Inovatif, Pasutri di Mojokerto Berbagi Tugas Ciptakan Stik Berbahan Dasar Daun Kelor

Pasutri ini berbagi tugas. Si suami bagian mengupas dan membersihkan bahan baku. Sementara si istri bagian membumbui dan menggoreng.

26 Jan 2025 - 11:58
Inovatif, Pasutri di Mojokerto Berbagi Tugas Ciptakan Stik Berbahan Dasar Daun Kelor
Sulistyowati saat menunjukkan berbagai macam produknya. (Syaiful/SJP)

KOTA MOJOKERTO, SJP - Pasangan suami istri (pasutri) Purwanto (59) dan Sulistyowati (49) asal Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto berhasil menyulap daun kelor menjadi jajanan stik.

Selain stik berbahan dasar daun kelor, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) ini juga memproduksi stik berbahan dasar bawang dan aneka keripik olahan.

Dari tangan pasutri ini, banyak jajanan menarik dari berbagai bahan dasar tercipta. Mulai dari bahan dasar pisang, talas, sukun dan singkong.

Dalam menggeluti usahanya, Purwanto dan Sulistyowati berbagi peran. Purwanto bertugas mengupas dan membersihkan bahan baku.

Sementara Sulistyowati bertugas di bagian menggoreng bahan baku, memberi bumbu dan packing. Pasutri ini memulai usahanya sejak 6 tahun lalu dengan modal awal Rp 1,5 juta.

“Tahun 2018 dulu diawali dengan modal Rp 1,5 juta,” kata Sulistyowati saat diwawancarai, Selasa (21/1/2025).

Pada awal 2018, mereka hanya membuat stik berbahan dasar daun kelor dan bawang. Namun karena permintaan pasar, aneka ragam camilan pun mereka buat. 

Karena beragamnya permintaan pasar itu, mereka mulai coba-coba memproduksi camilan jenis lain. Hingga terciptalah aneka kripik pada tahun 2019.

Meski jajanan buatannya mulai banyak dikenal, namun Purwanto masih menggunakan peralatan tradisional. Bahkan dia masih menggunakan kayu bakar saat memasak. 

Awal mula Sulistyowati mendapatkan ide untuk membuat stik kelor dari perlombaan inovasi kudapan. Sejak saat itu, dia termotivasi membuat jajanan stik sehat untuk camilan anak-anak.

“Pertama itu stik kelor. Masih saya ingat sekali. Waktu itu ada lomba kudapan kelor. Jadi saya buatlah stik kelor, supaya anak-anak mau. Kalau sayur gitu kan gak mau,” ungkapnya.

Dalam memasarkan produk, dia menitipkan camilan buatannya ke sejumlah warung-warung dan pusat oleh-oleh. Bahkan kini dia mulai merambah pemasaran secara online.

Jajanan dengan ukuran besar dibanderol dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu. Sementara untuk ukuran kecil yang dijual di warung kopi dibanderol Rp 2 ribu.

“Selain pusat oleh-oleh dan reseller, saya tetap menaruh di warkop dan toko-toko kecil begitu. Tapi kemasan yang plastik kecil Rp 2 ribu,” terangnya.

“Untuk omzet per bulan tak menentu. Rata-rata di angka Rp 3 juta. Untuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari,” tandasnya. (*) 

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow