Menjawab Tantangan Perkopian di Indonesia, Wapres Gibran: Petani Harus Menjaga Kualitas

Pemerintah, menurut Wapres, akan terus mengawal penyediaan benih unggul, alat-alat modern dan ketersediaan pupuk yang mudah dijangkau demi meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

24 Jun 2025 - 18:22
Menjawab Tantangan Perkopian di Indonesia, Wapres Gibran: Petani Harus Menjaga Kualitas
Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka saatikut menyortir kopi arabika di kebun Kalisat Kecamatan Ijen Bondowoso (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka datang ke Kabupaten Bondowoso untuk meninjau proses panen kopi di kebun Kalisat, Desa Kalisat Kecamatan Ijen, yang merupakan kawasan Perkebunan Java Coffee Estate milik PTPN III, pada Selasa (24/6/2025).

Kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Asta Cita Prabowo-Gibran, khususnya dalam pilar penguatan UMKM dan peningkatan daya saing produk lokal di pasar global. 

Selain itu, kegiatan ini merupakan penegasan dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan sektor perkebunan, khususnya kopi sebagai komoditas unggulan Indonesia di pasar dunia.

“Saya kira kopi kita sudah mendunia. Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat di dunia. Tugas kita sekarang adalah menjaga kualitas dan memastikan kuantitasnya mencukupi kebutuhan pasar global,” tegas Wapres kepada wartawan.

Gibran juga menekankan pentingnya peran petani dalam menjaga mutu kopi nasional. Pemerintah, menurut Wapres, akan terus mengawal penyediaan benih unggul, alat-alat modern dan ketersediaan pupuk yang mudah dijangkau demi meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Permintaan dunia terhadap kopi terus meningkat. Nilai kopi akan berkali lipat jika dilakukan hilirsasi dan branding. Kualitas saja tidak cukup. Nama besar Indonesia harus melekat pada produk turunan kopi dan cita rasa kopi specialty kita,” ucapnya.

Tantangan Sektor Perkopian di Indonesia

Direktur Utama Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, Jatmiko Krisna Santosa, menyampaikan, tantangan utama pengembangan kopi saat ini bukan sekadar perluasan pasar, namun peningkatan produktivitas petani.

“Saat ini produktivitas petani masih di kisaran 180–300 kilogram per hektare. Target kita dalam waktu tujuh tahun bisa mencapai dua ton per hektare,” ungkapnya.

PTPN saat ini tengah mengembangkan pendekatan intensifikasi dan budidaya berstandar internasional kepada sekitar 10.000 petani. Upaya ini termasuk pemangkasan yang teratur, pemupukan disiplin, hingga edukasi soal proses pengolahan kopi.

Jatmiko menjelaskan, sebagian besar petani saat ini hanya menjual cherry (biji kopi mentah) ke tengkulak dengan harga Rp15.000/kg. Padahal jika diolah menjadi green bean berkualitas ekspor, nilai jualnya bisa mencapai Rp160.000 per Kg. 

Untuk itu, PTPN telah menyiapkan satu pabrik pengolahan kopi rakyat, agar petani bisa memperoleh nilai tambah yang lebih besar.

“Dengan memproses biji kopi di pabrik kami, kualitas rasa meningkat karena melalui proses fermentasi yang optimal. Tastenya bisa berbeda dan memenuhi standar cup of Java yang dicari pembeli global,” jelasnya.

Saat ini, dari total luas 15.600 hektare kebun, area panen di Kabupaten Bondowoso mencakup 10 hektare, dengan hasil panen rata-rata 3 kg per pohon. Mayoritas petani yang hadir adalah buruh harian yang menerima upah Rp2.000 per kilogram kopi yang dipetik, dengan rata-rata kapasitas panen 60–100 kilogram per hari.

Kawasan Ijen memiliki hamparan perkebunan kopi sekira 15.600 hektare, yang terdiri dari lahan milik PTPN dan sekira 10.600 hektare lahan Perhutani yang dikelola oleh petani rakyat. 

Salah satu ikon dari kawasan ini adalah Java Coffee, kopi arabika unggulan yang sudah diekspor ke berbagai negara dan dikenal luas secara historis di pasar global.

Dengan dukungan program pemerintah, kawasan Ijen diharapkan dapat menjadi sentra kopi berkelas dunia, sekaligus lokomotif pertumbuhan ekonomi rakyat di pedesaan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow