Punden Mbah Lumpang di Baron Nganjuk Butuh Perhatian untuk Pelestarian Warisan Leluhur
Tempat yang dikeramatkan berada di Dusun Lobeser Timur Desa Baron, Kecamatan Baron ternyata memiliki aset spiritual jawa peninggalan leluhur berupa punden tua yang dipridiksi sudah berumur mencapai ribuan tahun lamanya,
NGANJUK, SJP — Kesadaran untuk menjaga warisan budaya lokal mulai tumbuh di tengah masyarakat dan pemerintah daerah. Salah satunya terlihat pada keberadaan Punden Mbah Lumpang di Dusun Lobeser Timur, Desa Baron, Kecamatan Baron, yang menyimpan jejak panjang peradaban masa lampau.
Situs ini ditandai dengan keberadaan batu kuno berbentuk lumpang yang berada di dalam cungkup. Secara historis, benda tersebut diyakini sebagai bagian dari praktik kepercayaan masyarakat masa lalu, sebelum masuknya agama-agama besar di tanah Jawa.
Punden Mbah Lumpang diperkirakan telah berusia ribuan tahun dan menjadi simbol peninggalan leluhur yang merepresentasikan budaya awal masyarakat Nusantara, khususnya yang berkaitan dengan paham animisme dan dinamisme.
Namun, dari hasil tinjauan lapangan, kondisi situs dinilai masih memerlukan perhatian lebih dalam hal perawatan. Meski demikian, keaslian lingkungan sekitar tetap terjaga, ditandai dengan keberadaan pohon tua berukuran besar dengan akar menjalar serta kain poleng yang melilit sebagai simbol kesakralan.
Pemerhati budaya, M. Ridwan atau yang akrab disapa Mbah Gondrong, menilai pelestarian situs ini perlu menjadi perhatian bersama.
“Kondisi situs punden ini perlu perawatan agar tetap terjaga sebagai tempat yang dikeramatkan,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Di sisi lain, masyarakat setempat masih menjaga tradisi yang berkaitan dengan punden tersebut. Salah satu warga, Bob Mariono, menyebut bahwa Punden Mbah Lumpang hingga kini kerap digunakan sebagai lokasi tasyakuran atau kenduren, baik dalam kegiatan bersih desa maupun hajatan pribadi.
“Kami ingin memastikan punden ini tetap lestari bagi generasi mendatang sebagai pengingat akan asal-usul kami. Sampai sekarang, yang datang ke sini juga tidak hanya warga lokal, tetapi dari luar daerah,” ungkapnya.
Keberadaan Punden Mbah Lumpang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga identitas budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, upaya pelestarian dinilai penting agar situs ini tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga tetap hidup dalam tradisi dan ingatan kolektif masyarakat.
Diharapkan, perhatian terhadap situs ini dapat menjadi contoh bagi pelestarian cagar budaya lainnya. Pelestarian warisan leluhur bukan semata tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

