Harga Kedelai Impor Naik, Produsen Tahu di Tulungagung Kecilkan Ukuran demi Pertahankan Harga

Harga kedelai impor masih berpotensi mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Karena itu, para perajin tahu terus memantau perkembangan harga bahan baku agar dapat menentukan langkah yang tepat untuk mempertahankan usahanya.

07 Jun 2026 - 16:48
Harga Kedelai Impor Naik, Produsen Tahu di Tulungagung Kecilkan Ukuran demi Pertahankan Harga
Pembuat tahu tengah memotong tahu dengan ukuran lebih kecil mensiasati kenaikan harga bahan baku. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Dalam kurun waktu sekitar empat bulan terakhir, harga kedelai impor terus mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut diduga dipicu oleh pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang membuat harga komoditas impor semakin mahal.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada naiknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tahu. Kondisi ini dirasakan para perajin tahu di Kabupaten Tulungagung yang harus mencari cara agar usahanya tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi.

Salah satu produsen tahu di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Kuswoyo, mengatakan saat ini harga kedelai impor mencapai Rp10.800 per kilogram. Angka tersebut naik dibandingkan harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp9.500 hingga Rp10.000 per kilogram.

"Harga kedelai sekarang Rp10.800 per kilogram. Sebelumnya hanya sekitar Rp9.500 sampai Rp10.000 per kilogram," ujar Kuswoyo saat ditemui di lokasi produksinya, Minggu (7/6/2026).

Menurut Kuswoyo, tren kenaikan harga kedelai sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun, lonjakan yang paling terasa terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan beriringan dengan menguatnya dolar Amerika Serikat.

"Kalau naiknya yang dari Rp9.000 sampai di atas Rp10.000 itu sekitar empat bulanan. Ketika dolar naik juga ikut naik," katanya.

Kenaikan harga bahan baku tersebut memaksa para produsen tahu memutar otak agar tidak kehilangan pelanggan. Alih-alih menaikkan harga jual, Kuswoyo memilih memperkecil ukuran tahu yang diproduksinya. Dengan cara itu, harga jual kepada konsumen tetap bisa dipertahankan di angka Rp1.000 per potong.

Perubahan ukuran dilakukan dengan menambah jumlah potongan tahu dalam setiap loyang produksi. Jika sebelumnya satu loyang diiris menjadi 150 potong, kini jumlahnya menjadi 160 potong.

"Ukuran tahu kami perkecil. Dulu satu kotak bisa jadi 150 biji, sekarang menjadi 160 biji. Jadi ada tambahan sekitar 10 biji," ungkapnya.

Selain harus menyesuaikan ukuran produk, Kuswoyo juga mengaku mengalami penurunan penjualan. Konsumen mulai mengeluhkan kondisi ekonomi yang membuat daya beli menurun, sehingga permintaan tidak setinggi sebelumnya.

"Penjualan agak menurun. Biasanya bisa jual empat jurigen, sekarang hanya tiga jurigen. Konsumen juga banyak yang mengeluh," tuturnya.

Meski demikian, aktivitas produksi masih berjalan normal. Dalam sehari, Kuswoyo menghabiskan sekitar 1,5 hingga 2 kuintal kedelai untuk memenuhi kebutuhan produksi tahu yang dipasarkan ke sejumlah wilayah di Tulungagung, seperti Campurdarat, Ngentrong, Besole, hingga beberapa pasar tradisional dan desa-desa sekitar.

"Kalau produksi sehari sekitar satu setengah sampai dua kuintal kedelai. Penjualannya masih relatif stabil dan dipasarkan ke Campurdarat, Ngentrong, Besole, serta beberapa pasar," jelasnya.

Kuswoyo menambahkan, berdasarkan informasi dari pemasok langganannya, harga kedelai impor masih berpotensi mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Karena itu, para perajin tahu terus memantau perkembangan harga bahan baku agar dapat menentukan langkah yang tepat untuk mempertahankan usahanya.

Hingga kini, sebagian besar produsen tahu masih memilih menggunakan kedelai impor dibandingkan kedelai lokal. Selain ketersediaannya lebih terjamin, tahu yang dihasilkan dari kedelai impor dinilai memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan tahu yang dibuat dari kedelai lokal.

"Kalau kedelai lokal sebenarnya bisa digunakan, tetapi kebanyakan perajin memilih kedelai impor karena tahu yang dihasilkan lebih tahan lama," pungkas Kuswoyo. (*)

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow