Nilai TKA Anjlok, Akademisi UNAIR Soroti Krisis Makna Belajar hingga Distraksi Digital
Nilai TKA 2025 anjlok, akademisi UNAIR menilai siswa kehilangan makna belajar dan tergerus distraksi digital, mencerminkan krisis serius kualitas pembelajaran di sekolah.
SURABAYA, SJP - Hasil terbaru Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA dan SMK yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan capaian yang mengkhawatirkan. Hasil TKA yang di bawah standar ini menunjukkan rendahnya kualitas belajar di Indonesia.
Data Kemendikdasmen, pada TKA 2025, nilai rata-rata siswa SMA untuk Bahasa Indonesia tercatat 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris hanya 26,71. Sementara itu, siswa SMK mencatat rata-rata Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,55.
Data tersebut menegaskan lemahnya capaian numerasi dan literasi bahasa asing siswa Indonesia, sekaligus memicu keprihatinan kalangan akademisi, bahkan data tersebut juga memicu diskusi publik tentang kualitas belajar mengajar di Indonesia beberapa tahun terakhir.
Menanggapi perihal tersebut, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Tuti Budirahayu, menilai rendahnya nilai TKA tidak bisa dilepaskan dari cara siswa memandang ujian itu sendiri.
Menurutnya, TKA belum dianggap sebagai ujian yang menentukan masa depan siswa, berbeda dengan Ujian Nasional (UN) maupun jalur seleksi masuk perguruan tinggi seperti SNBP yang selama ini memberi tekanan psikologis kuat.
"Dua jenis ujian tersebut dikenal sangat efektif membuat siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik untuk menyaring siswa-siswa yang berprestasi," ungkap Prof. Tuti, Minggu (4/1/2026).
Lebih jauh, Prof Tuti menjelaskan bahwa lemahnya capaian TKA juga dipengaruhi kuatnya arus distraksi digital yang membentuk perilaku belajar generasi saat ini. Paparan media sosial dan gim membuat siswa terbiasa dengan pola instan, sehingga berdampak pada menurunnya ketekunan dan kemampuan berpikir mendalam.
"Siswa SMA saat ini telah mengalami distraksi digital melalui paparan gawai, baik dalam bentuk tayangan di media sosial seperti IG dan TikTok atau game, yang melemahkan daya kritis dan konsentrasi jangka panjang," ujarnya.
Menurut Prof Tuti, TKA sejatinya dapat dibaca sebagai cermin kualitas pembelajaran di sekolah. Jika capaian siswa rendah secara merata, maka persoalan utamanya terletak pada metode dan orientasi pembelajaran yang belum sepenuhnya mampu membangun pemahaman konsep dan penalaran tingkat tinggi.
"Jika ini yang terjadi maka harus ada upaya reformasi pendidikan besar-besaran. Metode pembelajaran tidak lagi bertumpu pada hafalan, tetapi harus menekankan penalaran dan berpikir tingkat tinggi," ucap Prof. Tuti.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Prof. Tuti menekankan pentingnya mengembalikan makna belajar kepada siswa. Pembelajaran perlu dikaitkan dengan realitas kehidupan dan tantangan dunia kerja agar siswa memahami relevansi materi yang dipelajari.
Selain itu, literasi digital kritis harus diperkuat agar teknologi menjadi alat pendukung belajar, bukan malah menjadi distraksi atau sumber gangguan.
Reformasi pendidikan, lanjut Prof. Tuti, juga harus menyentuh peningkatan kualitas guru serta upaya mengurangi kesenjangan pendidikan antardaerah dan antarsekolah. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia pendidik menjadi kunci utama dalam memperbaiki capaian akademik siswa secara berkelanjutan.
“Menata ulang kualitas guru-guru sebagai SDM utama serta meminimalisir ketimpangan pendidikan antarwilayah dan antarsekolah adalah langkah yang tidak bisa ditawar," tutur Prof. Tuti.
Prof. Tuti menegaskan perlunya sinergi yang lebih kuat antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah. Pendampingan akademik dan psikologis melalui program mentoring dan konseling dinilai penting untuk membantu siswa berkembang secara utuh, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga emosional.
“Kerja sama semua pihak akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh," pungkasnya. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

