Peduli Kesehatan Warga Binaan, Lapas Bondowoso Screening TBC untuk 419 Narapidana

Lapas Kelas IIB Bondowoso menggelar screening TBC bagi 419 warga binaan, bekerja sama dengan Kemenkes dan Kemenkumham. Kegiatan ini wujud kepedulian terhadap hak kesehatan narapidana serta upaya pencegahan penularan TBC di lingkungan overcapacity pemasyarakatan.

21 Oct 2025 - 13:44
Peduli Kesehatan Warga Binaan, Lapas Bondowoso Screening TBC untuk 419 Narapidana
Warga binaan Lapas Kelas IIB Bondowoso saat mengikuti screening TBC (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Suasana di aula tengah Lapas Kelas IIB Bondowoso, Selasa (21/10/2025) pagi, tampak berbeda dari biasanya. Satu per satu warga binaan antre dengan tertib, menunggu giliran menjalani pemeriksaan rontgen dada dan wawancara kesehatan. Bukan untuk sidang atau kunjungan, melainkan demi satu hal penting: memastikan mereka bebas dari penyakit tuberkulosis (TBC).

Kegiatan ini merupakan screening massal TBC yang digelar oleh Lapas Bondowoso bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, Dinas Kesehatan, Puskesmas Kota Kulon Bondowoso, serta PT Cito Putra Utama sebagai pelaksana teknis. Sebanyak 419 warga binaan, baik laki-laki maupun perempuan, menjalani pemeriksaan lengkap tanpa terkecuali.

Kepala Lapas Kelas IIB Bondowoso, Nunus Ananto, menegaskan, kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap hak kesehatan warga binaan.

“Walaupun mereka berstatus narapidana, mereka tetap warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu kami memastikan semua, tanpa terkecuali, mengikuti screening hari ini,” ujar Nunus.

Semula, kegiatan ini hanya menargetkan 384 warga binaan sesuai alokasi anggaran. Namun karena jumlah penghuni lapas mencapai 419 orang, pihak lapas mengajukan agar semua diikutsertakan.

“Kalau ada satu yang tidak di-screening, risikonya bisa menular ke yang lain. Syukurlah, semua disetujui,” tambahnya.

Menurut Nunus, kegiatan tersebut juga merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden untuk mengutamakan layanan kesehatan masyarakat, termasuk di lingkungan pemasyarakatan yang rentan terhadap penularan penyakit menular seperti TBC.

Risiko Tinggi di Balik Tembok Lapas

Nunus Ananto menjelaskan, kondisi over capacity di Lapas membuat potensi penularan TBC cukup tinggi. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting sebelum penyakit menyebar.

“Kami tidak hanya mendata, tapi juga menyiapkan penanganan lanjutan. Kalau ditemukan indikasi TBC, warga binaan akan dipetakan dan ditempatkan di kamar terpisah sesuai tingkat keparahan, bukan untuk diasingkan, tapi untuk pengobatan,” jelasnya.

Saat ini, lanjut Nunus, dua warga binaan sudah terkonfirmasi positif TBC dan tengah menjalani pengobatan intensif selama satu bulan terakhir. Mereka mendapat pendampingan dari tim medis lapas dan diawasi langsung setiap hari.

Selain pengobatan, pihak Lapas juga memperkuat upaya pencegahan melalui pola hidup sehat.

“Kami punya program rutin: senam pagi, berjemur, dan pembersihan kamar. Petugas juga keliling memastikan hunian steril dan lembapnya ruangan terkendali. Kalau ada area mencurigakan, langsung kami semprot disinfektan,” tuturnya.

Di tengah rutinitas di balik jeruji, kegiatan ini menghadirkan suasana yang berbeda. Banyak warga binaan tampak lega setelah mengetahui hasil pemeriksaan mereka normal. Ada juga yang sempat khawatir namun merasa tenang karena mendapat perhatian dan pendampingan langsung dari tenaga medis.

Bagi Nunus, kegiatan ini bukan sekadar program kesehatan, tetapi wujud kemanusiaan.

“Setiap nyawa itu berharga. Mereka tetap manusia yang punya hak untuk sehat dan sembuh. Kami ingin mereka keluar nanti dalam kondisi lebih baik, bukan hanya dari sisi moral, tapi juga fisik,” ucapnya.

Deteksi dengan Teknologi dan Empati

Sementara itu, dr. Lionir, dokter di Lapas Bondowoso, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi dengan teknologi digital.

“Screening dilakukan melalui dua tahap, wawancara gejala dan pemeriksaan rontgen dada. Seluruh warga binaan kami rontgen karena tujuan utamanya memang penemuan kasus TBC melalui rontgen,” ujar dr. Lionir.

Hasil rontgen dikirim secara real time ke dokter spesialis radiologi dari pihak vendor, yang kemudian memberikan rekomendasi tindak lanjut. Jika ditemukan indikasi kuat, pemeriksaan tes dahak (DH) dilakukan untuk memastikan keberadaan bakteri TBC.

“Gejala umumnya seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, keringat malam, dan demam berulang. Kalau hasil DH positif, kami langsung atur terapi. Semua proses ini holistik, melibatkan dokter umum, spesialis, dan tenaga kesehatan lapas,” tambahnya.

Hasil rontgen bisa diketahui hari yang sama, sedangkan hasil pemeriksaan dahak memerlukan waktu sekitar tiga hari karena antrean laboratorium di rumah sakit dan puskesmas.

Melalui screening ini, Lapas Bondowoso berharap dapat menekan angka penularan TBC di lingkungan pemasyarakatan dan menjadi contoh bagi UPT pemasyarakatan lainnya.

“Ini langkah kecil, tapi berarti besar bagi mereka. Karena kesehatan bukan hanya hak, tapi juga pintu menuju pemulihan,” tutup dr. Lionirr. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow