Tak Hanya Kampung Wayang, Kampung Ladu Juga Jadi Korban Launching Disparta

Pasca melaunching kampung wisata tersebut, keadaannya ternyata tak seindah yang dibayangkan sebab di lokasi tersebut saat ini tinggal menyisakan dua orang saja yang rutin memproduksi ladu.

25 Nov 2023 - 14:00
Tak Hanya Kampung Wayang, Kampung Ladu Juga Jadi Korban  Launching Disparta
Ratih Rohali, salah satu pengrajin Kue Ladu (SJP)

Kota Batu, SJP - Nasib Kampung Ladu di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ternyata bernasib sama dengan Kampung Wayang di Desa Beji.

Keduanya sama-sama ditinggal begitu saja, setelah dilaunching Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu. 

Pasalnya, Kampung Wisata Ladu, dilaunching pada 2021 lalu, dimaksudkan untuk melestarikan jajanan ladu khas Kota Batu. 

Saat itu, tujuan utamanya adalah memperkenalkan kepada wisatawan, mulai dari proses pembuatan jajanan ladu dari awal hingga akhir dengan harapan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Ironisnya, setelah dilaunching-nya kampung wisata tersebut, ternyata tak seindah yang dibayangkan. 

Di lokasi tersebut saat ini tinggal menyisakan dua orang saja yang rutin memproduksi ladu.

"Saat ini yang produksi dan jualan ladu hanya menyisakan dua orang saja. Dideklarasikan jadi Kampung Ladu, tapi yang rutin produksi hanya dua orang," kata salah satu pengrajin ladu, Sungkono Sabtu (25/11/2023).

Kepada Surajatimpost.com, ia beberkan support dari Disparta untuk memajukan Kampung Ladu hanya sekali saja yakni saat launching Kampung Ladu tahun 2021 lalu.

Setelahnya dilepas begitu saja dan tidak lagi dihubungi meski banyak event-event besar. 

Karena itu, ia merasa Kampung Ladu dimanfaatkan oleh Disparta Kota Batu.

"Dulunya di Kampung Ladu hampir setiap rumah memproduksi ladu. Terutama saat hendak memasuki bulan puasa. Sedangkan saat ini tinggal menyisakan dua orang saja. Sebenarnya minat konsumen cukup tinggi. Untuk pemasaran lokal Kota Batu saja sudah kewalahan. Dalam sehari kami bisa memproduksi sekitar 12 Kg. Karena tidak ada support untuk promosi, proses pemasaran kami memanfaatkan sosial media Tiktok," jelas dia. 

Pengerajin ladu lainnya, Ratih Rohali, sampaikan dulu pejabat Disparta pernah datang namun hanya melakukan pencatatan saja dan tidak ada tindak lanjut sampai saat ini.

"Karena itu, ketika ada Festival Kampung Ladu lagi, saya tidak mau ikut. Sebab selama ini kami hanya didatangi. Namun tidak ada tindak lanjut yang berarti. Sehingga saya tidak mau kalau hanya dimanfaatkan saja," tegasnya.

Dia mengaku, kondisi saat sebelum dan sesudah terkonsep sebagai Kampung Ladu sebenarnya tidak jauh berbeda karena hanya konsep semata tanpa dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.

Tidak adanya keseriusan tersebut tentu tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya seperti edukasi pembuatan ladu, penyuplai kue ladu ke berbagai daerah dan lain sebagainya. 

Perlu diketahui, hingga berita ini ditayangkan wartawan Suarajatimpost.com berupaya dapatkan konfirmasi dari Kepala Disparta dan Bidang Promosi dengan rincian dua kali pesan teks dan satu kali telepon Whatsapp kepada masing-masing narasumber.

Tak hanya itu saja Kepala Disparta juga tidak menghiraukan panggilan telepon sebanyak dua kali untuk memberikan keterangan terhadap nasib Kampung Ladu maupun Kampung Wayang. (*)

editor: trisukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow