Kisah Yaning: Dari Benci Hingga Menjadi Sosok Guru Bagi Warga Kampung Songo.

Yaning Mustikaningrum tetap mengabdi sebagai ketua Kampung Eduwisata Oase Songo meski sudah bukan lagi sebagai pengajar

25 Nov 2023 - 14:30
Kisah Yaning: Dari Benci Hingga Menjadi Sosok Guru Bagi Warga Kampung Songo.
Potret Yaning, Ketua Kampung Oase Songo di kediamannya (Ryan/SJP)

Surabaya, SJP - Peringatan hari Guru jatuh pada 25 November.

Jutaan guru di Indonesia tentu miliki kisah dan cerita mereka masing-masing selama menjadi pengajar.

Yaning Mustikaningrum, ketua Kampung Eduwisata Oase Songo ternyata dulunya juga merupakan seorang Guru Sekolah Dasar (SD). 

Ia baru saja menutup bab pembelajarannya pada Desember 2022 lalu.

Sabtu siang, bertepatan dengan Hari Guru Nasional, tim Suarajatimpost datang ke kediaman Yaning untuk mengenal lebih jauh pribadi beliau selain sebagai penggiat lingkungan yang melahirkan Kampung Edukasi Wisata Oase Songo.

Saat baru saja masuk ke halaman rumahnya saja, tim Suarajatimpost disambut dengan puluhan tanaman gantung yang menghiasi berbagai sisi rumahnya. 

Yaning langsung ajak kami ke area pusat Kampung Eduwisata Oase Songo.

Kami melihat semacam bilik yang sangat nyaman untuk tempat ngobrol santai dimana ia mulai berbagi kisah.

"Dulunya mas, saya itu Sekolah Guru di Pacitan. Sekarang namanya SMK dulu SPG dan itu bukan cita-cita saya karena saya merasa tidak punya jiwa tersebut. Sampai-sampai saya mengidap sakit maag selama sekolah disitu," ucap Yaning mengawali kisah panjangnya menjadi seorang pengajar.

Yaning, dengan tawa, mengingat kejadian tersebut. 

Ia ceritakan bahwa ia dibawa ke dokter dan dinyatakan mengalami stres. 

Bahkan, ia sempat ditawari untuk keluar namun ia tolak karena merasa sudah terlanjur.

"Jadi Ibu saya itu juga guru dan ingin anaknya yang perempuan untuk jadi guru juga. Pertimbangannya karena waktu kerja yang lebih singkat agar nanti tetap bisa mengurus keluarga, anak dulu mana berani melawan," jelasnya.

Yaning akhirnya lulus ditahun 1982 dan mulai bekerja di pabrik pembuatan mie.

Tetapi, pamannya tidak tega dan mengajaknya ikut ke daerah Sepanjang di Surabaya saat Yaning bekerja menjadi guru honorer di tahun 1983.

"Zaman dulu itu Golkar masih jaya, dan guru boleh masuk ke dunia politik. Saya aktif ikut berbagai kegiatan dan organisasi sampai mendapat hadiah menjadi PNS di tahun 1988 untuk mengajar di SD Raden Shaleh 1 yang sekarang menjadi SMPN 43 Surabaya," terang beliau.

Selama 19 tahun mengajar, jiwa Yaning yang awalnya benci menjadi suka mengajar setelah melihat keberhasilannya bentuk adab dan karakter dari murid-murid yang dirinya didik.

"SD itu pondasi, lebih banyak mendidik (adab) letimbang mengajar (keilmuan) dan itu perlu ilmu khusus terutama dalam hal karakter. Saya memiliki pedoman yakni 'Otak boleh Inggris, Iman Arab, tapi adabmu harus Indonesia," terang Yaning.

Setelah sempat berpindah-pindah tempat mengajar, Yaning terpikirkan untuk mengubah Kampung Songo juga menjadi lebih baik dan berkarakter awal tahun 2013.

"Saya sempat menawarkam ke Bu RT dulu untuk menghias Kampung Songo jadi lebih bagus, ternyata ditolak. Saat pemilihan RT berikutnya saya ditawari untuk maju dan ternyata terpilih," ujarnya.

"Ibarat orang dendam mas, dalam hati saya bilang delok en yo (lihat saja ya), akan saya buat Kampung ini lebih bagus," ucap Yaning dengan nada kesal namun bercanda.

Akhirnya sejak tahun 2013, Yaning tidak hanya menjadi guru anak-anak namun juga sosok guru di Kampung Oase Songo.

Dirinya mulai mengedukasi warga mengenai pentingnya jaga lingkungan.

"Tujuannya sederhana kok, cukup merubah yang kotor jadi bersih dan yang gersang jadi hijau. Selama 10 tahun berdarah-darah akhirnya sekarang Kampung ini sudah bisa menjadi Kampung Eduwisata," terang Yaning dengan bangga.

Yaning sebutkan bahwa dirinya memiliki sebutan sebagai "petarung".

Artinya, meski ide ini awalnya ditolak oleh banyak warga namun dirinya tetap tegak lurus untuk terus jalankan apa yang sudah dirinya rencanakan.

"Banyak yang tanya ke saya, engga capek ta Bu Yaning? Jujur capek, tetapi hasil dari usaha saya ini membayar itu semua. Karena pikir saya, aaya harus tetap bisa menginspirasi orang lain meski nanti saya pensiun menjadi guru," ungkapnya.

Kampung Oase Songo sendiri sudah resmi menjadi kampung yang digunakan sebagai pusat belajar terutama di sektor urban farming.

Berbagai program seperti budidaya maggot, tanaman obat, pengolahan sampah plastik hingga hidroponik juga hadir di Kampung Oase Songo.

"Jadi Desember 2022 lalu itu cuma profesi saya yang berakhir, namun semangat saya untuk terus memberikan apa yang saya miliki akan terus ada,"katanya. 

Yaning berpesan kepada teman-teman guru lainnya untuk tidak hanya mengajar ilmu namun juga mendidik adab di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

"Jangan juga merasa tidak berguna saat sudah pensiun seperti saya. Gerak terus, bagikan kemampuan dan pengetahuan yang kalian punya. Tetaplah berguna bagi lingkungan dimanapun anda tinggal. Selamat Hari Guru." tandasnya. (*)

editor: trisukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow