Pasien Disabilitas Terlantar di Jombang Akhirnya Ditangani Usai Viral di Pemberitaan

Keterlibatan RSUD yang terkesan reaktif ini memunculkan pertanyaan tentang fungsi pengawasan dan jaringan kesehatan publik daerah dalam menjangkau warganya yang paling rentan.

27 Nov 2025 - 14:30
Pasien Disabilitas Terlantar di Jombang Akhirnya Ditangani Usai Viral di Pemberitaan
Tim Medis RSUD Jombang melakukan pemeriksaan kondisi pemuda disabilitas yang alami kelumpuhan. (Fredi/SJP)

JOMBANG, SJP– Kasus pilu yang menimpa Mohamad Arifin (34), warga disabilitas asal Jombang, akhirnya mendapat perhatian dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang, namun respons tersebut datang hanya berselang sehari setelah kisah keterlantarannya diangkat oleh sejumlah media massa. 

Keterlibatan RSUD yang terkesan reaktif ini memunculkan pertanyaan tentang fungsi pengawasan dan jaringan kesehatan publik daerah dalam menjangkau warganya yang paling rentan.

Arifin, warga Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, yang menderita disabilitas sejak lahir, dilaporkan terkulai lemah di tempat tidur selama setahun terakhir setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. 

Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, Arifin sempat terlantar hingga akhirnya dirawat oleh kakak iparnya, Elik Narodo (39), sejak September 2025.

Tim dari RSUD Jombang mendatangi rumah dimana tempat Arifin dirawat oleh keluarganya, yakni di Dusun Menganto, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, pada Kamis (27/11/2025) untuk melakukan observasi dan pemeriksaan fisik.

Pelaksana tugas (Plt) Kasi Perawatan RSUD Jombang, Seputro Edhy, mengakui bahwa langkah tracking pasien ini dilakukan atas perintah langsung dari Direktur RSUD Jombang, Pudji Umbaran, setelah berita mengenai Arifin tersiar luas.

"Kita lihat kebutuhannya apa dari sisi kesehatan. Setelah mendapat kabar berita, kami langsung mendapat perintah dari direktur untuk melakukan tracking pasien Mas Arifin," ujar Seputro Edhy kepada wartawan.

Pemeriksaan awal RSUD menunjukkan tensi dan tanda-tanda kesehatan Arifin dalam batas normal, dan ia masih menunjukkan keinginan untuk makan dan minum, meskipun harus dibantu. 

Namun, fokus perhatian tim kesehatan kini tertuju pada kondisi kedua kakinya yang kaku.

"Kondisi yang patut menjadi perhatian adalah dari sisi kebutuhan aktivitas yang memang perlu penanganan karena kedua kakinya kaku. Karena lama tidak digerakkan dan dilatih sehingga hal itu prioritas penanganan dari segi kesehatan," beber Edhy.

Ironisnya, setelah masa penelantaran yang cukup lama, tim medis RSUD Jombang mengaku belum dapat memberikan diagnosis definitif terhadap kondisi Arifin. 

Mereka hanya menekankan perlunya penanganan segera berupa terapi untuk mencegah kekakuan bertambah parah dan menghindari luka baring (decubitus) pada punggung dan pantat pasien.

Kondisi Arifin yang kini hanya bisa terbaring lemah, tidak mampu bergerak, dan kesulitan merespons percakapan, ditambah kondisi mata yang terus bergerak tanpa kendali, menjadi gambaran kegagalan sistem pengawasan kesehatan di tingkat desa hingga kabupaten. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow