Ponpes Bata-Bata Belajar Olah Sampah dari Kampoeng Oase Songo Surabaya
Mereka mendapatkan oleh-oleh dari Kampoeng Oase Songo. Yakni berupa mini komposter, pupuk cair, dan ecoenzym dari Kampoeng Oase Songo dengan harapan bisa dimanfaatkan saat rombongan kembali ke Madura.
SURABAYA, SJP - Di tengah tantangan penumpukan sampah rumah tangga yang makin kompleks, inisiatif komunitas untuk mengelola limbah secara mandiri menjadi solusi nyata yang patut ditiru. Terutama di daerah padat penduduk seperti Provinsi Jawa Timur.
Solusi tersebut hadir di kawasan Surabaya Barat. Yakni di Kampoeng Oase Songo, salah satu titik gerakan Kampoeng Oase Suroboyo Group: menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya mungkin, tapi juga bisa menjadi sumber kemanfaatan bagi lingkungan sekitar.
Hal tersebutlah yang melatarbelakangi rombongan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Kabupaten Pamekasan, yang merupakan pondok pesantren terbesar di Madura berkunjung dan belajar tentang pengolahan sampah.
Sebelumnya rombongan yang terdiri dari Tim Satuan Tugas Lingkungan Hidup Bata-Bata (Satgas LHB) itu juga mengunjungi KBA Kampoeng Oase Ondomohen untuk belajar urban farming dan ikut panen pakcoy bersama ibu-ibu setempat.
Ketua Kampoeng Oase Songo, Yaning Mustikaningrum menjelaskan, salah satu fokus utamanya yaitu mengolah sampah organik, terutama sisa-sisa rumah tangga, seperti kulit buah dan bawang, hingga sisa sayur, menjadi produk yang berguna, seperti komposter mini, pupuk cair, dan ecoenzym dari Kampoeng Oase Songo.
Sedangkan sisa makanan lain yang mudah busuk seperti sisa nasi, bisa dijadikan sebagai makanan maggot tentara hitam (BSF) yang juga dibudidayakan di Kampoeng Oase Songo. Nantinya, maggot tersebut juga bisa diolah menjadi produk turunan, seperti pakan ternak untuk dijual.
"Di pondok pasti banyak limbah dapur. Sayang kalau dibuang. Harusnya diolah seperti ini terlebih karena di pondok pasti lahannya lebih luas," ujar Yaning.
"Tapi yang paling penting itu bukan alat atau lahannya, tapi niat dan kemauan, saya sendiri bisa sampai sini ya karena istikamah," imbuhnya.
Panen Lele Hasil Budikdamber
Rombongan Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata juga berkesempatan belajar tentang sistem budidaya ikan dalam ember (budikdamber). Bahkan rombongan juga berkesempatan menyaksikan langsung praktik panen ikan lele yang dibudidayakan melalui metode tersebut.
Ismail Abdurrahim, selaku alumni Bata-Bata yang memimpin rombongan, mengaku terkesan dengan pengalaman di Kampoeng Oase Songo. Dirinya mengungkapkan, banyak pembelajaran yang diambil, terutama dalam memandang sampah.
"Sampah yang biasanya mengerikan, di sini justru menjadi berkah. Ini luar biasa. Saya bahkan tanpa melebih-lebihkan menyebut Bu Yaning sebagai pahlawan ketahanan pangan," ujarnya.
Ismail juga membeberkan bahwa pihaknya mendapatkan oleh-oleh dari Kampoeng Oase Songo. Yakni berupa mini komposter, pupuk cair, dan ecoenzym dari Kampoeng Oase Songo dengan harapan bisa dimanfaatkan saat rombongan kembali ke Madura.
Sinergi Pesantren dan Kampoeng Oase Suroboyo Group
Pembina Kampoeng Oase Suroboyo Group, Adi Candra, menekankan pentingnya pertemuan antara komunitas kampung kota dan pondok pesantren sebagai bagian dari upaya mencapai target SDGs.
"Pondok pesantren itu komunitas besar dan daya jangkau yang luas. Kalau mereka bergerak, dampaknya bakal luar biasa," ucap Adi.
Dia berharap, kolaborasi semacam ini terus berlanjut untuk memperkuat ketahanan lingkungan dari akar rumput dan praktik-praktik sari seluruh kampung yang tergabung dalam Oase Suroboyo Group bisa jadi percontohan daerah lain.
"Jadi itu luar biasa dan mudah-mudahan perjalanan rombongan pesantren betul-betul menjadi keberkahan untuk kita semuanya," pungkasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

