Tuntut Perbaikan Jalan Rusak akibat Truk Tambang, Aksi Demo di Pasuruan Berujung Ricuh

Terjadi ketegangan adu mulut yang menimbulkan kericuhan dan akhirnya petugas kepolisian membubarkan demo tersebut

03 Feb 2025 - 17:32
Tuntut Perbaikan Jalan Rusak akibat Truk Tambang, Aksi Demo di Pasuruan Berujung Ricuh
Masaa yang memanas dengan pihak lain saat melakukan demo (foto isbi/sjp)

PASURUAN, SJP — Sejumlah warga Desa Sumberejo didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menggelar aksi demonstrasi di jalan raya. Tepatnya di depan tempat wisata Banyu Biru Desa Sumberjo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Senin (3/2/2025).

Warga menuntut perbaikan jalan yang rusak parah akibat lalu lintas dump truck bermuatan berat dengan tonase kurang lebih 30 ton milik perusahaan tambang pasir dan batu (sirtu).

Selain menuntut perbaikan jalan, warga juga meminta kompensasi atas dampak negatif yang mereka rasakan. Seperti polusi debu dan potensi kecelakaan lalu lintas.

Namun, waktu demo berlangsung, dan saat warga serta LSM menyampaikan pendapat di muka umum, ada sejumlah orang dari pihak lain tidak terima dengan pernyataan tersebut. 

Sehingga terjadi ketegangan adu mulut yang menimbulkan kericuhan. Akhirnya petugas kepolisian membubarkan aksi demo tersebut dan mengarahkan untuk audiensi ke dinas terkait.

Kordinator Barisan Masyarakat Winongan (BMW), Danang Puji Marta meminta agar dinas terkait atau perusahaan tambang untuk lebih memperhatikan jalan yang rusak parah. 

"Kami perwakilan warga meminta jalan rusak yang setiap hari kami lalui untuk segera diperbaiki dan meminta hak kami mendapatkan kompensasi atas kerugian yang kami alami," ujarnya, Senin (3/2/2025).

Direktur Pusat Studi dan Advokasi Kebijakan (Pusaka), Lujeng Sudarto meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum melakukan moratorium pertambangan yang ada di Kabupaten Pasuruan. 

"Hal ini biar ada ketertiban soal mana yang tambang legal dan mana yang tambang ilegal biar tidak liar merusak lingkungan. Karena selama bertahun tahun terdapat pembiaran, apalagi sejak turunnya hujan selalu ada bencana datang seperti banjir atau tanah longsor. Ini kita nilai bukan takdir, tetapi salah tata kelola lingkungan adanya munculnya tambang seperti di Kecamatan Winongan yang daerahnya adalah bagian tangkapan resapan air," kata Lujeng. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow