Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Batu Menurun Dibanding Tahun Lalu
Penurunan jumlah kasus ini diharapkan agar tidak sampai membuat lengah dan justru harus menjadi motivasi bersama untuk terus menekan angka kekerasan, baik melalui sosialisasi, pendampingan, maupun penguatan peran keluarga.
KOTA BATU, SJP – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Batu tercatat mengalami penurunan pada tahun 2025. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu mencatat, sejak Januari hingga Agustus 2025 terdapat 14 kasus, jauh lebih rendah dibandingkan total 41 kasus sepanjang tahun 2024.
Kepala DP3AP2KB Kota Batu Ririck Mashuri pada Sabtu (13/9/2025) menyebutkan bahwa penurunan ini tidak lepas dari semakin masifnya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan di berbagai lini masyarakat.
“Kasus tahun ini lebih sedikit jika dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, masyarakat mulai berani melapor dan juga semakin paham soal pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak,” ungkapnya.
Dari total kasus tersebut, lima di antaranya menimpa anak-anak, sementara sisanya melibatkan perempuan dewasa dimana sebagian besar pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban. Atau ketika korbannya adalah perempuan dewasa kebanyakan dilakukan oleh suami, sedangkan anak lebih sering terkait bullying atau dilakukan oleh teman sekolah.
Ia menambahkan, penurunan kasus tidak berarti Kota Batu terbebas dari ancaman kekerasan. Justru hal itu menjadi pengingat agar semua pihak tetap waspada dan menjaga lingkungan sosial terdekat.
"Pola asuh keluarga yang tepat dan keterlibatan anak sebagai agen perubahan menjadi kunci penting. Anak harus kita dorong untuk berani bicara, berani melapor bila melihat pelanggaran hak-hak anak,” tambahnya.
DP3AP2KB Kota Batu memastikan akan terus melakukan pendampingan hukum bagi korban yang melaporkan kasus ke pihak kepolisian.
Ririck menegaskan, keberanian masyarakat melapor harus diapresiasi karena dapat membantu memutus rantai kekerasan yang kerap dianggap tabu. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

