Potret Pendidikan di Bondowoso, Antara Dinding Runtuh dan Mimpi yang Utuh di SD Banyuwulu 4
Potret memilukan fasilitas SDN Banyuwulu 2 dan 4 di pelosok Bondowoso; bangunan rusak parah, kekurangan guru, namun semangat belajar siswa tetap menyala di tengah keterbatasan.
BONDOWOSO, SJP — Di balik hamparan perbukitan di Kecamatan Wringin, langkah kecil anak-anak menuju sekolah menyimpan cerita yang tak banyak diketahui. Mereka datang dengan semangat belajar yang utuh, meski harus menembus jalan yang tak mudah dan memasuki bangunan sekolah yang jauh dari kata layak.
Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat lahirnya mimpi, justru berdiri dengan kondisi rapuh. Dinding retak, atap rusak, dan sisa-sisa bangunan yang nyaris tak bisa lagi digunakan menjadi pemandangan sehari-hari di SDN Banyuwulu 2 dan SDN Banyuwulu 4. Saat angin kencang atau hujan datang, rasa cemas lebih dulu hadir dibanding kenyamanan belajar.
Namun, di tengah keterbatasan itu, anak-anak tetap duduk rapi, membuka buku, dan menyimak pelajaran dengan penuh harap. Sekolah bagi mereka bukan sekadar bangunan, melainkan satu-satunya jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik, meski harus bertaruh dengan kondisi yang serba kekurangan.
Ironisnya, perjuangan itu juga dirasakan para guru. Mereka menempuh perjalanan jauh demi memastikan kegiatan belajar tetap berjalan. Di tengah segala keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar, semangat untuk tetap mengajar dan belajar menjadi potret keteguhan yang mengharukan.
Kondisi infrastruktur pendidikan di wilayah pelosok Kabupaten Bondowoso ini kembali menjadi sorotan setelah Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid bersama Wakil Bupati As’ad Yahya Syafi’i dan jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) meninjau langsung SD Banyuwulu 2 dan SD Banyuwulu 4, Jumat (24/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, ditemukan kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera. Kerusakan infrastruktur dinilai cukup parah dan berpotensi mengganggu proses belajar mengajar.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, mengakui bahwa persoalan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah besar di sektor pendidikan, khususnya di daerah terpencil.
“Kita akui memang masih ada masalah, terutama infrastruktur. Dari hasil kunjungan ke SD Banyuwulu 2 dan 4, kondisinya cukup mengenaskan. Ini menjadi bahan evaluasi dan dasar kebijakan ke depan,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Taufan juga menyoroti keterbatasan tenaga pendidik di wilayah tersebut. Di SD Banyuwulu 4, kepala sekolah harus menempuh perjalanan hingga dua jam setiap hari untuk sampai ke lokasi. Hal serupa juga dialami beberapa guru lainnya yang berasal dari luar daerah.
“Kondisi ini menjadi dilema. Kalau kita lakukan pemerataan guru, lalu siapa yang akan mengisi di sekolah tersebut. Sementara jumlah siswa tetap harus dilayani,” jelasnya.
Saat ini, jumlah siswa di kawasan tersebut tercatat sekitar 69 siswa tingkat SD dan 15 siswa tingkat SMP. Meski jumlahnya tidak besar, pemerintah menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan layanan pendidikan yang layak.
Terkait upaya perbaikan, Pemkab Bondowoso telah mengusulkan revitalisasi bangunan sekolah, khususnya di SD Banyuwulu 4. Jika hingga pertengahan tahun belum ada realisasi dari pemerintah pusat, maka perbaikan akan diupayakan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kalau sampai bulan Juni belum ada keputusan, kita akan upayakan dari APBD, semoga anggaran kita memungkinkan untuk perbaikan,” tegas Taufan.
Sementara itu, penjaga sekolah, Surajak, menyampaikan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah perbaikan ruang kelas. Menurutnya, bangunan sekolah sudah mengalami kerusakan parah sejak diterjang angin kencang pada 2017 lalu.
“Di sini hanya ada dua ruang kelas SD, dan kondisinya memang memprihatinkan. Dulu sempat digunakan untuk kegiatan belajar, tapi saat musim hujan dan angin, kerusakan semakin parah hingga temboknya hancur dan akhirnya tidak bisa dipakai lagi,” ungkapnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

