Warung Kopi Kaliurang, Sajikan Cita Rasa Desa dengan Suasana Sejuk ala Kampung

Kopi Kaliurang di Blitar menyajikan masakan rumahan khas desa dengan konsep joglo Jawa, suasana asri, dan harga terjangkau. Menu andalan seperti mangut lele dan rahang tuna jadi favorit. Tempat ini ramai dikunjungi, terutama saat jam makan dan akhir pekan.

28 Jul 2025 - 08:03
Warung Kopi Kaliurang, Sajikan Cita Rasa Desa dengan Suasana Sejuk ala Kampung
Warung Kopi Kaliurang di Wlingi, Kabupaten Blitar, diserbu pengunjung saat jam makan siang, Senin 21 Juli 2025. (Beritasatu.com/SJP)

BLITAR, SJP—Ingin mencicipi makanan khas pedesaan dengan suasana sejuk dan tenang seperti di kampung halaman? Warung Kopi Kaliurang yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, bisa menjadi pilihan yang tepat.

Tempat makan ini mengusung konsep rumah joglo khas Jawa yang kini banyak diminati, terutama oleh penikmat kuliner tradisional. Nuansa pedesaan terasa kuat melalui bangunan kayu bergaya joglo, halaman yang luas, serta pemandangan hijau yang menenangkan.

Warung Kopi Kaliurang menyajikan berbagai hidangan rumahan ala desa yang disusun secara prasmanan. Harganya pun sangat terjangkau, mulai dari belasan ribu rupiah. Salah satu menu favorit di sini adalah mangut ikan lele dan mangut rahang tuna. Keduanya dimasak dengan bumbu yang kaya dan memiliki cita rasa khas pedesaan.

Sebagai pelengkap, tersedia beragam lauk dan sambal pedas yang menambah kenikmatan. Pengunjung juga bisa memesan pisang goreng yang baru digoreng saat ada pesanan, sehingga rasanya masih hangat dan renyah. Sajian ini cocok dinikmati bersama secangkir kopi hitam panas yang diseduh langsung dari dapur warung.

Firdaus Setyawan, pemilik warung, menjelaskan bahwa konsep yang diusung terinspirasi dari kenangan masa kecil di rumah nenek.

“Kami ingin pengunjung merasa seperti pulang ke rumah nenek. Baik dari suasana hingga masakan, semuanya kami buat senyaman mungkin agar pengunjung bisa bernostalgia,” ujar Firdaus, Selasa (22/7/2025).

Firdaus menambahkan, warung ini bisa menerima sekitar 200 pengunjung setiap hari, dan jumlah itu meningkat saat akhir pekan maupun hari libur.

“Paling ramai biasanya saat jam makan siang atau sore, banyak yang datang untuk ngopi,” tambahnya.

Salah satu pengunjung, Yuli Krisnawati, menyebut bahwa dirinya mengetahui tempat ini melalui media sosial. Setelah berkunjung, ia langsung menyukai suasananya.

“Nuansanya kuno, nuansa desa. Saya penasaran karena lihat di medsos, dan setelah datang ke sini ternyata benar-benar nyaman dan masakannya enak,” ujarnya antusias. (**)

Sumber: Beritasatu.com
Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow