Alarm Darurat TBC di Gresik, Temuan Kasus Merosot Tajam, Risiko Gunung Es Mengintai
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik periode Januari–Desember 2025 menunjukkan anomali yang mengkhawatirkan. Sebab, temuan kasus baru TBC justru merosot drastis di tengah masifnya upaya skrining di lapangan.
GRESIK, SJP — Penanganan kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Gresik tengah berada dalam situasi genting. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik periode Januari–Desember 2025 justru menunjukkan anomali yang mengkhawatirkan. Sebab, temuan kasus baru TBC justru merosot drastis di tengah masifnya upaya skrining di lapangan.
Tercatat, hanya ditemukan 3.047 kasus baru TBC sepanjang tahun ini. Angka tersebut menunjukkan capaian penemuan yang terjun bebas ke angka 72 persen dari target 4.227 kasus.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa tahun sebelumnya yang mampu menyentuh angka 98 persen.
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, memberikan kritik keras terhadap penurunan statistik tersebut.
Sebagai figur berlatar belakang medis, Alif menegaskan bahwa rendahnya angka temuan kasus bukan indikator keberhasilan, melainkan sinyal bahaya adanya kasus yang tidak terdeteksi (under-reported).
"Penurunan penemuan kasus TBC ini bukanlah prestasi yang patut dibanggakan. Ini justru peringatan serius. Kita harus menelusuri secara cermat, apakah penularan memang menurun atau kita yang gagal mendeteksi kasus di masyarakat," tegas Alif saat dikonfirmasi pada Rabu (17/12/2025).
Kecurigaan ini diperkuat oleh fakta bahwa jumlah warga terduga TBC yang berhasil diskrining sebenarnya melampaui target, yakni mencapai 24.431 orang (119 persen).
Namun, tingginya angka skrining yang tidak dibarengi dengan tingginya temuan kasus terkonfirmasi memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas metode diagnosis yang digunakan di lapangan.
Ketimpangan deteksi kasus juga terlihat jelas di wilayah terpencil, khususnya Kecamatan Tambak di Kepulauan Bawean.
Alif memperingatkan jajaran Dinas Kesehatan agar tidak terlena dengan minimnya laporan kasus di wilayah tersebut.
"Rendahnya temuan di Kecamatan Tambak harus dicermati secara objektif. Jangan sampai klaim bebas TBC muncul hanya karena keterbatasan akses layanan dan lemahnya deteksi. Kondisi geografis tidak boleh menjadi alasan pembiaran," ujarnya.
Sebagai solusi konkret, Pemkab Gresik menargetkan penyediaan layanan Tes Cepat Molekuler (TCM) di Puskesmas Tambak pada tahun 2026.
Keberadaan alat ini dinilai vital untuk memutus rantai penularan di wilayah kepulauan melalui diagnosis yang lebih presisi dan cepat.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, Mukhibatul Khusnah, menyatakan bahwa pihaknya berupaya mempercepat eliminasi TBC melalui penguatan program Desa dan Kelurahan Siaga TBC.
"Program ini adalah ujung tombak kami. Peran aktif masyarakat di tingkat desa sangat menentukan keberhasilan penemuan kasus dini dan pendampingan pengobatan hingga tuntas," tutup Mukhibatul. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

