119 Tahun Tak Pernah Sepi, Salat Tarawih 10 Menit Pondok Mantenan Jadi Magnet Jemaah
Meski sudah berusia 119 tahun, tradisi salat tarawih cepat di Masjid Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar masih terjaga sampai sekarang.
BLITAR, SJP - Suasana Masjid Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar tampak berbeda setiap bulan Ramadan.
Sejak selepas berbuka puasa, ratusan jemaah mulai berdatangan untuk mengikuti tradisi salat tarawih cepat yang sudah bertahan lebih dari satu abad.
Tahun ini, tradisi itu genap berjalan 119 tahun sejak pertama kali dimulai pada tahun 1907.
Ketika azan isya berkumandang, masjid berkapasitas ratusan orang itu dipenuhi jemaah. Tak sedikit yang harus menggelar sajadah di halaman karena ruang utama telah penuh.
Meski berada di luar, para jemaah tetap khusyuk mengikuti rangkaian salat isya, tarawih 20 rakaat, dan witir 3 rakaat yang rampung hanya dalam waktu sekitar 10 hingga 13 menit.
Durasi yang singkat inilah yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik. Jika umumnya salat isya dan tarawih memakan waktu 30 hingga 45 menit, di Pondok Pesantren Mambaul Hikam atau yang kerap disebut dengan Pondok Mantenan ini seluruh rangkaian ibadah tersebut bisa selesai kurang dari seperempat jam.
Romadoni (31) salah satu jemaah salat tarawih cepat di Pondok Pesantren Mantenan ini mengaku hampir tak pernah absen menjalani salat tarawih di Pondok Pesantren tersebut setiap bulan Ramadan.
Dia menilai suasana yang ramai dan penuh semangat kebersamaan menjadi alasan utama dirinya memilih tarawih disana.
"Selalu rutin disini sejak dulu. Selain cepat, suasana itu ramai dan itu bikin semangat," ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Terpisah, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam KH Muhammad Dliya'uddin Azzamzami atau Gus Dliya' menjelaskan bahwa tradisi ini berawal dari gagasan pendiri pondok, Mbah Abdul Ghofur.
Saat itu, mayoritas warga sekitar merupakan petani dan pekerja, bahkan sebagian masih mualaf.
Menurutnya, salat tarawih dengan durasi normal sempat membuat jumlah jemaah menurun drastis. Alasan itulah yang membuat sang pendiri pondok berinisiatif mempercepat tempo salat tanpa mengurangi rukun maupun sunahnya.
"Bacaannya tetap lengkap, Alfatihah dan surat tetap dibaca. Rukun dan sunahnya tidak ada yang ditinggalkan. Hanya temponya saja yang lebih cepat," kata dia.
Ia menambahkan, standar durasi biasanya berkisar 13 hingga 15 menit. Namun, jika imam yang memimpin masih muda dan bertenaga, seluruh rangkaian bisa selesai dalam 10 menit.
Hingga kini, tradisi yang telah berusia lebih dari satu abad itu tetap menjadi magnet, tidak hanya bagi warga sekitar, tetapi juga jemaah dari luar daerah seperti Kediri dan Tulungagung. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

