama lintas sektor," tambahnya.
Dia optimistis, jika praktik urban farming dari Kampoeng Oase bisa direplikasi di lingkungan pondok pesantren, maka dampaknya bisa menjangkau skala yang jauh lebih besar di masa depan. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

