Pria di Blitar Sulap Helm Jadul Jadi Bisnis Bernilai Tinggi

Beragam model helm klasik, mulai dari helm chips hingga helm bermotif orisinal, tampak memenuhi ruangan. Sebagian di antaranya merupakan koleksi pribadi, sementara sisanya siap dipasarkan kepada para kolektor.

28 Jul 2026 - 11:30
Pria di Blitar Sulap Helm Jadul Jadi Bisnis Bernilai Tinggi
Arik saat merestorasi helm jadul di rumahnya Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. (Foto : Ninda Kinanti/SJP)

BLITAR, SJP–Maraknya tren motor klasik turut mengerek popularitas helm jadul di kalangan penghobi. Helm berdesain lawas yang dulu dianggap barang usang, kini resmi naik kelas menjadi barang koleksi bernilai ekonomi tinggi.

Peluang bisnis bernilai tinggi ini berhasil ditangkap oleh Arik Agung Prasetyo Budi (35), warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Berawal dari kegemaran mengoleksi helm lawas, Arik kini sukses membesarkan usaha restorasi helm jadul dengan jangkauan pelanggan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Saat memasuki rumah sekaligus showroom miliknya, pengunjung langsung disambut deretan helm lawas yang tersusun rapi di rak ruang tamu. Beragam model helm klasik, mulai dari helm chips hingga helm bermotif orisinal, tampak memenuhi ruangan. Sebagian di antaranya merupakan koleksi pribadi, sementara sisanya siap dipasarkan kepada para kolektor.

Arik mengaku awalnya tidak pernah membayangkan hobinya bakal berubah menjadi sumber penghasilan utama. Pada 2016, ia sekadar iseng mengunggah beberapa helm koleksi pribadinya ke media sosial. Respons dari para kolektor ternyata di luar dugaan. Helm yang dipajang langsung disergap pembeli, yang makin meyakinkannya bahwa helm jadul memiliki pangsa pasar tersendiri.

"Dulu saya cuma jual koleksi pribadi. Saya posting di media sosial ternyata langsung laku. Dari situ saya berpikir usaha helm jadul ini memang ada pasarnya," kata Arik, Selasa (28/7/2026).

Melihat permintaan pasar yang terus melonjak, Arik mulai serius menekuni usaha tersebut. Pada 2018, ia mengambil keputusan berani untuk meninggalkan pekerjaan serabutannya sebagai tukang bangunan dan fotografer pernikahan demi fokus menjalankan bisnis restorasi helm jadul.

Untuk bahan baku, ia memperolehnya dari pengepul barang bekas maupun sesama anggota komunitas pecinta barang lawas. Helm bekas yang dibeli dengan harga rata-rata Rp75 ribu kemudian dipugar total, mulai dari proses pengecatan ulang, perbaikan komponen yang rusak, hingga pemasangan aksesori pendukung tanpa menghilangkan nilai keasliannya.

"Harga bahan sekitar Rp75 ribu per biji. Setelah direstorasi, bisa dijual mulai Rp150 ribu sampai Rp300 ribu. Kalau helm chips kondisinya bagus dan masih orisinal, harganya bisa sampai Rp350 ribu," ujarnya.

Menurut Arik, aspek keaslian cat, stiker, hingga kelengkapan aksesori menjadi faktor kunci yang menentukan nilai jual helm jadul. Semakin orisinal dan utuh kondisinya, maka semakin tinggi pula harga yang berani ditawar oleh para kolektor.

Untuk strategi pemasaran, Arik memanfaatkan jalur online melalui berbagai grup komunitas motor klasik dan barang antik. Strategi ini terbukti ampuh membuat karya restorasinya dilirik tak hanya oleh warga Blitar, tetapi juga para pembeli dari Jakarta, Jawa Barat, hingga Bali.

"Rata-rata dalam sebulan bisa terjual sekitar 30 unit. Kebanyakan pembeli berasal dari luar daerah karena komunitas motor klasik di sana cukup banyak," jelasnya.

Arik kini juga aktif berjejaring dalam komunitas pecinta barang jadul guna memperluas jangkauan pasar sekaligus mempermudah akses berburu helm-helm lawas yang layak direstorasi. 

Bagi Arik, setiap helm bukan sekadar barang bekas tak terpakai, melainkan memiliki rekam jejak sejarah yang bisa dihidupkan kembali lewat sentuhan kreativitas.

Lewat hobi sederhana ini, Arik membuktikan bahwa barang antik yang dulunya terabaikan kini mampu menjelma menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi yang terus diburu para pecinta motor klasik dari berbagai penjuru daerah. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow