Transformasi dan Eksistensi MTC sebagai Gerakan Sehat, Sosial, Pangan, Hingga Kemanusiaan

Saat ini, MTC memiliki sekitar 220 anggota dari beragam latar belakang profesi di Malang Raya. Seluruh anggota didorong untuk berperan aktif sesuai kapasitas masing-masing.

01 Feb 2026 - 23:24
Transformasi dan Eksistensi MTC sebagai Gerakan Sehat, Sosial, Pangan, Hingga Kemanusiaan
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengenakan kemeja biru bersama Presiden MTC Yusron Virmanza berkemeja putih dan Founder MTC Rendra Kresna saat prosesi ground breaking pembangunan Kantor Malang Tahes Club di kawasan Araya, Kota Malang, Sabtu (31/1/2026). (Foto : Hafid/SJP)

MALANG, SJP —Transformasi Malang Tahes Club (MTC) tidak lahir dalam ruang hampa. Berangkat dari semangat hidup sehat, MTC kini menjelma menjadi gerakan sosial lintas profesi yang aktif dalam isu kemanusiaan, kebencanaan, hingga ketahanan pangan di Malang Raya.

Perjalanan tersebut kembali ditegaskan melalui kegiatan ground breaking pembangunan kantor MTC yang dirangkai dengan panen raya melon, baru-baru ini, di kawasan Araya, Kota Malang.

Agenda itu menjadi simbol eksistensi MTC sebagai komunitas yang terus tumbuh dan beradaptasi dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Dalam perkembangannya, MTC tak lagi cuma wadah aktivitas olahraga. Solidaritas yang terbangun dari kebersamaan antaranggota lintas profesi mendorong lahirnya berbagai aksi sosial, mulai dari kepedulian kemanusiaan, keterlibatan dalam penanganan bencana, hingga penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas.

Founder MTC, H. Rendra Kresna, menjelaskan bahwa sejak awal MTC dibangun sebagai ruang kebersamaan yang meniadakan sekat jabatan, pangkat, dan latar belakang pendidikan. Nilai kesetaraan tersebut menjadi fondasi kuat dalam menjaga eksistensi organisasi.

“Kita ingin MTC menjadi ruang bersama untuk berbuat kebaikan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semua setara dan bergerak sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Rendra Kresna, Minggu (1/2/2026).

Transformasi MTC semakin nyata melalui pengelolaan sektor ketahanan pangan. Di lokasi kegiatan, MTC mengembangkan empat greenhouse melon dan dua greenhouse anggur premium. Selain itu, di beberapa titik lain juga dikembangkan komoditas pertanian seperti jeruk dan alpukat.

Rendra menuturkan, seluruh hasil pertanian tersebut tidak semata berorientasi ekonomi, tetapi diarahkan untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan. MTC juga menyiapkan konsep wisata petik buah sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

“MTC ingin hadir sebagai bagian dari solusi, termasuk dalam mendukung pemurahan gizi dan ketahanan pangan. Apa yang kami kelola di sini manfaatnya harus kembali ke masyarakat,” jelasnya.

Eksistensi MTC juga diperkuat melalui pembangunan fasilitas olahraga yang inklusif. Bersamaan dengan pembangunan kantor, MTC merencanakan pembangunan lapangan tenis yang terbuka bagi berbagai kelompok usia, dilengkapi ruang interaksi sosial seperti kafe dan kuliner.

Menurut Rendra, konsep tersebut dirancang agar setiap aktivitas yang berlangsung di lingkungan MTC memiliki dampak sosial. Setiap orang yang datang bukan hanya berolahraga atau bersantai, tetapi turut berkontribusi dalam gerakan kemanusiaan yang dijalankan MTC.

Saat ini, MTC memiliki sekitar 220 anggota dari beragam latar belakang profesi di Malang Raya. Seluruh anggota didorong untuk berperan aktif sesuai kapasitas masing-masing.

“Kalau bisa membantu dengan tenaga, silakan. Dengan pemikiran, silakan. Bahkan dengan doa pun sudah menjadi bagian dari perjuangan bersama,” tutup mantan Bupati Malang itu. (*)

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow