Volume Sampah di Tulungagung Tembus 120 Ton per Hari, TPA Terancam Overload
Volume sampah harian di Tulungagung meningkat menjadi 120 ton. DLH siapkan perluasan TPA Segawe dan dorong masyarakat memilah sampah untuk mengurangi beban pengolahan di hilir.
TULUNGAGUNG, SJP — Volume sampah harian di Kabupaten Tulungagung terus mengalami peningkatan. Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat menunjukkan, pada semester pertama 2025 rata-rata produksi sampah mencapai 114–120 ton per hari. Angka itu naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 110 ton per hari.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Tulungagung, Yudha Yanuar Hadi, menyebut peningkatan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, perubahan pola konsumsi, serta bertambahnya pelanggan layanan pengangkutan sampah dari desa dan instansi.
“Penggunaan kemasan sekali pakai semakin tinggi, daya beli masyarakat meningkat, dan akhirnya konsumsi ikut naik. Dampaknya, volume sampah juga bertambah,” ujarnya, Selasa (29/7/2025).
Saat ini, DLH Tulungagung melayani 185 titik tempat pembuangan sementara (TPS) yang tersebar di desa, kelurahan, fasilitas umum, dan sektor usaha. Beberapa puskesmas, sekolah, hingga perusahaan swasta juga mulai menggunakan layanan pengelolaan sampah dari DLH.
Yudha menjelaskan bahwa rumah tangga masih menjadi penyumbang sampah terbesar, yakni sekitar 65 persen dari total volume. Mayoritas merupakan sampah organik.
Kondisi ini berdampak pada kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Segawe di Kecamatan Pagerwojo yang semakin menipis. Hasil kajian Universitas Brawijaya menyebutkan, TPA tersebut diperkirakan akan mengalami kelebihan kapasitas (overload) pada 2029 atau 2030.
“Untuk itu, kami sedang menyusun Detail Engineering Design (DED) serta dokumen analisis dampak lingkungan (amdal) sebagai dasar perluasan TPA,” kata Yudha.
Rencana perluasan diarahkan ke lahan milik Perhutani yang berada di sekitar TPA. Luas lahan yang dibutuhkan diperkirakan antara 5 hingga 15 hektare, dengan pembagian 10 hektare untuk pengolahan dan 5 hektare untuk landfill atau penimbunan.
Menurut Yudha, pengelolaan TPA ke depan tidak hanya fokus pada pembuangan, tetapi juga pemanfaatan ulang. Beberapa metode yang akan diterapkan antara lain produksi Refused Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif, pengomposan sampah organik, dan budidaya maggot untuk limbah organik.
“Untuk sampah anorganik, kami sudah bermitra dengan sekitar 30 pemulung yang aktif memilah sampah bernilai ekonomi di lokasi TPA. Peran mereka sangat membantu dalam mengurangi sampah masuk,” tambahnya.
DLH juga aktif mengedukasi masyarakat agar memilah sampah dari rumah. Namun, masih banyak warga yang menganggap semua jenis sampah bisa dibuang begitu saja karena sudah membayar iuran.
“Kebiasaan itu masih menjadi tantangan. Padahal seharusnya hanya residu yang dibuang ke TPS. Sementara sampah bernilai seperti kardus, botol, dan kertas seharusnya bisa dipilah,” terang Yudha.
DLH berharap melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif, kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah semakin meningkat. Dengan begitu, tekanan terhadap TPA bisa ditekan secara bertahap. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

