Jodoh di Tangan Siapa?

Penulis: Ali Wafa*

29 Aug 2020 - 19:13
Jodoh di Tangan Siapa?
Ali Wafa (Dokumen/SJP)

SEBAGAIMANA diterangkan dalam Kitab Suci Al-Qur'an: setiap sesuatu di muka bumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Tidak hanya manusia, bahkan suatu entitas kecil pun diciptakan-Nya berpasang-pasangan. Contoh kecilnya saja: bunga dengan kumbang; bulan dengan bintang. Pasangan itulah yang kemudian disebut sebagai “jodoh”.

Namun apakah kita pernah menyadari bahwa terdapat kejanggalan dalam skema penentuan dan penetapan jodoh yang telah dibuat Tuhan? Bagaimana tidak, di sebagian besar diskursus serta kasus perjodohan yang terjadi, acap kali kuasa Tuhan terlihat statis dan monoton. Sebab, jika kita pelajari betul dari setiap kasus perjodohan yang ada, Tuhan menetapkan jodoh setiap orang cenderung berbasis tempat dan waktu.

Bahwa setiap manusia akan mendapatkan jodohnya bergantung pada wilayah “ekspansinya”. Jika wilayah ekspansinya hanya berkutat di suatu desa tertentu, maka besar kemungkinan dia akan menemukan jodohnya di desa tersebut. Jika wilayah ekspansinya hanya berkutat di suatu kabupaten, maka besar kemungkinan dia akan menemukan jodohnya di kabupaten tersebut, dan begitu pun seterusnya.

Termasuk jika wilayah ekspansi hidupnya hanya di kampus dan tempat kerja, maka besar kemungkinan kita menemukan jodoh dari salah satu mahasiswa kampus itu, atau salah satu dari rekan kerja kita. Menurut saya, kuasa Tuhan yang demikian, logis dan sangat mudah dianggap mungkin dengan logika telanjang.

Namun pekerjaan semacam itu terlalu mudah untuk level Tuhan. Sementara kita ketahui, Tuhan adalah maha segalanya. Tuhan tidak memiliki tabir kemustahilan antara dirinya dengan apa pun selain Dia. Kenapa jarang sekali kita menemukan Tuhan menjodohkan manusia dengan jarak teritorial yang jauh. Kenapa Dia “tidak dengan mudah” menjodohkan seseorang dengan orang lain yang terhalang oleh teritorial wilayah.

Adakah di tempatmu ditemukan warga desamu berpasangan dengan warga asal Jerman, Prancis, Amerika atau Rusia? Kenapa yang sering terjadi justru berjodoh dengan orang dekat yang hanya berbeda desa, kecamatan, kabupaten atau provinsi? Padahal tentu Tuhan bisa melakukannya dengan mudah tanpa merasa sulit dan terhambat.

Karena pendekatan itulah saya berkesimpulan: bahwa Tuhan tidak mau diri-Nya dianggap sebagai Tuhan gampangan yang dengan mudahnya memberikan keajaiban. Karena itu pula, saya berkesimpulan: bahwa Tuhan merupakan Pribadi yang sangat menghargai usaha dan menjunjung tinggi nilai proses. Tuhan menekankan takdirnya kepada aspek rasionalitas.

Maka jika kita ingat saat di pesantren dulu, kita pernah belajar Ilmu Hadis. Salah satu kitab hadis yang populer kita pelajari saat itu yaitu kitab “Hadis Arbain An-Nawawi”. Coba kita ingat kembali hadis keempat. Tuhan telah menetapkan empat hal dalam setiap kehidupan manusia. Bahkan sejak manusia berusia 120 hari dalam kandungan, Tuhan telah menetapkan ihwal kehidupan manusia, hingga titik akhir dari perjalanan hidup manusia.

Empat hal itu ialah: rezeki, ajal, amal dan kebahagiaan serta kesengsaraan. Hanya empat hal itu yang Tuhan gariskan untuk setiap umat manusia. Empat hal itu merupakan produk hak prerogatif Tuhan atau bisa dikatakan sebagai konsensus Tuhan dengan Dirinya sendiri yang tidak dapat dianulir atau bahkan direvisi oleh usaha umat manusia-Nya. Jika dirinci, kira-kira seperti berikut ini:

Rezeki, adalah produk hak prerogatif Tuhan yang tidak bisa kita campuri. Meski dengan usaha sekali pun. Yang dimaksud rezeki dalam hal ini bukan hanya tentang kuantitasnya, tetapi juga berkaitan dengan kualitas rezeki itu sendiri. Artinya, Tuhan telah menetapkan kadar dan standar rezeki setiap manusia sejak manusia berusia 120 hari dalam kandungan. Sehingga berusaha sekeras apa pun, jika kehendak Tuhan rezeki kita sekian, maka sekianlah rezeki kita.

Ajal, sama halnya dengan rezeki. Produk dari hak prerogatif Tuhan yang satu ini merupakan konsensus Tuhan yang paling tidak bisa ditentang. Kuasa-Nya tentang ajal manusia dan makhluk lainnya tidak bisa diintervensi menggunakan pola pendekatan apa pun. Jika Tuhan telah menetapkan ajal kita sekian, maka sekianlah ajal kita. Karena sekali lagi, ajal telah ditetapkan Tuhan sejak kita berusia 120 hari dalam kandungan.

Kemudian Amal. Tuhan telah menetapkan setiap amal manusia. Dalam hal ini, Tuhan membagi setiap amal manusia menjadi dua karakter: pertama, karakter surga; kedua, karakter neraka. Setiap manusia yang beramal dengan karakter surga atau sering melakukan kebajikan, maka dia akan ditempatkan di surga sebagaimana karakternya. Begitu pula setiap manusia pribadinya berkarakter neraka atau sering melakukan kebatilan, maka dia akan ditempatkan di neraka. Setiap amal manusia tidak akan lepas dari dua hal itu. Semuanya telah diatur oleh Allah. Kalau bukan karakter surga, ya karakter neraka.

Kemudian ketetapan Tuhan yang terakhir, yaitu suka dan duka, atau kebahagiaan dan kesengsaraan. Tuhan telah menetapkan setiap jalan hidup manusia. Apakah jalan hidup kita berakhir bahagia atau happy ending, atau justru berakhir menyedihkan atau sad ending? Semuanya telah tercantum dalam “buku saku” Tuhan. Dalam hal ini, setiap manusia tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah kita kupas tentang isi dari hadis keempat “Hadis Arbain An-Nawawi” di atas, apakah kalian menemukan jodoh sebagai salah satu ketetapan Tuhan? Tidak! Tuhan tidak menetapkan jodoh sebagai sebuah takdir yang tidak dapat diubah dengan usaha sekali pun. Itu artinya, Tuhan memberikan keleluasaan kepada setiap umat manusia untuk berkreasi dalam menentukan jodohnya masing-masing. Karena dalam hal ini, Tuhan sangat menghargai usaha dan menjunjung tinggi nilai proses. Itulah sebabnya, kenapa Tuhan menyusun skema penetapan jodoh berbasis tempat dan waktu dan menekankannya pada rasionalitas.

Hal itu secara tidak langsung menganulir anggapan kebanyakan orang yang menyebut jodoh adalah ketetapan Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat dan tidak bisa diupayakan untuk berubah. Bahkan sebagian orang ada yang berkeyakinan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Biasanya ungkapan yang familier kita dengar yaitu “Kalau memang jodoh tidak akan ke mana.” Anggapan itu menurut saya perlu untuk diluruskan. Mengapa? Karena persoalan jodoh tidak semenakutkan itu.

Kaitannya jodoh dengan usaha sangat erat. Bahkan bisa dibilang, jodoh tidak mungkin bisa didapatkan tanpa adanya usaha. Artinya, jika kita menginginkan seseorang agar berjodoh dengan kita, maka kita perlu berusaha agar keinginan kita terwujud. Setidaknya, usaha yang bisa kita lakukan yaitu dengan mengenalnya. Sebaliknya, jika kita ingin berjodoh dengan seseorang yang kita sayangi, namun kita enggan berusaha meski hanya sekadar mendekatinya, maka jangan menyesal jika orang yang kita sayangi itu menjadi milik orang lain. Karena jodoh dengan usaha erat sekali kaitannya.

Artinya, jika kita menyukai seseorang, maka untuk mendapatkannya perlu berusaha. Tidak cukup hanya dengan berdoa dan bermimpi sepelaminan dengannya. Karena jodoh tidak ditetapkan Tuhan sebagai suatu ketetapan yang ekstrem sebagaimana rezeki, ajal dan amal. Perlu sentuhan tangan manusia itu sendiri untuk mewujudkannya.

Itulah sebabnya, kenapa skema penetapan jodoh oleh Tuhan diatur berbasis tempat dan waktu dan ditekankan pada rasionalitas. Tujuannya agar setiap manusia berusaha dalam memilih dan menetapkan jodohnya. Hal itu juga yang menjadi alasan, kenapa setiap manusia mendapatkan jodohnya tidak jauh dari wilayah ekspansinya. Bukan hal yang mustahil bagi Tuhan untuk menjodohkan orang pelosok desa yang tidak pernah keluar rumah dengan orang Prancis yang juga tidak pernah keluar rumah. Tapi karena Tuhan menghargai usaha dan menjunjung tinggi nilai proses, maka Dia tidak melakukannya.

Di akhir pekan ini, saya mendoakan semoga kalian yang telah mendapatkan pasangan dapat diberikan keharmonisan dan keberlangsungan. Untuk kalian yang belum mendapatkan pasangan, semoga bisa segera mendapatkannya, sesuai dengan keinginan dan kriteria masing-masing. Tapi jangan kebanyakan halu, sambil ‘ngaca’ juga, hehe. Selamat berakhir pekan!

*Penulis: Seorang jomblo sejati yang tidak menghendaki kejombloannya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow