Pemkab Bondowoso Optimistis Raih KLA Kategori Nindya
Bupati telah memaparkan inovasi, kolaborasi, indikator dan kondisi terkini Kabupaten Bondowoso kepada Kementerian PPPA.
BONDOWOSO, SJP – Sebagai penyandang status Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Madya, Kabupaten Bondowoso kini bersiap untuk naik satu tingkat menuju KLA kategori Nindya.
Kabupaten berjuluk Bondowoso Republik Kopi ini, telah mengirimkan data berupa dokumen pendukung kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Bahkan, hari ini, Senin (21/4/2025) Kementerian PPPA tengah melakukan verifikasi lapangan secara hybrid bersama Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid yang diikuti oleh beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Aula Sabha Bina Praja.
Menurut Kepala Dinsos P3AKB, Anisatul Hamidah, tim evaluator dari Kementerian PPPA langsung mengonfirmasi paparan bupati perihal inovasi-inovasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso.
“Kementerian PPPA memberikan apresiasi, karena di Bondowoso banyak sekali inovasinya. Contohnya, Wajar Siaga (Wujudkan anak belajar dengan senang, nyaman dan bahagia) milik Dinas Pendidikan,” ungkapnya.
Inovasi Wajar Siaga Milik Dinas Pendidikan
Inovasi Wajar Siaga, kata Anisatul Hamidah, diterapkan di semua lembaga sekolah, dari tingkat Paud hingga SMP. Artinya, sebelum proses belajar mengajar dimulai, tenaga pendidik terlebih dahulu menanyakan kondisi anak.
“Jadi, sebelum memberikan pelajaran, guru bertanya, apakah anak-anak baik-baik saja dan dalam kondisi prima apa tidak. Sehingga, mereka menerima transfer ilmu pengetahuan dalam keadaan nyaman,” ujarnya.
Tidak di awal sebelum memulai pelajaran saja, para pendidik juga melakukan pendekatan psikologis kepada anak-anak, sebelum proses belajar mengajar di sekolah berakhir.
“5 menit sebelum menutup pelajaran, guru bertanya lagi kondisi anak-anak. Apakah baik-baik saja dan tidak ada perundungan selama di sekolah,” jelas Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) ini.
Inovasi Lemper Usus Milik Dinsos P3AKB
Lemper Usus merupakan kepanjangan dari Layanan Empati Perlindungan Khusus. Inovasi ini dirancang untuk memberikan perlindungan dan layanan khusus bagi anak-anak dan perempuan yang mengalami kekerasan, diskriminasi, atau perlakuan tidak adil.
Kepala Dinsos P3AKB, Anisatul Hamidah menerangkan, Lemper Usus merupakan inovasi layanan terpadu yang mengutamakan empati dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.
“Melalui pendekatan kolaboratif, layanan ini menghubungkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, psikolog, pekerja sosial, dan masyarakat, untuk menciptakan sistem perlindungan yang lebih responsif dan efektif,” jelasnya.
Inovasi ini untuk mengantisipasi fenomena kekerasan terhadap anak dan perempuan yang sampai saat ini masih menjadi masalah serius. Lemper Usus hadir sebagai solusi inovatif untuk memberikan perlindungan secara cepat, aman, dan berkelanjutan.
“Layanan ini tidak hanya fokus pada penanganan, tetapi juga pencegahan melalui edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pendekatan berbasis empati. Kami tidak diskriminatif memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus,” paparnya.
Optimistis Raih KLA Kategori Nindya
Verifikasi lapangan yang dilakukan oleh Kementerian PPPA, merupakan langkah awal Kabupaten Bondowoso menuju Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Nindya.
Pasalnya, Kementerian PPPA tengah mengonfirmasi inovasi, regulasi dan kolaborasi program-program yang ada di beberapa OPD dalam mendukung KLA kategori Nindya di Bumi Ki Ronggo.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid optimistis bisa meraih KLA kategori Nindya, melihat saat ini kolaborasi antar OPD dan organisasi lain, seperti TP PKK, Fatayat, Ormas, Puspaga, pondok konseling di setiap kecamatan sudah berjalan seiring dan sejalan.
“Layanan-layanan ini untuk mendekatkan kepada masyarakat. Sehingga, saat ada korban kekerasan, bisa segera melapor kepada layanan terdekat yang ada di tingkat desa maupun kecamatan,” katanya.
Ditambahkan oleh Kepala Dinsos P3AKB, ada 24 indikator yang terbagi beberapa kluster dalam mendukung Bondowoso sebagai KLA kategori Nindya. Kluster ini, menurut Anisatul Hamidah, sudah berjalan sejak lama.
“Ada 24 indikator yang terbagi dalam kluster kelembagaan, kesehatan, layanan pusat informasi anak. Bahkan, saat ini meskipun angka laporan kekerasan terhadap anak meningkat, saat ini masyarakat sudah berani melapor, karena mereka yakin, aduan tersebut akan ditindak lanjuti oleh Satgas PPA Polres Bondowoso,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

