Tradisi Bersih Dusun di Nganjuk, Lautan Manusia Berebut Sayur dan Buah Panen Raya

Tradisi tahunan Bersih Dusun yang digelar pada Jumat (5/6/2026) ini, berubah menjadi ajang pembuktian solidaritas sosial yang kuat di tengah riuhnya perebutan tiga gunungan hasil bumi raksasa.

05 Jun 2026 - 12:30
Tradisi Bersih Dusun di Nganjuk, Lautan Manusia Berebut Sayur dan Buah Panen Raya
Warga saat berebut tumpeng atau gunungan raksasa hasil bumi. (Foto: Kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP — Ratusan warga dari tiga dusun di Desa Jaan, Kecamatan Gondang, mengesampingkan sekat-sekat wilayah demi berebut berkah alam. 

Tradisi tahunan Bersih Dusun yang digelar pada Jumat (5/6/2026) ini, berubah menjadi ajang pembuktian solidaritas sosial yang kuat di tengah riuhnya perebutan tiga gunungan hasil bumi raksasa.

Bukan sekadar ritual seremonial, momentum ini menjadi simbol konkret bagaimana ketahanan pangan lokal dan kerukunan warga dirayakan tanpa jarak.

Jika biasanya acara adat bersifat eksklusif per wilayah, Bersih Dusun Jaan tahun ini mengusung misi yang lebih besar: rekonsiliasi dan penyatuan kultural. Tiga wilayah, yakni Dusun Jaan, Karangtengah, dan Payang, sengaja dilebur dalam satu titik perayaan di area panggung utama RW 02.

Kepala Desa Jaan, Adi Arianto, tidak dapat menyembunyikan rasa bangga sekaligus harunya saat melihat warganya memadati lokasi sejak pagi hari di bawah naungan tenda besar.

"Bersih Dusun Jaan tahun ini terasa sangat istimewa karena kita bisa mengumpulkan warga dari Dusun Jaan, Karangtengah, hingga Payang dalam satu ruang rasa syukur. Rebutan gunungan hasil bumi ini bukan sekadar berebut makanan, melainkan simbol bahwa berkah alam yang diberikan Tuhan harus dirasakan bersama tanpa ada sekat pembatas antardusun," ujar Adi Arianto kepada wartawan. 

Pantauan di lokasi menunjukkan atmosfer yang kontras namun tertib. Sejak pagi, lebih dari 300 warga telah menyemut di depan panggung utama yang dihiasi spanduk bertuliskan "Bersih Desa Jaan RW 2" serta pementasan dari Semi Karawitan Laras Argo Budoyo. 

Di atas panggung, tiga gunungan megah yang tersusun dari vegetasi segar, mulai dari sayuran hijau hingga buah-buahan, berdiri kokoh sebagai representasi suksesnya panen raya.

Namun, ketenangan tersebut runtuh seketika saat aba-aba dimulainya perebutan (rebutan) ditiupkan. Suasana langsung berubah drastis saar ratusan warga dari lintas generasi langsung merangsek maju tanpa ragu.

Di barisan depan, kelompok ibu-ibu berkerudung menunjukkan kelincahan luar biasa, berdesak-desakan langsung dengan barisan pemuda demi mengamankan sayuran segar.

Kendati terjadi kontak fisik dan aksi saling dorong, tidak ada gesekan negatif. Ketegangan fisik tersebut justru diredam oleh tawa, sorak-sorai, dan candaan antarwarga.

Ani, salah satu warga setempat yang keluar dari kerumunan dengan tangan penuh sayuran, mengungkapkan kegembiraannya.

"Ini adalah wujud syukur kami, dan semoga tahun depan panennya semakin melimpah," ujar Ani. 

Kehadiran Camat Gondang, Bayu Istas Sasongko, beserta jajaran perangkat desa, memberikan bobot politis dan sakral yang lebih tinggi pada acara ini. Kehadiran representasi pemerintah daerah tersebut dinilai sebagai legitimasi pentingnya pelestarian kearifan lokal di era modern.

Bayu Istas Sasongko memberikan apresiasi tinggi terhadap determinasi warga yang mampu menjaga situasi tetap kondusif di tengah massa yang masif. Pemerintah kecamatan melihat ini sebagai modal sosial yang kuat untuk pembangunan daerah.

Menutup jalannya acara yang diiringi lantunan musik tradisional Laras Argo Budoyo, Kepala Desa Adi Arianto menegaskan bahwa esensi gotong royong inilah yang menjadi benteng kebudayaan bagi generasi muda ke depan.

"Meskipun tadi suasananya sangat riuh dan saling berdesakan antara emak-emak dan pemuda, semuanya dilakukan dengan senyuman dan penuh kekeluargaan. Inilah esensi asli dari warga Jaan," pungkas Adi. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow