Polisi Bagi 3 Klaster Korban Tragedi Ponpes Al-Khoziny

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menjelaskan proses identifikasi korban musala Ponpes Al-Khoziny dibagi ke dalam tiga klaster besar: santri, pengurus pesantren, dan pekerja pembangunan. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pelacakan korban dan memastikan kejelasan identitas mereka.

04 Oct 2025 - 08:04
Polisi Bagi 3 Klaster Korban Tragedi Ponpes Al-Khoziny
Keluarga korban ambruknya Ponpes Al-Khoziny mulai mendatangi posko ante mortem RS Bhayangkara Polda Jatim untuk menyerahkan data identifikasi, Sabtu 3 Oktober 2025. (Foto: Beritasatu.com/Nanda Andrianta)

SURABAYA, SJP – Kepolisian Daerah Jawa Timur membagi proses identifikasi korban ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, ke dalam tiga klaster utama. Pembagian ini meliputi kelompok santri, pengurus pesantren, dan pekerja pembangunan.

“(Datanya) kita bagi dalam tiga klaster, pertama jumlah santrinya, kedua pengurus pesantren, dan ketiga pekerja yang melakukan pembangunan. Dari data itu kita kumpulkan, meski untuk pekerja bangunan masih belum diketahui siapa saja,” ujar Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto saat meninjau pos DVI di RS Bhayangkara Polda Jatim, Jumat (3/10/2025).

Menurut Nanang, pembagian klaster menjadi langkah penting agar pelacakan keberadaan penghuni ponpes saat musala runtuh dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.

Dari hasil pendataan awal, data santri dan pengurus sudah mulai terkumpul, sedangkan identifikasi pekerja bangunan masih terus berjalan.

Nanang menegaskan sejak hari pertama, prioritas utama tim gabungan tetap tertuju pada penyelamatan korban. Namun setelah masa golden time berakhir, fokus kini bergeser pada proses pembersihan material reruntuhan sambil tetap melanjutkan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan.

Hingga Jumat siang, sebanyak lima jenazah terbaru tengah menjalani proses identifikasi di RS Bhayangkara Surabaya menggunakan data biometrik, tes DNA, dan barang-barang pribadi korban.

“Pendataan awal kami juga dibantu dukcapil. Data diambil dari sidik jari, retina, darah DNA, hingga pakaian yang dipakai,” jelasnya.

Identifikasi korban menjadi kunci agar keluarga bisa segera mendapatkan kepastian mengenai nasib anggota keluarga mereka. Kapolda Jatim menegaskan seluruh proses dilakukan transparan melalui posko pendataan yang juga dapat diakses oleh media.

Sejauh ini, petugas mencatat masih ada lebih dari 50 orang yang belum diketahui keberadaannya akibat tragedi ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny tersebut. (**)

Editor: Rizqi Ardian 
Sumber: Beritasatu.com

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow