Ritual Ganti Baju Rupang Dewa di Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung

Pergantian busana rupang utama, Dewi Mak Co, diawali dengan persembahyangan di depan altar. Setelah itu dilakukan ritual pakpoy yakni meminta izin secara spiritual sebelum menyentuh dan memandikan rupang dewa.

15 Feb 2026 - 23:18
Ritual Ganti Baju Rupang Dewa di Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung
Rupang Dewi Mak Co dikembalikan ke altar usai ritual penggatian baju dari baju kuning ke baju merah untuk menyambut Imlek. (Foto: Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Aroma dupa menyebar lembut di seluruh ruang Klenteng Tjoe Tik Kiong, Tulungagung, pada Minggu (15/2/2026) siang. Di balik pintu kayu bercat merah yang tertutup rapat, sebuah ritual sakral tengah berlangsung, pergantian busana seluruh rupang dewa atau perwujudan fisik dalam bentuk patung yang menggambarkan dewa, dari warna kuning ke merah.

Prosesi itu bukan sekadar mengganti kain dan aksesori. Bagi para umat, ritual ini menjadi simbol transisi menuju tahun yang baru, harapan yang baru, dan doa-doa yang kembali dipanjatkan dengan khidmat.

“Hari ini pergantian baju dari baju kuning ke baju merah. Untuk Imlek memang harus pakai baju merah karena merah melambangkan kebahagiaan,” ujar Tjio Jingjing, Bioma Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung.

Pergantian busana rupang utama, Dewi Mak Co, diawali dengan persembahyangan di depan altar. Setelah itu dilakukan ritual pakpoy yakni meminta izin secara spiritual sebelum menyentuh dan memandikan rupang dewa.

“Setelah minta izin melalui pakpoy, Mak Co dimandikan lalu diganti bajunya,” jelas Jingjing.

Suasana menjadi semakin sakral ketika prosesi memandikan dan mengganti busana dimulai. Seluruh pintu ruangan altar dewi Mak Co ditutup. Tidak semua orang diperkenankan masuk. Ada aturan adat yang dijaga turun-temurun.

“Pada saat memandikan dan mengganti baju Mak Co, laki-laki tidak boleh masuk. Yang boleh melakukan prosesi ini hanya wanita lajang yang belum memiliki suami,” ungkapnya.

Tak hanya Dewi Mak Co yang berganti warna busana. Seluruh rupang dewa yang berada di klenteng tersebut turut mengenakan pakaian merah sebagai simbol sukacita.

“Yang diganti bajunya Mak Co besar, Mak Co kecil, Nacha, Ho Jang Kun, Hotei Jin Sin, semuanya. Total ada sembilan dewa dan semuanya diganti,” terang Jingjing.

Warna kuning yang sebelumnya dikenakan melambangkan kemuliaan dan emas. Namun menjelang Imlek, warna merah menjadi dominan sebagai perlambang kebahagiaan, keberuntungan, dan energi positif.

“Maknanya ya itu tadi, kalau Imlek kita harus pakai baju merah. Istilahnya baju merah itu bahagia,” katanya.

Busana merah itu akan dikenakan hingga perayaan Senjit Mak Co, sebelum nantinya seluruh atribut kembali diganti dengan warna kuning.

“Nanti sampai Senjit (hari ulang tahun) Mak Co kita pakai merah. Setelah itu diganti lagi kuning, termasuk semua atributnya,” imbuhnya.

Tahun Baru Imlek 2026 menandai pergantian ke tahun Kuda Api. Dalam kepercayaan Tionghoa, unsur api identik dengan semangat dan energi besar, namun juga dapat memicu emosi yang tinggi.

“Tahun ini adalah tahun Kuda Api. Namanya kuda api ya banyak orang yang lagi emosi. Makanya kita harus berusaha sabar, tenang, jangan gegabah,” tutur Jingjing.

Ia berharap tahun ini membawa kebaikan bagi semua umat. Doa-doa dipanjatkan agar kehidupan di tahun yang baru berjalan lebih lancar.

“Harapannya ke depan sukses, lancar rezekinya, panjang umur, sehat terus,” ucapnya.

Dalam perhitungan shio, tahun ini disebut membawa ciong besar bagi pemilik shio Tikus, sementara ciong kecil dialami shio Ayam, Kuda, dan Kelinci. Meski demikian, Jingjing mengingatkan bahwa semua kembali pada sikap dan usaha masing-masing.

“Yang penting kita tetap berbuat baik, sabar, dan tidak gegabah. Itu yang utama,” pungkasnya.(*)

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow