Gerakan 'Ayo Mondok' Kembali Digelorakan di Malang sebagai Benteng Karakter Bangsa

Langkah strategis ini bertujuan memosisikan pondok pesantren bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan agama, melainkan solusi fundamental atas krisis akhlak yang menghantam generasi muda saat ini.

30 Dec 2025 - 10:30
Gerakan 'Ayo Mondok' Kembali Digelorakan di Malang sebagai Benteng Karakter Bangsa
Ratusan santri Pondok Pesantren Agama Islam (PPAI) Salafiyah Darun Najah. (Foto : Istimewa)

MALANG, SJP — Di tengah gempuran modernisasi dan ancaman degradasi moral yang kian nyata, gerakan nasional 'Ayo Mondok' kembali diperkuat. 

Langkah strategis ini bertujuan memosisikan pondok pesantren bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan agama, melainkan solusi fundamental atas krisis akhlak yang menghantam generasi muda saat ini.

Pentingnya penguatan narasi ini ditegaskan oleh Masyfu' Zuhdi, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren (PP) PPAI Salafiyah Darun Najah, Karangploso, Kabupaten Malang. 

Dalam keterangannya belum lama ini, ulama yang karib disapa Gus Masyfu' tersebut menekankan bahwa pesantren memiliki legitimasi historis sebagai pilar pendidikan tertua dan orisinal di Indonesia.

Gus Masyfu' menjelaskan bahwa jauh sebelum sistem pendidikan formal Barat masuk, pesantren telah menjadi pusat perjuangan dan pembentukan peradaban bangsa.

"Pendidikan pesantren adalah sistem pendidikan tertua di Indonesia. Sebelum kemerdekaan, pesantren telah menjadi kawah candradimuka bagi pusat pendidikan, perjuangan, hingga pembentukan karakter bangsa," ungkapnya saat ditemui di kediamannya di Desa Ngijo.

Saat ini, PPAI Salafiyah Darun Najah menampung sekitar 1.500 santri yang berasal dari berbagai penjuru tanah air. 

Angka tersebut menjadi bukti otentik bahwa di tengah perubahan zaman, kepercayaan masyarakat (public trust) terhadap institusi pesantren tetap tinggi dan relevan.

Namun, Gus Masyfu' tidak menampik adanya tantangan besar berupa persepsi keliru yang kerap mendiskreditkan institusi pesantren. 

Ia menyoroti tajam pemberitaan yang dinilai tidak proporsional terhadap kasus-kasus insidental yang terjadi di lingkungan pesantren.

Ia menyayangkan adanya kecenderungan generalisasi terhadap masalah kecil sehingga mengaburkan kontribusi besar pesantren secara keseluruhan.

"Sejumlah kasus tertentu sering dibesar-besarkan, padahal sifatnya sangat kasuistik dan jumlahnya tidak signifikan dibandingkan total ribuan pesantren di Indonesia. Ini tidak mewakili wajah pesantren yang sebenarnya," tegasnya.

Melalui kampanye 'Ayo Mondok', kalangan pesantren berupaya merebut kembali narasi positif sekaligus meluruskan stigma negatif. 

Di PPAI Salafiyah Darun Najah sendiri, semangat ini diimplementasikan melalui sistem pendidikan terpadu. Santri tidak hanya dibekali kajian kitab klasik dan Al-Qur’an, tetapi juga dipersenjatai dengan penguasaan bahasa asing, sains, serta teknologi.

Upaya ini dipandang sebagai langkah konkret untuk mencetak generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

"Kami tidak hanya mencetak santri yang paham agama secara tekstual, tetapi juga generasi yang memiliki kesiapan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa tanpa kehilangan jati diri," pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow