Eceng Gondok di Mojokerto Jadi Sumber Bencana, Kekhawatiran Warga sejak Bulan Lalu Jadi Kenyataan
Sebenarnya indikasi terjadinya banjir di Mojokerto sudah terbaca sejak pertengahan November lalu. Yakni oleh kemunculan eceng gondok di sepanjang sungai.
MJOKERTO, SJP - Meski banjir di beberapa wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto berangsur surut, warga masih waswas dan cemas akan datangnya banjir susulan. Apalagi hujan lebat masih sangat berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Meski Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) sudah mengurai penyebab utama banjir, hal itu belum membuat warga tenang. Sebab, kondisi pintu air dam sipon dianggap belum bisa bekerja secara maksimal.
Tumpukan eceng gondok dan sampah di pintu air dianggap sebagai pemicu utama banjir yang terjadi di Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang dan Desa Tempuran serta Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
"Hanya satu solusinya. Yaitu perbaikan sipon. Pembuangannya hanya di situ. Ya perbaikan sipon saja itu," kata Mashudi (60) warga Desa Tempuran saat ditemui, Senin (16/12/2024).
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono juga menyebut, penyebab utama banjir yaitu kondisi pintu air yang berlokasi di Desa Ngingasrembyong itu tidak dapat berfungsi maksimal. Selain itu, kondisi sungai yang mengalami pendangkalan juga jadi pemicu utama.
Hal itu disampaikannya saat mendampingi Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Desa Ngingasrembyong Jumat lalu. Kemudian pemicu lainnya yaitu banyaknya sampah dan eceng gondok yang menumpuk. Sehingga menimbulkan penyumbatan aliran sungai.
“Banyak sekali eceng gondok. Sudah diambil semua. Tinggal dinormalisasi dari ujung. Karena debit airnya sangat banyak, dan itu sudah mulai dangkal,” kata Adhy di kantor Desa Ngingasrembyong, Jumat (14/12/2024) lalu.
Sebenarnya, banjir yang terjadi di Mojokerto bukan sebuah tragedi yang amat mengejutkan. Sebab, indikasi akan terjadinya banjir sudah terbaca sejak pertengahan November lalu.
Warga Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto sudah memprediksinya sejak awal. Mereka dicemaskan dengan kondisi Ngrayung yang memprihatinkan.
Bagaimana tidak, sungai yang berada di samping makam itu dipenuhi dengan tumbuhan eceng gondok berukuran besar. Bahkan permukaan air dibuat tidak tampak. Air pun tidak mengalir.
Warga setempat khawatir, kondisi sungai itu berakibat tidak mampunya menampung volume air. Sehingga akan terjadi luapan saat musim hujan dan menyebabkan banjir.
Saat itu, Husnul (52), warga setempat menyebut, tumpukan eceng gondok di sungai Ngrayung mulai tumbuh dan menyebar sejak dua pekan terakhir.
“Sekitar dua mingguan. Kalau satu bulan belum ada,” ujarnya, Rabu (20/11/2035).
Praktis kondisi itu membuat warga setempat cemas. Terlebih lagi saat ini sudah memasuki musim hujan. Mereka menunjukkan ekspresi belum siap untuk dihantam banjir.
“Khawatir kalau datang air besar nanti membuat banjir,” ucapnya penuh cemas.
Kata Husnul, sebelumnya sungai yang menghubungkan Kota Mojokerto dengan Kabupaten Mojokerto itu tidak pernah mengalami fenomena tersebut.
“Tahun sebelumnya tidak pernah ada. Dulu pernah banjir tapi bukan karena eceng gondok. Tapi karena tanggul jebol,” lanjutnya.
Atas kekhawatiran itu, warga berharap pemerintah setempat segera mengambil tindakan. Sungai tersebut perlu segera dibersihkan untuk mengantisipasi terjadinya luapan air saat hujan deras.
“Segera teratasi agar warga tidak was-was banjir saat musim penghujan,” pungkasnya.
Sedangkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto, Amin Wachid, saat itu mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dpuprperakim) Kota Mojokerto terkait aduan warga tersebut.
Keluhan warga itu akan ditindaklanjuti bersama Dipuprperakim dan akan melakukan survei ke lokasi untuk memastikan kondisi yang sebenarnya. Dia membenarkan, bahwa Sungai Ngrayung itu merupakan perbatasan antara Kota Mojokerto dengan Kabupaten Mojokerto.
“Sudah saya bantu teruskan informasinya. Aliran sungainya bisa dilihat dari depan rumah dinas wakil bupati di jembatan kecil Jalan Jayanegara. Besok saya survei,” tutur Amin saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis (21/11/2024) lalu. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

