406 Siswa Berkebutuhan Khusus Belajar di Sekolah Reguler Kota Batu

Dindik Kota Batu menilai pendidikan inklusif merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memastikan seluruh anak memperoleh hak pendidikan yang sama tanpa membedakan kondisi fisik maupun kemampuan belajar.

02 Jun 2026 - 14:00
406 Siswa Berkebutuhan Khusus Belajar di Sekolah Reguler Kota Batu
Kegiatan belajar mengajar di salah satu SMP Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Komitmen Pemerintah Kota Batu dalam mewujudkan pendidikan yang setara bagi seluruh anak terus diperkuat. Hingga tahun 2026, sebanyak 406 siswa berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) tercatat telah mengikuti proses pembelajaran di sekolah reguler yang tersebar di berbagai wilayah Kota Batu.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat pada Selasa (2/6/2026) menguraikan dari data Dinas Pendidikan Kota Batu, ratusan siswa inklusi tersebut tersebar mulai jenjang pendidikan usia dini hingga sekolah menengah pertama. Rinciannya, sebanyak 47 siswa berada di 24 Kelompok Bermain (KB), 88 siswa di 21 Taman Kanak-Kanak (TK), 217 siswa di 22 Sekolah Dasar (SD), dan 54 siswa di delapan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. Karena itu sekolah tidak hanya membuka akses penerimaan, tetapi juga harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi mereka,” paparnya.

Saat ini, terdapat 75 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi yang aktif melaporkan keberadaan siswa berkebutuhan khusus kepada Dinas Pendidikan Kota Batu. Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah karena proses verifikasi dan pendataan terus dilakukan.

Menurut Alfi, pelaksanaan pendidikan inklusif di Kota Batu juga merupakan bagian dari implementasi kebijakan pemerintah pusat yang memberikan ruang bagi peserta didik berkebutuhan khusus melalui jalur afirmasi atau jalur inklusi dalam sistem penerimaan murid baru.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusi tidak dapat diukur hanya dari jumlah siswa yang diterima sekolah. Yang lebih penting adalah memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan, pendampingan, dan kesempatan belajar yang setara.

“Yang paling penting adalah memastikan mereka tidak mengalami diskriminasi maupun perundungan. Kehadiran siswa inklusi harus dibarengi dengan ekosistem belajar yang sehat dan mendukung tumbuh kembang mereka,” imbuhnya.

Untuk mendukung hal tersebut, Disdik Kota Batu meminta seluruh sekolah penyelenggara pendidikan inklusi memperketat pengawasan terhadap siswa, khususnya pada waktu-waktu yang dinilai rawan seperti saat jam istirahat maupun ketika siswa pulang sekolah.

Selain pengawasan, sekolah juga diminta memiliki kebijakan antiperundungan yang jelas dan diterapkan secara konsisten agar seluruh peserta didik merasa aman selama berada di lingkungan sekolah.

Disdik juga menaruh perhatian besar terhadap peran Guru Pendamping Khusus (GPK). Keberadaan GPK dinilai menjadi faktor penting dalam membantu siswa berkebutuhan khusus beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus mendukung proses pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing anak.

“Anak-anak ABK harus merasa nyaman dan aman saat belajar bersama siswa reguler. Ketika mereka merasa diterima, perkembangan akademik maupun sosialnya akan jauh lebih baik,” tegasnya.

Tak hanya itu, para guru kelas juga didorong menerapkan metode pembelajaran yang lebih adaptif, mulai dari penyesuaian posisi duduk hingga penggunaan media pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan siswa inklusi.

Disdik berharap keberadaan pendidikan inklusif tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa berkebutuhan khusus, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter bagi seluruh peserta didik untuk menghargai perbedaan dan membangun empati sejak usia dini.

“Sekolah inklusi bukan hanya tentang menerima siswa ABK, tetapi juga membangun budaya saling menghargai, menghormati perbedaan, dan menumbuhkan empati sejak dini,” pungkas Alfi. (*)

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow