Bondowoso Lampaui Target Peserta MOW, Dinsos P3AKB Siapkan 82 Akseptor dari Seluruh Kecamatan

Pelayanan MOW yang dilakukan saat ini menggunakan teknik laparoskopi yang dinilai lebih aman dan minim risiko. Metode tersebut hanya memerlukan sayatan kecil sekitar satu sentimeter sehingga proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat.

20 Jun 2026 - 13:57
Bondowoso Lampaui Target Peserta MOW, Dinsos P3AKB Siapkan 82 Akseptor dari Seluruh Kecamatan
Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, dr Moh Imron saat meninjau salah seorang akseptor usai menjalani MOW di RSUD dr H Koesnadi Bondowoso (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Antusiasme masyarakat Bondowoso terhadap program Keluarga Berencana (KB) Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi terus menunjukkan tren positif. Meski jumlah peserta tahun ini tercatat 82 akseptor, Pemerintah Kabupaten Bondowoso memastikan angka tersebut bukan menunjukkan penurunan minat masyarakat, melainkan karena adanya pembatasan kuota program dari pemerintah pusat dan provinsi.

Pelaksanaan pelayanan MOW yang dipusatkan di RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, Sabtu (20/6/2026), menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk sekaligus meningkatkan kualitas keluarga melalui program KB jangka panjang.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso, dr. Moh. Imron, mengatakan, pihaknya sebenarnya hanya mendapat target 70 peserta pada tahun ini. Namun berkat dukungan pemerintah provinsi, kuota tersebut bertambah hingga mencapai 82 akseptor.

"Target awal kita sebenarnya 70 peserta. Alhamdulillah ada tambahan kuota dari provinsi sehingga total yang bisa kita layani tahun ini mencapai 82 akseptor," kata dr. Imron usai meninjau proses pelayanan MOW di RSUD dr. H. Koesnadi.

Menurutnya, seluruh peserta berasal dari Kabupaten Bondowoso dan telah melalui proses seleksi serta pemeriksaan kesehatan secara ketat di 25 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan.

"Kami melakukan screening kesehatan terlebih dahulu. Peserta dipastikan tidak memiliki penyakit penyerta dan memenuhi syarat medis untuk menjalani tindakan MOW," ujarnya.

Dr. Imron menegaskan, tingginya minat masyarakat terhadap program tersebut terlihat dari jumlah pendaftar yang jauh melebihi kuota yang tersedia. Bahkan, calon peserta yang berminat tercatat mencapai sekitar 300 orang.

"Jadi bukan karena animonya berkurang. Justru peminatnya sangat banyak. Namun kuota yang tersedia tahun ini hanya 82 peserta sehingga yang belum terlayani akan tetap kami fasilitasi melalui program pemerintah daerah," jelasnya.

Ia menambahkan, pembiayaan program berasal dari kolaborasi anggaran pemerintah pusat melalui APBN yang telah dikoordinasikan bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Perwakilan BKKBN Jawa Timur, serta dukungan APBD Kabupaten Bondowoso.

Program MOW sendiri merupakan salah satu strategi pemerintah dalam membangun keluarga yang lebih berkualitas. Selain untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk, program ini diharapkan dapat membantu keluarga merencanakan masa depan anak secara lebih optimal.

"Kita ingin keluarga di Bondowoso menjadi lebih berkualitas. Anak-anak yang dilahirkan juga bisa tumbuh dengan baik dan mendapatkan perhatian yang maksimal dari orang tuanya," tutur dr. Imron.

Ia menjelaskan, peserta MOW umumnya berasal dari pasangan usia subur yang masih berada pada masa reproduktif dan telah memiliki jumlah anak sesuai perencanaan keluarga. Karena itu, program ini tidak diperuntukkan bagi perempuan yang telah memasuki masa menopause.

Selain MOW, Dinsos P3AKB Bondowoso juga terus mendorong partisipasi pria dalam program KB melalui Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi. Pada tahun 2026, pemerintah daerah menargetkan sedikitnya 10 akseptor MOP.

"Untuk MOP tahun ini ada target 10 peserta. Pelaksanaannya nanti akan kami informasikan lebih lanjut dan bisa dilakukan di fasilitas kesehatan yang telah disiapkan," katanya.

Sementara itu, pelayanan MOW yang dilakukan saat ini menggunakan teknik laparoskopi yang dinilai lebih aman dan minim risiko. Metode tersebut hanya memerlukan sayatan kecil sekitar satu sentimeter sehingga proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat.

Namun demikian, dr. Imron menegaskan bahwa tindakan tersebut harus dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki kompetensi khusus dan telah mendapatkan pelatihan laparoskopi sesuai standar pelayanan kesehatan.

"Teknik laparoskopi membutuhkan dokter yang memiliki kompetensi dan sertifikasi khusus. Karena itu pelaksanaannya harus dilakukan oleh tenaga medis yang benar-benar terlatih," pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow