17 Hektare Sawah di Jombang Terendam Banjir, Petani Terancam Rugi Puluhan Juta
Data sementara menunjukkan kerugian materiil akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp85 juta. Angka tersebut dihitung berdasarkan biaya operasional tanam dan perawatan awal yang rata-rata menghabiskan Rp5 juta per hektare.
JOMBANG, SJP - Curah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Jombang dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan sedikitnya 17 hektare lahan pertanian di Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, terendam banjir. Kondisi ini mengancam puluhan petani setempat mengalami gagal panen total.
Pantauan di lokasi hingga Kamis (15/1/2026), genangan air setinggi lutut orang dewasa masih menyelimuti area persawahan.
Kondisi ini diperparah dengan hujan susulan yang turun pada Rabu malam, menyebabkan debit air terus meningkat tanpa tanda-tanda akan surut.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) setempat, Supardi (54), mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Tanaman padi yang terendam rata-rata masih berusia antara 7 hingga 13 hari setelah tanam (HST).
"Air hujan yang sangat deras berkumpul di wilayah kami. Karena usia tanam masih sangat muda, tanaman padi tidak akan mampu bertahan lama di bawah air. Jika kondisi ini berlanjut, dipastikan kami gagal panen," ujar Supardi saat ditemui di lokasi, Kamis (15/1/2026).
Selain faktor cuaca, Supardi menduga banjir juga disebabkan oleh luapan Sungai Marmoyo di wilayah Kabuh yang mengalir menuju persawahan Ketapang Rejo.
Menurutnya, wilayah tersebut memang menjadi langganan banjir, namun durasi genangan kali ini jauh lebih lama dari biasanya.
Data sementara menunjukkan kerugian materiil akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp85 juta. Angka tersebut dihitung berdasarkan biaya operasional tanam dan perawatan awal yang rata-rata menghabiskan Rp5 juta per hektare.
Hingga saat ini, para petani mengaku resah karena belum ada tindakan nyata dari pihak terkait.
Mereka mendesak pemerintah daerah segera turun tangan melakukan normalisasi saluran sungai atau memberikan bantuan teknis berupa penyedotan air.
"Kami sangat berharap bantuan pemerintah, baik untuk biaya tanam ulang maupun solusi teknis agar air cepat surut. Jika tidak ada bantuan, modal kami habis dan usaha tani musim ini terputus," pungkas Supardi. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

