Pembangunan Pasar Kesamben Terhambat, 200 Pedagang Pasar Pagi Blitar Tolak Relokasi
Salah satu pedagang, Siti Romlah, menolak rencana relokasi tersebut. Perempuan yang sudah berjualan selama belasan tahun itu mengaku waktu berjualannya hanya pada malam hingga dini hari. Ia bersama penjual lainnya berharap tidak dipindahkan.
BLITAR, SJP–Upaya relokasi pedagang pasar pagi di kawasan proyek pembangunan Pasar Kesamben, Kabupaten Blitar, kembali menemui jalan buntu. Meski fasilitas penampungan sementara telah disiapkan, para pedagang tetap bersikeras bertahan di lokasi lama.
Pada Rabu (6/5/2026) dini hari, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar kembali meninjau lapangan untuk memindahkan para pedagang ke Lapangan Babadan, Kesamben. Namun, pendekatan yang dilakukan belum membuahkan hasil.
Salah satu pedagang, Siti Romlah, menolak rencana relokasi tersebut. Perempuan yang sudah berjualan selama belasan tahun itu mengaku waktu berjualannya hanya pada malam hingga dini hari. Ia bersama penjual lainnya berharap tidak dipindahkan.
"Kami jualan hanya beberapa jam, mulai dini hari sampai pagi. Kalau pindah, belum tentu pembeli ikut," ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Para pedagang pasar pagi diketahui beraktivitas sejak pukul 01.00 hingga 06.00 WIB di sekitar area proyek pembangunan Pasar Kesamben. Mereka berjualan menggunakan kendaraan pikap maupun menggelar dagangan di tepi jalan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar, Darmadi, menegaskan bahwa relokasi dilakukan demi kelancaran pembangunan Pasar Kesamben.
Lokasi yang saat ini digunakan pedagang dinilai berpotensi menghambat akses kendaraan proyek.
"Area tersebut sangat dekat dengan jalur keluar masuk proyek. Kami khawatir aktivitas pasar pagi mengganggu proses pembangunan," jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah sebenarnya telah menyiapkan lokasi alternatif yang lebih layak, yakni di Lapangan Babadan. Lokasi tersebut sudah dilengkapi paving, sehingga tidak lagi becek seperti yang sebelumnya dikeluhkan pedagang.
Meski demikian, kekhawatiran terkait penurunan penghasilan menjadi alasan utama penolakan. Bahkan, pedagang yang sempat mencoba pindah sebelumnya memilih kembali ke lokasi awal karena sepinya pembeli.
Jumlah pedagang pasar pagi di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 orang. Hingga kini, Disperindag masih mengedepankan pendekatan persuasif agar para pedagang bersedia direlokasi tanpa konflik.
"Mereka sejak awal juga ikut pindah ke tempat relokasi bersama pedagang lain. Saat itu, sebagian pedagang mau pindah dan sebagian lagi tidak mau. Akhirnya yang sudah pindah balik lagi ke tempat awal," pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

